• Selasa, 27 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP-Ditjenbun-PT CWE Tekankan Kesehatan Tanah sebagai Modal Produktivitas Sawit

Bengkulu, SAWIT INDONESIA — Meningkatkan produktivitas kelapa sawit tidak cukup hanya dengan menambah pupuk. Kesehatan tanah, bahan organik, aktivitas mikroorganisme, dan ketepatan pemupukan menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang.

Hal tersebut menjadi fokus Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Kementerian Keuangan, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian, dengan PT Citra Widya Education (PT CWE) sebagai mitra pelaksana.

Pelatihan gelombang kedua dibuka di Hotel Mercure Bengkulu, Selasa (20/10/2026), dengan diikuti 167 pekebun dari Bengkulu Tengah (40 orang), Seluma (60 orang), dan Bengkulu Selatan (67 orang). Sebelumnya, gelombang pertama diikuti sekitar 162 peserta dari Mukomuko dan Bengkulu Utara.

Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Dr. H. Herwan Antoni, SKM, M.Kes., M.Si., yang hadir mewakili Gubernur Bengkulu, mengatakan tata kelola kebun dan pemupukan yang tepat perlu diperbaiki agar hasil panen optimal. Ketergantungan pada pupuk anorganik tanpa pengelolaan yang sesuai berisiko menurunkan kesuburan tanah dari waktu ke waktu.

Oleh karenanya, pengelolaan kebun perlu memperhatikan produktivitas sekaligus menjaga kualitas tanah. Pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi limbah perkebunan.

Direktur Utama PT CWE, Ir. Stefanus Nugroho Kristono, mengajak pekebun memanfaatkan limbah pelepah, tandan kosong kelapa sawit, kotoran ternak, dan gulma sebagai bahan baku pupuk organik.

“Kita perlu mulai melihat potensi bahan organik yang ada di sekitar kita sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pupuk organik bukan pengganti seluruh pupuk anorganik, melainkan bagian dari pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman, kondisi tanah, dan target produksi.

“Jangan melihat pupuk organik hanya sebagai ‘pupuk murah’. Lihatlah pupuk organik sebagai bagian dari investasi terhadap tanah kita, karena tanah yang sehat merupakan modal utama untuk menghasilkan tanaman yang produktif,” katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., menambahkan bahwa pupuk organik dapat membantu memperbaiki struktur tanah, mendukung aktivitas mikroorganisme, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Ia berharap pelatihan ini mendorong kelompok tani memproduksi pupuk organik secara mandiri sekaligus membuka peluang usaha tambahan.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dr. M. Apuk Ismane, S.Pi., M.Si., mengingatkan pentingnya memastikan pupuk organik matang sebelum diaplikasikan. Pupuk yang belum matang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Ciri kematangannya antara lain suhu stabil, berbau menyerupai tanah, dan bahan telah terurai dengan baik.

Ia juga menekankan pentingnya ketepatan aplikasi pupuk, penguatan kelembagaan usaha tani, serta pendampingan dan evaluasi setelah pelatihan.

Herwan Antoni berharap peserta menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh. Penyuluh juga diminta mendampingi pekebun secara berkelanjutan agar pelatihan menghasilkan perubahan nyata di lapangan.

Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan mampu mengelola pupuk organik secara tepat sebagai bagian dari pemupukan berimbang. Dengan menjaga kesuburan tanah dan memanfaatkan bahan organik, peningkatan produktivitas sawit diharapkan dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan kebun dalam jangka panjang.

Artikel Terkait