• Rabu, 28 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPI dan BPDP Dukung Upaya Peningkatan Produktivitas Sawit Subulussalam menjadi 36 ton/ha/tahun

SAWIT INDONESIA - Isu produktivitas Kebun Sawit Rakyat yang masih rendah perlu diupayakan perbaikannya melalui pelatihan budidaya sawit. Best Planter Indonesia (BPI) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan pelatihan sawit di kota Banda Aceh dengan slogan “Mencapai produksi 36 ton/ha/tahun” atau 3 ton/ha/bulan atau 1.5 ton/ha/panen. Apakah ini mungkin?

Peserta pelatihan yang berjumlah 60 orang asal kota Subulussalam, terbagi menjadi 2 kelas, dengan rasa penasaran dan antusias mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit di hotel Mekkah pada tanggal 12 – 17 Oktober 2026. Apa yang harus mereka lakukan agar panen 1,5 ton/ha bisa terwujud?

Dalam penyampaian materinya, Friyandito selaku narasumber menyampaikan, saat ini Perusahaan Perkebunan Sawit sudah ada yang mencapai hasil produksi 40 ton/ha/tahun. Ada 7 kunci utama untuk mencapai produksi tersebut. 1) Lack of Moisture = Kurang Kelembaban = Kurang Air; 2) Low Fertility = Kurang Kesuburan Tanah = Kurang Pupuk; 3) Poor Stand = Pokok Per Hektar (SPH) Rendah; 4) Poor Soil Structure = Struktur Tanah Tidak Ideal; 5) Improper Crop Variety = Varietas Yang Tidak Sesuai; 6) Weeds = Kondisi Gulma Tidak Terkontrol; 7) Insects and Diseases = Kondisi Hama Penyakit Tidak Terkontrol. Dengan mengelola 7 faktor diatas, potensi produksi dikebun masing – masing bisa dikeluarkan.

7 faktor penentu produksi diatas diperinci lagi menjadi 43 kriteria, dimana masing – masing kriteria memetakan kondisi pengelolaan kebun menjadi kelas S1 (sangat sesuai), S2 (sesuai), S3 (agak sesuai) atau N1 (kurang sesuai). Setiap peserta diminta memetakan kondisi pengelolaan kebunnya melalui lembar panduan yang sudah disiapkan BPI. Peserta yang isian pemetaan kebunnya mayoritas kelas S1 “Sangat Sesuai”, maka hasil produksi dikebun sawitnya akan “Sangat Banyak”.

Sebaliknya, jika ada isian pemetaan kebun dikelas S2, S3 atau N1, maka peserta sebaiknya segera melakukan perbaikan cara mengelola, baik perbaikan terhadap kondisi tanah, perbaikan mengelola pelepah dan buah sawitnya, perbaikan dalam pemberian agro input (pupuk dan bahan organik) maupun perbaikan dalam penggunaan herbisida dan pestisida.

Kunci utama dalam pengelolaan kebun menurut Friyandito adalah “Kepeduliaan”. Jika melihat adanya daun tombak lebih dari 2 di pucuk, pertanda tanaman sawit kekurangan air. Jika ada daun sawit yang berubah warna dari hijau menjadi kuning atau bitnik orange, berarti kompor sawit untuk fotosintesis apinya bukan biru tapi merah. Apalagi jika daun sawitnya bolong atau habis dimakan hama, berati dapur sawitnya bocor atau kena gusur. Demikian analogi yang disampaikan Dito.

Lebih lanjut disampaikan bahwa, pemakaian pupuk kimia ternyata membuat tanah makin lama makin masam. Jika pH tanah <5, maka pupuk yang diaplikasi didiskon 50%. Artinya jika ditabur 1 kg pupuk, 50% diikat tanah dan 50% lainnya baru dialokasikan untuk diserap akar tanaman. Solusi menaikkan pH tanah dari 5 menjadi 6 adalah dengan penambahan 1 ton/ha dolomit atau 7 kg/pokok dolomit. Jika harga dolomit Rp 1.500/kg x 7 kg/pokok = Rp 10.500/pokok. Dan perlakuan pH tanah diperlukan hanya 3 – 5 tahun sekali. Pertanyaannya, apakah pekebun sawit sudah pernah mengecek pH tanahnya?

Untuk pupuk sawit, sebaiknya dikombinasi 50% pupuk kimia dan 50% pupuk organic, baik pupuk organik padat (POP) seperti kompos maupun pupuk organic cair (POC) seperti air cucian beras atau air kencing (urin). Pupuk kimia untuk jangka pendek 6 bulan, sedangkan pupuk organic untuk jangka Panjang sampai 2 tahun. Dan pupuk organik bisa dibuat sendiri oleh pekebun.

