• Rabu, 28 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP-Ditjenbun-IPB Training Dorong Pekebun Sawit Pasangkayu Olah Bahan Lokal Jadi Pupuk Organik

Pasangkayu, SAWIT INDONESIA — Serbuk kayu dan kotoran kambing yang tersedia di sekitar lingkungan pekebun berpotensi diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung pengelolaan kebun kelapa sawit. Melalui teknologi sederhana dan keterampilan pengolahan yang tepat, bahan organik lokal dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi biaya usaha tani.

Peluang tersebut diperkenalkan kepada 60 pekebun dari Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, melalui Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Angkatan I dan II pada 23–26 Oktober 2026. Kegiatan ini mengajak peserta mengenali proses pengolahan bahan organik, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pembuatan pupuk padat dan cair.

Pembelajaran berlangsung secara langsung di Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO) Desa Bukit Samang. Di lokasi tersebut, peserta mempraktikkan pembuatan pupuk organik padat dengan memanfaatkan serbuk kayu dan kotoran hewan (kohe) kambing sebagai bahan baku.

Praktik ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan bahan organik tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Dengan memahami proses pengomposan, karakteristik bahan, dan tahapan pengolahan, pekebun dapat mempelajari cara mengubah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang berpotensi mendukung kebutuhan pemupukan kebun.

Selain pupuk padat, peserta juga mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair dan melakukan pengamatan pH sejumlah larutan. Pengetahuan ini menjadi bekal awal untuk memahami karakteristik bahan hasil pengolahan sebelum pupuk diaplikasikan di lapangan.

Kemandirian Pekebun Dimulai dari Kebun

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, S.E., menekankan pentingnya kolaborasi dalam meningkatkan kemandirian pekebun, terutama dalam menghadapi dinamika biaya produksi.

“Kerja sama dengan IPB Training ini merupakan langkah nyata untuk mendorong petani kita makin mandiri. Aplikasi pupuk organik membantu petani menekan biaya produksi di tengah fluktuasi harga pupuk kimia, sementara teknik pemetaan sangat penting untuk kepastian data lahan serta pemenuhan sertifikasi seperti ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil),” ujarnya saat membuka kegiatan.

Pemanfaatan bahan organik lokal menjadi salah satu pendekatan yang dapat dipelajari pekebun untuk mengurangi ketergantungan pada sebagian input dari luar kebun. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, kondisi tanah, ketersediaan bahan baku, dan biaya pengolahan agar manfaat ekonominya dapat diperhitungkan secara nyata.

Karena itu, keterampilan membuat pupuk organik perlu diikuti pemahaman mengenai kualitas produk dan cara aplikasinya. Penggunaan pupuk organik bukan sekadar mengolah limbah menjadi pupuk, melainkan juga memastikan bahan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan budidaya kelapa sawit.

Sebelum praktik lapangan, peserta memperoleh materi mengenai regulasi dan standardisasi pupuk organik, pengenalan pupuk organik dan pupuk hayati, proses pengomposan, serta pemanfaatan limbah perkebunan sebagai bahan dasar. Peserta juga mempelajari aplikasi pupuk organik dan mengikuti uji praktis untuk menghubungkan teori dengan penerapan di kebun.

Tim narasumber IPB Training, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS, menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama antarlembaga yang mendukung terselenggaranya pelatihan tersebut.

“Pelatihan ini bisa terlaksana atas kerja sama antara BPDP, DITJENBUN, dan IPB TRAINING. Ini kolaborasi yang baik dan patut kita syukuri,” ujarnya.

Pelatihan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit.

Bagi pekebun, tantangan berikutnya adalah membawa keterampilan tersebut dari tempat pelatihan ke kebun masing-masing. Pemanfaatan bahan lokal perlu disertai pencatatan biaya bahan baku, tenaga kerja, proses pengolahan, dan hasil penggunaannya agar efisiensi dapat dievaluasi secara terukur.

Dengan pendekatan tersebut, pupuk organik berpeluang menjadi bagian dari strategi pengelolaan kebun yang lebih efisien. Teknologi sederhana yang dipadukan dengan pengetahuan teknis dan evaluasi biaya dapat membantu pekebun memaksimalkan potensi bahan di sekitar mereka, sekaligus memperkuat praktik budidaya kelapa sawit yang lebih baik.

Artikel Terkait