• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Buka HASI 2026, Kementan Tekankan Transformasi Industri Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA — Direktur Sawit dan Palma Lainnya Kementerian Pertanian Iim Muchtarom menegaskan industri kelapa sawit tetap menjadi sektor strategis global yang menopang ketahanan pangan, energi, dan ekonomi. Hal ini disampaikan saat membuka Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (11 April 2026).

Menurut dia, Indonesia bersama Malaysia saat ini memasok sekitar 80%–85% kebutuhan minyak sawit dunia. Pada 2025, produksi minyak sawit Indonesia diproyeksikan mencapai 53,6 juta ton, sementara Malaysia berada di kisaran 19–20 juta ton.

“Posisi ini menegaskan peran kedua negara sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas pasokan minyak nabati global,” ujarnya.

Ia menambahkan, kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian nasional juga signifikan. Industri ini menyumbang sekitar 2,5%–4,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dari sisi perdagangan, ekspor sawit Indonesia pada 2025 tercatat mencapai US,42 miliar dengan volume 23,61 juta ton. Jika mencakup produk turunan, kontribusinya menjadi salah satu penopang utama surplus neraca perdagangan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa industri sawit tengah menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, salah satunya penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR). Regulasi tersebut mewajibkan produk sawit yang masuk ke Uni Eropa bebas dari deforestasi dan memiliki sistem ketertelusuran hingga ke tingkat kebun.

“Ini menuntut transformasi menyeluruh, mulai dari penguatan legalitas lahan, transparansi rantai pasok, hingga praktik budidaya berkelanjutan,” katanya.

Dalam konteks tersebut, penerapan best management practices (BMP) dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memenuhi standar global.

Di sisi energi, pemerintah telah mengimplementasikan mandatori biodiesel B40 sejak 2025 guna memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan serapan domestik crude palm oil (CPO). Ke depan, pemerintah juga menyiapkan peningkatan ke B50.

Program tersebut didukung melalui berbagai skema pembiayaan dan kelembagaan, termasuk oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR), penguatan sarana dan prasarana, serta pengembangan sumber daya manusia.

Ia menambahkan, Malaysia juga terus memperkuat program biodiesel secara bertahap. Karena itu, sinergi kedua negara dinilai penting dalam menjaga stabilitas pasar global sekaligus menghadapi berbagai kebijakan internasional.

Melalui forum HASI 2026, pemerintah berharap lahir rekomendasi konkret yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab tantangan global secara kolaboratif dan berkelanjutan.

“Pemerintah akan terus memperkuat sektor kelapa sawit melalui kebijakan yang berorientasi pada produktivitas, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekebun,” ujarnya.

Artikel Terkait