Isu produktivitas Kebun Sawit Rakyat yang masih rendah perlu diupayakan perbaikannya melalui pelatihan budidaya sawit. Best Planter Indonesia (BPI) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan pelatihan sawit di kota Banda Aceh dengan slogan “Mencapai produksi 36 ton/ha/tahun” atau 3 ton/ha/bulan atau 1.5 ton/ha/panen. Apakah ini mungkin?

Peserta pelatihan yang berjumlah 60 orang asal kota Subulussalam, terbagi menjadi 2 kelas, dengan rasa penasaran dan antusias mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit di hotel Mekkah pada tanggal 12 – 17 Oktober 2026. Apa yang harus mereka lakukan agar panen 1,5 ton/ha bisa terwujud?

Dalam penyampaian materinya, Friyandito selaku narasumber menyampaikan, saat ini Perusahaan Perkebunan Sawit sudah ada yang mencapai hasil produksi 40 ton/ha/tahun. Ada 7 kunci utama untuk mencapai produksi tersebut. 1) Lack of Moisture = Kurang Kelembaban = Kurang Air; 2) Low Fertility = Kurang Kesuburan Tanah = Kurang Pupuk; 3) Poor Stand = Pokok Per Hektar (SPH) Rendah; 4) Poor Soil Structure = Struktur Tanah Tidak Ideal; 5) Improper Crop Variety = Varietas Yang Tidak Sesuai; 6) Weeds = Kondisi Gulma Tidak Terkontrol; 7) Insects and Diseases = Kondisi Hama Penyakit Tidak Terkontrol. Dengan mengelola 7 faktor diatas, potensi produksi dikebun masing – masing bisa dikeluarkan.

7 faktor penentu produksi diatas diperinci lagi menjadi 43 kriteria, dimana masing – masing kriteria memetakan kondisi pengelolaan kebun menjadi kelas S1 (sangat sesuai), S2 (sesuai), S3 (agak sesuai) atau N1 (kurang sesuai). Setiap peserta diminta memetakan kondisi pengelolaan kebunnya melalui lembar panduan yang sudah disiapkan BPI. Peserta yang isian pemetaan kebunnya mayoritas kelas S1 “Sangat Sesuai”, maka hasil produksi dikebun sawitnya akan “Sangat Banyak”.

Sebaliknya, jika ada isian pemetaan kebun dikelas S2, S3 atau N1, maka peserta sebaiknya segera melakukan perbaikan cara mengelola, baik perbaikan terhadap kondisi tanah, perbaikan mengelola pelepah dan buah sawitnya, perbaikan dalam pemberian agro input (pupuk dan bahan organik) maupun perbaikan dalam penggunaan herbisida dan pestisida.

Kunci utama dalam pengelolaan kebun menurut Friyandito adalah “Kepeduliaan”. Jika melihat adanya daun tombak lebih dari 2 di pucuk, pertanda tanaman sawit kekurangan air. Jika ada daun sawit yang berubah warna dari hijau menjadi kuning atau bitnik orange, berarti kompor sawit untuk fotosintesis apinya bukan biru tapi merah. Apalagi jika daun sawitnya bolong atau habis dimakan hama, berati dapur sawitnya bocor atau kena gusur. Demikian analogi yang disampaikan Dito.

Lebih lanjut disampaikan bahwa, pemakaian pupuk kimia ternyata membuat tanah makin lama makin masam. Jika pH tanah <5, maka pupuk yang diaplikasi didiskon 50%. Artinya jika ditabur 1 kg pupuk, 50% diikat tanah dan 50% lainnya baru dialokasikan untuk diserap akar tanaman. Solusi menaikkan pH tanah dari 5 menjadi 6 adalah dengan penambahan 1 ton/ha dolomit atau 7 kg/pokok dolomit. Jika harga dolomit Rp 1.500/kg x 7 kg/pokok = Rp 10.500/pokok. Dan perlakuan pH tanah diperlukan hanya 3 – 5 tahun sekali. Pertanyaannya, apakah pekebun sawit sudah pernah mengecek pH tanahnya?

Untuk pupuk sawit, sebaiknya dikombinasi 50% pupuk kimia dan 50% pupuk organic, baik pupuk organik padat (POP) seperti kompos maupun pupuk organic cair (POC) seperti air cucian beras atau air kencing (urin). Pupuk kimia untuk jangka pendek 6 bulan, sedangkan pupuk organic untuk jangka Panjang sampai 2 tahun. Dan pupuk organik bisa dibuat sendiri oleh pekebun.

Artikel Terkait