Jakarta, SAWIT INDONESIA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengusulkan agar Indonesia bertransformasi dari sekadar produsen terbesar menjadi pusat inovasi sawit dunia melalui pembentukan Global Hub for Sustainable Palm Oil Research and Innovation. Usulan strategis ini disampaikan oleh Direktur Utama BPDP dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang mengusung tema "Shaping The Palm Oil Industry Ecosystems For A Sustainable Future".
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung agenda Asta Cita di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian ekonomi, mempercepat hilirisasi, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutannya, Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman menegaskan bahwa Indonesia sebagai pemimpin pasar minyak sawit global harus memperkuat keunggulan inovasi dan teknologi. Menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, tuntutan keberlanjutan, digitalisasi, hingga bioekonomi, riset tidak lagi dipandang sebagai biaya, melainkan investasi strategis bangsa.
"Saat ini Indonesia telah menjadi pemimpin dunia dalam produksi minyak sawit. Kini saatnya Indonesia memimpin dunia dalam ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, dan keberlanjutan. Marilah, kita bersama-sama membangun Indonesia sebagai Global Hub for Sustainable Palm Oil Research and Innovation, sebuah pusat inovasi dunia yang menghasilkan teknologi, talenta, dan solusi bagi industri sawit global," ujarnya di hadapan para menteri, peneliti, akademisi, dan pelaku industri yang hadir.
BPDP menggarisbawahi dua tantangan besar yang dihadapi industri sawit saat ini, yaitu peningkatan produktivitas lahan dan penguatan hilirisasi. Dengan 41 persen luas perkebunan sawit dikelola oleh petani rakyat, peningkatan hasil melalui benih unggul, teknologi budidaya modern, precision agriculture, hingga digital farming menjadi kunci utama agar kesejahteraan petani meningkat tanpa harus memperluas areal tanam.
Selain itu, dikatakan Eddy, bahwa hilirisasi kelapa sawit tidak boleh terpaku pada biodiesel saja. Ruang pengembangan produk bernilai tambah tinggi masih sangat terbuka lebar, mulai dari oleokimia, pangan berbasis sawit, biomaterial, bioplastik, kosmetik, farmasi, hingga bioavtur.
Ke depan, BPDP menegaskan bahwa keberhasilan riset tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah, melainkan dari sejauh mana inovasi tersebut dapat diadopsi oleh industri, diterapkan oleh petani, dan dikomersialisasikan.
“BPDP berkomitmen untuk tidak hanya menjadi penyedia dana, tetapi juga bertindak sebagai katalis kolaborasi yang menghubungkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, petani, investor, hingga mitra internasional dalam satu ekosistem inovasi yang solid,” ujarnya.
Acara PERISAI 2026 ini turut dihadiri oleh Staf Ahli Kemenko Perekonomian RI Dida Gardera, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang PNBP Mochamad Agus Rofiudin, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto, serta jajaran pemangku kepentingan kelapa sawit nasional. Melalui forum ini, diharapkan lahir gagasan besar dan kemitraan baru yang mampu memperkuat daya saing sawit Indonesia di kancah internasional.














