• Minggu, 27 September 2026
Berita Terbaru

BRIN Dorong Hilirisasi dan Riset Strategis Sawit, Perkuat Ketahanan Pangan hingga Bahan Bakar Pesawat (SAF)

Tangerang Selatan, SAWIT INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya dalam memperkuat industri kelapa sawit Indonesia agar tidak lagi bertumpu pada ekspor bahan mentah, melainkan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi serta menjadi pilar ketahanan pangan dan energi nasional.

Langkah strategis ini dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Rantai Nilai, Hilirisasi, dan Arah Investasi Strategis Industri Kelapa Sawit Indonesia” yang dihelat oleh Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Kamis (3/9).

Forum ini mempertemukan BRIN dengan asosiasi petani, pelaku industri, serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna memetakan kondisi dan kebutuhan nyata industri sawit secara komprehensif—mulai dari hulu perkebunan rakyat, peningkatan produktivitas, pengembangan produk turunan, pemanfaatan limbah biomassa, hingga peluang energi berkelanjutan.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan untuk memperoleh gambaran empiris terkait sejauh mana riset dan inovasi telah diimplementasikan dalam aktivitas industri nasional.

"Kami ingin menjalankan konsolidasi langsung dengan pelaku industri dan pengusaha, apakah dalam aktivitas mereka saat ini masih memakai hasil-hasil riset dan inovasi yang telah dikembangkan," ujar Nugroho.

Masukan dari pelaku industri tersebut nantinya akan dijadikan data referensi krusial untuk pengembangan dashboard nasional Nusantara Analytic for Valuation, Innovation, Growth and Sovereign Industries (NAVIGASI) yang tengah disiapkan BRIN guna mengukur intensitas hilirisasi dan menjadi dasar perumusan kebijakan ekonomi.

Produktivitas Sawit Rakyat Jadi Fondasi Utama

Dari sektor hulu, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola dan perlindungan terhadap kebun rakyat. Saat ini, produktivitas sawit rakyat masih berkisar di angka 1,7–2 ton CPO/ha/tahun.

Melalui akselerasi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), angka tersebut diyakini mampu melonjak hingga 3–6 ton CPO/ha/tahun. "Kalau itu berhasil, sawit rakyat akan menjadi penopang ketahanan energi dan pangan Indonesia," tegas Gulat, sembari menekankan pentingnya kepastian legalitas lahan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatra Utara, Timbas Prasyad Ginting, mendorong agar agenda riset ke depan lebih berorientasi pada kebutuhan aktual industri, serta didukung pemanfaatan teknologi modern seperti citra satelit, drone, dan smart plantation.

Nilai Tambah Terbesar di Sektor Hilir dan Energi Terbarukan

Transformasi industri sawit juga menuntut penguatan di sektor hilir. Kepala Divisi Project Management Office Downstream PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo), Muhammad Ansori Nasution, memaparkan bahwa potensi nilai tambah terbesar berada di hilir. PalmCo kini mendorong keseimbangan hulu-hilir melalui pengembangan produk turunan seperti minyak goreng, margarin, biodiesel, hingga cocoa butter substitute.

Tidak hanya itu, limbah sawit turut disulap menjadi sumber energi baru berupa biogas, compressed biogas (CBG), syngas, dan biochar. "Limbah sawit bukan lagi menjadi beban, tetapi sumber energi baru yang dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus menopang target dekarbonisasi," ungkap Ansori.

Peluang strategis lainnya yang menjadi sorotan adalah pemanfaatan produk dan residu sawit untuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Lead Specialist Bioenergy and Biofuel PT Pertamina (Persero) Subholding Downstream, Sahkundiyar, menjelaskan bahwa sektor penerbangan adalah salah satu bidang yang paling menantang dalam dekarbonisasi, sehingga SAF menjadi prioritas utama.

Pertamina sendiri telah memproduksi SAF secara komersial di Kilang Cilacap berbasis used cooking oil (UCO), dan kini mulai memperluas pengembangan ke bahan baku sawit seperti Palm Oil Mill Effluent (POME) dan produk samping lainnya. Dengan ketersediaan biomassa yang melimpah, Indonesia memiliki peluang emas memimpin rantai pasok SAF global, dengan catatan tetap memenuhi standar keberlanjutan internasional.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait