• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP Dukung PSR, Petani OKI Catat Produksi Sawit Capai 19 Ton/Ha

OKI, Sumatera Selatan, SAWIT INDONESIA – Koperasi Unit Desa (KUD) Lempuing Indah Sejahtera (LISA) memanfaatkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk meningkatkan produktivitas kebun anggota. Hasilnya, kebun sawit petani di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mencatat produksi hingga 19 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.

Capaian tersebut terungkap saat kunjungan lapangan ke KUD LISA di Desa Lempuing Indah, Kecamatan Lempuing Jaya, Rabu (11 Februari 2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Workshop PSR Sumsel yang berlangsung pada 12–13 Februari 2026 oleh Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Ketua KUD LISA, Wayan Gede Siria mengatakan koperasi berawal dari 155 anggota, sebagian besar eks petani program PIR-Trans. Koperasi berdiri pada 2017 dan mulai mengurus administrasi PSR pada 2018. Setelah memperoleh rekomendasi teknis pada 2019, koperasi menumbang tanaman tua dan memulai penanaman ulang pada awal 2020.

“Kami mengelola lahan PSR seluas 293,6 hektare. Dari BPDPKS kami menerima dana Rp25 juta per hektare atau sekitar Rp7,3 miliar. Anggota juga mengakses kredit BNI Rp50 juta per orang, total sekitar Rp7,75 miliar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kombinasi dana hibah dan pembiayaan bank memungkinkan petani membangun kebun tanpa biaya tambahan.

KUD menggunakan bibit varietas Tania Selatan/Wilmar dan menerapkan pendampingan teknis dari perusahaan. Tanaman mulai menghasilkan pada usia 28–30 bulan, lebih cepat dari rata-rata nasional.

Pada tahun pertama menghasilkan (TM 1) 2024, produktivitas mencapai 15 ton per hektare per tahun. Angka tersebut naik menjadi 19 ton per hektare pada 2025.

“Buah kami diterima pabrik kelapa sawit. Bobot janjang rata-rata sekitar 3 kilogram dengan harga mengikuti Disbun Sumsel. Produktivitasnya riil,” kata Wayan.

Ia menambahkan, kebun kini memasuki usia 60 bulan atau TM 3 pada Maret 2026.

Benih Tahan Kemarau Jadi Kunci

Manajer Riset dan Pemuliaan Wilmar, Rahmat Syah, menilai keberhasilan KUD LISA tidak lepas dari pemilihan benih dan manajemen kebun. Ia menyebut wilayah OKI memiliki karakter iklim panas dan kering yang berulang sejak puluhan tahun terakhir.

“Daerah ini sering mengalami kemarau panjang. Karena itu petani harus memilih benih yang tahan kekeringan dan bersertifikat. Jangan gunakan benih ilegal,” ujarnya.

Wilmar, lanjutnya, mengembangkan material genetik yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan asam dan risiko penyakit seperti ganoderma. Perusahaan juga membantu koperasi dalam pengujian pupuk melalui laboratorium, meski keputusan pembelian tetap di tangan KUD.

Menurut Rahmat, kebun sawit pada TM 1 umumnya menghasilkan 7–8 ton per hektare. Namun di LISA, produksi bisa mencapai 11 ton. Pada TM 2, hasilnya menembus 19 ton, di atas standar perusahaan sekitar 15 ton.

“Kalau curah hujan cukup, potensi produksi bisa sampai 20 ton. Di kebun inti Wilmar bahkan bisa 30 ton per hektare,” katanya.

Selain peningkatan produktivitas, Wilmar juga mendampingi koperasi untuk menekan kehilangan hasil (losses) dan memperbaiki praktik panen. Rahmat menyebut pihaknya membuka konsultasi 24 jam bagi KUD mitra di OKI.

Saat ini terdapat sembilan KUD di wilayah tersebut yang mengikuti pola serupa dengan hasil produksi yang juga membaik.

Dengan dukungan PSR dan pendampingan teknis, model kemitraan ini dinilai mampu mempercepat peremajaan kebun rakyat sekaligus meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan.

Artikel Terkait