• Kamis, 1 Oktober 2026
Hot Issue

Cerita Eksplorasi Serangga Penyerbuk Tanzania Ke Indonesia

Konsorsium Elaeidobius (serangga penyerbuk) Indonesia mengintroduksi indukan tiga spesies untuk mendukung produktivitas sawit. Ketiga spesies tersebut adalah Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius subvittatus, dan Elaedobius plagiatus.

“Tanggal 4 April, saya bersama serangga penyerbuk akan sampai di Indonesia, pak. Sekarang kami mengurus proses perizinan,” ujar Agus Eko Prasetyo melalui aplikasi WhatsApp melalui gadget pada 3 April 2025. Sekitar tiga bulan lamanya, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit ini berada di Tanzania.

Agus Eko Prasetyo adalah Ketua Ketua Tim Teknis Penelitian Introduksi Elaeidobius. Tak sendiri, ia bersama Van Basten Tambunan, anggota Tim Teknis Kegiatan Penelitian Serangga Penyerbuk.

Di Jakarta, Dr. Dwi Asmono, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Inonesia) menjelaskan bahwa proses introduksi telah dirancang semenjak Agustus 2024. Selanjutnya dibentuklah Konsorsium Elaeidobius yang melibatkan berbagai pihak (multi stakeholder).

“Jadi tidak hanya perusahaan sawit, adapula unsur Kementerian Pertanian (Ditjenbun), Badan Karantina Indonesia, BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan), PT Riset Perkebunan Nusantara, dan asosiasi keilmuan lain seperti Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia (PIPPSI) dan Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI),” ujar Dwi Asmono.

Selain Tanzania, konsorsium juga menjajaki introduksi serangga penyerbuk dengan sejumlah negara di Afrika Barat dan Tengah antara lain Nigeria, Kamerun, dan Benin. Proses penjajakan melalui studi pustaka dan komunikasi secara langsung.

Lalu kenapa Tanzania menjadi pilihan? Dwi Asmono menjelaskan Tanzania dipilih karena memiliki kepentingan untuk mengembangkan perkebunan sawit mereka juga. Selain itu, konsorsium juga melakuan kajian pustaka terkait serangga penyerbuk di Tanzania.

“Kompensasi dari eksplorasi ini, konsorsium memberi dukungan pendanaan kepada peneliti Tanzania Agricultural Research Institute (TARI) untuk kuliah dan training di Indonesia. Di sisi lain, Pihak Tanzania juga ada kebutuhan pengembangan sawitnya. Memang dari setiap eksplorasi, pasti ada kompensasi yang kita berikan,” ujar Dwi Asmono.

Konsorsium lalu memberangkatkan Agus Eko Prasetyo dan Van Basten Tambunan berperan penting melakukan observasi dan eksplorasi spesies Elaeidobius di Tanzania sebelum diintroduksi ke Indonesia. Pada 4 Januari 2025, mereka tiba di Bandar Udara Internasional Julius Nyerere, Kota Dar Es Salaam, Tanzania.Setelah itu, keduanya menujuTanzania Agricultural Research Institute (TARI) sebagai mitra kegiatan introduksi tersebut.

“Sebelum tiba di Tanzania, tim sudah melakukan studi literatur mengenai spesies Elaeidobius. Awalnya, ada lima spesies yang potensial diintroduksi,” urai Agus yang menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Gajah Mada Jurusan Hama Penyakit Tanaman.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 162)

Artikel Terkait