• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP dan Kementan Gandeng LPP Agro Tingkatkan Kapasitas Petani Sawit Swadaya

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT LPP Agro Nusantara terus memperkuat program pengembangan sumber daya manusia (SDM) sawit untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Program ini telah berjalan sejak April hingga September 2025, mencakup pelatihan teknis, manajerial, hingga pemberian beasiswa pendidikan.

Tahun ini, BPDP menargetkan pelatihan bagi 10.786 peserta dari 17 provinsi penghasil sawit. Dari jumlah tersebut, 2.066 peserta mendapat pelatihan melalui LPP Agro Nusantara, meningkat 40% dibanding tahun 2024. Pelatihan digelar dalam 71 kelas yang mencakup 11 jenis pelatihan, tersebar di 9 provinsi, termasuk Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Selatan.

Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, mengatakan dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi klasikal di dalam kelas, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Materi yang disampaikan mencakup budidaya sawit
berkelanjutan, panen dan pascapanen, pengelolaan kelembagaan, administrasi keuangan, promosi hasil sawit, hingga pemetaan lokasi perkebunan.

“ Melalui bentuk pelatihan seperti ini, pekebun tidak hanya mengerti secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya di kebun masing-masing,” ujar Pranoto dalam konfernsi pers di Jakarta, Kamis (11 September 2025).

Dia juga menekankan bahwa pendekatan pelatihan dirancang agar mudah diserap pekebun. “Melatih petani tidak bisa hanya dengan metode klasikal. Harus ada field trip, ice breaking, hingga praktik lapangan agar ilmu bisa langsung dipraktikkan di kebun,” jelasnya.

Selain pelatihan, BPDP juga menyalurkan beasiswa pendidikan bagi anak pekebun, penyuluh, hingga ASN yang berkaitan dengan perkebunan sawit. Tahun ini, dari 20.800 pendaftar lulusan SLTA, sebanyak 4.000 mahasiswa baru diterima dengan beasiswa penuh dan tersebar di 41 perguruan tinggi dari Aceh hingga Papua.

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Pala Ditjenbun, Baginda Siagian, menegaskan program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dan produktivitas sawit rakyat. “Jika produktivitas kebun rakyat bisa naik dari 3–3,5 ton menjadi 5–6 ton per hektare per tahun, kebutuhan pangan, industri hilir, maupun bioenergi akan tercukupi,” katanya.

Sementara itu, Direktur Penyalur Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menjelaskan bahwa dana pengembangan SDM berasal dari pungutan ekspor sawit. “Pungutan ekspor kami kelola untuk PSR, sarana prasarana, penelitian, promosi, hingga pendidikan dan pelatihan SDM. Semua ini dilakukan karena sawit adalah penopang utama ekonomi nasional,” tegasnya.

Indonesia saat ini masih menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia. Namun, rata-rata produktivitas kebun rakyat masih lebih rendah dibanding perkebunan swasta maupun BUMN. Karena itu, program pengembangan SDM ini diharapkan dapat melahirkan generasi baru pekebun sawit yang kompeten, berdaya saing, dan mampu menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.

Direktur SDM & TI PT Perkebunan Nusantara IV Subholding, Suhendri, menekankan pentingnya investasi pada manusia. “Investasi pada pengembangan SDM merupakan langkah strategis untuk membangun masa depan perkebunan Indonesia yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Artikel Terkait