• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Ditargetkan Mulai Beroperasi Pada 1 Januari 2027

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Rencana pemerintah membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 mendapat perhatian dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Pelaku industri sawit menilai pembentukan bursa baru pada dasarnya bukan persoalan, tetapi pemerintah perlu mempertimbangkan efektivitas transaksi, likuiditas pasar, karakteristik setiap komoditas, serta daya saing harga komoditas Indonesia.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, perdagangan komoditas sawit di Indonesia saat ini telah difasilitasi oleh Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX). Menurutnya, pemerintah dapat membentuk bursa baru maupun memperkuat infrastruktur bursa komoditas yang sudah berjalan.

“Untuk bursa sawit sudah ada di Indonesia yaitu ICDX, jadi tidak ada masalah apabila ada dibentuk bursa baru lagi atau diperkuat yang sudah ada,” ujar Eddy kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).

GAPKI Soroti Likuiditas Bursa Sawit Indonesia

Meskipun perdagangan sawit telah difasilitasi melalui bursa komoditas domestik, GAPKI mengakui bahwa volume transaksi sawit di bursa Indonesia masih relatif kecil.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan pemerintah dalam membangun bursa komoditas nasional yang lebih kuat. Menurut Eddy, keberadaan bursa tidak hanya ditentukan oleh tersedianya infrastruktur perdagangan, tetapi juga oleh kemampuan bursa tersebut menciptakan likuiditas dan transaksi yang cukup.

Likuiditas menjadi penting karena semakin aktif transaksi suatu komoditas, semakin kuat pula proses pembentukan harga yang dihasilkan dari mekanisme pasar.

Karena itu, pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis diharapkan tidak hanya menambah institusi baru, tetapi benar-benar mampu meningkatkan aktivitas perdagangan komoditas strategis Indonesia.

Harga CPO Indonesia Masih Mengacu pada Bursa Malaysia

GAPKI juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yakni mekanisme pembentukan harga minyak sawit Indonesia.

Menurut Eddy Martono, harga minyak sawit Indonesia saat ini masih sangat dipengaruhi oleh transaksi di bursa Malaysia.

“Untuk minyak sawit Indonesia yang menentukan harga, hanya transaksi bursanya di Malaysia,” kata Eddy.

Hal tersebut menjadi perhatian karena Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Dengan posisi tersebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat perannya dalam pembentukan harga CPO di pasar internasional.

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pasar domestik yang memiliki likuiditas tinggi, transparan, efisien, dan mampu mencerminkan kondisi fundamental industri sawit Indonesia.

Daya Saing Harga CPO Indonesia Harus Tetap Dijaga

GAPKI mengingatkan pemerintah agar kebijakan pembentukan bursa dan mekanisme harga baru tidak justru membuat harga CPO Indonesia menjadi kurang kompetitif di pasar global.

Sebagai negara produsen dan eksportir utama, Indonesia menghadapi persaingan dari negara produsen lain sekaligus persaingan dengan berbagai jenis minyak nabati.

Eddy menilai pembeli memiliki pilihan untuk beralih kepada negara produsen lain atau menggunakan minyak nabati alternatif apabila harga minyak sawit Indonesia menjadi terlalu mahal atau tidak kompetitif.

“Karena kita produsen dan eksportir terbesar di dunia, daya saing kita berkurang apabila terlalu banyak kebijakan yang menyebabkan harga menjadi tidak kompetitif. Pembeli bisa mencari alternatif lain,” jelas Eddy.

Karena itu, kebijakan perdagangan CPO dan mekanisme pembentukan harga perlu dirancang dengan mempertimbangkan daya saing industri sawit nasional.

GAPKI Nilai Harga Sawit Saat Ini Sudah Transparan

Pemerintah sebelumnya mendorong pembentukan Indonesia Reference Price atau harga acuan nasional untuk sejumlah komoditas strategis Indonesia.

Namun, dari perspektif industri sawit, GAPKI menilai mekanisme pembentukan harga CPO saat ini pada dasarnya sudah memiliki tingkat transparansi yang cukup.

“Saat ini pun harga sudah transparan,” tegas Eddy.

Menurut GAPKI, tantangannya bukan semata-mata membuat mekanisme harga baru, tetapi memastikan mekanisme tersebut mampu meningkatkan posisi Indonesia dalam pembentukan harga CPO dunia tanpa mengurangi daya saing produk sawit nasional.

Bursa Komoditas Indonesia Mulai 1 Januari 2027

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Bursa Mineral dan Komoditas Strategis akan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.

Pembentukan bursa tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi tawar komoditas Indonesia sekaligus membangun Indonesia Reference Price bagi sejumlah komoditas ekspor unggulan.

Pemerintah menargetkan regulasi teknis mengenai penyelenggaraan bursa dapat diterbitkan paling lambat pada 17 September 2026.

Pemerintah juga membuka peluang untuk mengintegrasikan Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) ke dalam bursa baru yang tengah dipersiapkan dan direncanakan bernama Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

CPO, Batu Bara, dan Nikel Masuk Komoditas Strategis

Bursa baru tersebut direncanakan memperdagangkan berbagai komoditas strategis Indonesia. Beberapa komoditas yang menjadi perhatian antara lain:

  • Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit
  • Batu bara
  • Nikel
  • Komoditas mineral dan strategis lainnya

Bagi industri sawit, masuknya CPO ke dalam bursa komoditas nasional dapat menjadi peluang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan minyak sawit global.

Namun, keberhasilan bursa tersebut akan sangat bergantung pada volume transaksi, jumlah pelaku pasar, likuiditas, transparansi harga, serta daya saing komoditas yang diperdagangkan.

Bursa CPO Baru Harus Memberikan Manfaat bagi Industri Sawit

GAPKI pada prinsipnya tidak mempersoalkan pembentukan bursa baru. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana Bursa Mineral dan Komoditas Strategis dapat memberikan manfaat nyata bagi industri dan perekonomian nasional.

Jika bursa baru mampu meningkatkan likuiditas perdagangan CPO Indonesia dan menciptakan mekanisme pembentukan harga yang kredibel, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap harga minyak sawit dunia.

Sebaliknya, apabila penambahan kebijakan dan biaya perdagangan justru membuat harga CPO Indonesia kurang kompetitif, posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir sawit terbesar dunia dapat menghadapi tekanan.

Karena itu, pembentukan Indonesia Commodity Exchange (Icomex) perlu mempertimbangkan kondisi pasar yang sudah ada, termasuk keberadaan ICDX, sekaligus karakteristik perdagangan masing-masing komoditas.

Indonesia Berpeluang Memperkuat Posisi dalam Pembentukan Harga CPO Dunia

Dengan kapasitas Indonesia sebagai produsen dan eksportir sawit terbesar dunia, keberadaan bursa komoditas nasional sebenarnya memiliki peluang strategis untuk meningkatkan price discovery dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan CPO global.

Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, bursa nasional harus didukung oleh transaksi yang aktif dan likuid. Bukan hanya keberadaan regulasi atau institusi baru.

Catatan GAPKI menjadi penting: pembentukan bursa komoditas baru harus mampu meningkatkan posisi tawar Indonesia tanpa mengorbankan daya saing harga CPO nasional.

Sumber: gapki.id

Artikel Terkait