Yogyakarta, SAWIT INDONESIA — Dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendorong hilirisasi produk kelapa sawit terus melahirkan berbagai inovasi baru di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UKMK). Salah satu inovasi yang kini mulai berkembang adalah pemanfaatan malam sawit sebagai bahan utama dalam proses produksi batik.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Smart Batik Indonesia, sebuah usaha batik yang berbasis di Yogyakarta. Berawal dari pertemuan dengan BPDP dalam sebuah pameran UKMK nasional pada 2023, perusahaan ini mulai mengenal berbagai produk turunan sawit yang memiliki nilai tambah tinggi, termasuk malam sawit.
CEO dan Pendiri Smart Batik Indonesia, Miftahudin Nur Ihsan, mengaku sebelumnya hanya mengetahui sawit sebagai bahan baku minyak goreng. Namun, informasi yang diperolehnya dari BPDP membuka wawasan baru mengenai potensi besar komoditas tersebut untuk mendukung berbagai sektor industri.
"Saya tahunya sawit itu ya minyak goreng. Ternyata setelah bertemu BPDP saya melihat manfaatnya banyak sekali," kata Ihsan saat menerima peserta Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026 di Kantor Smart Batik Indonesia, Yogyakarta, Selasa (16/6).
Menurut Ihsan, BPDP memperkenalkan berbagai produk turunan sawit yang telah dikembangkan melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Balai Batik, termasuk malam sawit yang kemudian menarik perhatiannya untuk diuji coba dalam proses membatik.
Hasil pengujian tersebut menunjukkan performa yang menjanjikan. Smart Batik kemudian mengirimkan sampel produk ke Jakarta dan mendapatkan respons positif. Seiring meningkatnya kebutuhan produksi, perusahaan melanjutkan riset secara mandiri hingga berhasil menemukan formulasi malam sawit yang sesuai dengan kebutuhan operasional mereka.
"Kami mencoba mengembangkan sendiri dan akhirnya menemukan formulasi yang bisa digunakan untuk membuat malam sawit," ujarnya.
Saat ini, malam sawit hasil pengembangan tersebut digunakan secara khusus untuk mendukung produksi internal perusahaan dan belum diperjualbelikan secara komersial. Smart Batik juga terus mengembangkan pemanfaatan limbah malam batik dengan mengombinasikannya dengan bahan turunan sawit seperti stearin dan asam stearat.
Lebih Nyaman Digunakan dan Tingkatkan Kualitas Batik
Ihsan menjelaskan, penggunaan malam sawit memberikan sejumlah keunggulan dibandingkan malam konvensional yang selama ini umum digunakan perajin batik.
Selain tidak menimbulkan aroma menyengat yang dapat mengganggu kenyamanan pekerja, malam sawit juga memiliki karakteristik yang lebih lentur sehingga mampu mengurangi risiko retak pada motif saat proses pewarnaan berlangsung.
"Pembatik senang menggunakan malam sawit karena tidak sesak dan tidak menyengat. Selain itu lebih lentur sehingga hasilnya juga lebih baik," katanya.
Keunggulan tersebut menjadikan malam sawit sebagai salah satu alternatif bahan baku yang berpotensi mendukung peningkatan kualitas produk batik sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman bagi para perajin.
Dukungan BPDP Dorong Promosi hingga Pasar Internasional
Tidak hanya membantu memperkenalkan inovasi produk turunan sawit, BPDP juga dinilai berperan penting dalam memperluas akses promosi dan pemasaran produk Smart Batik.
Melalui berbagai program pameran dan promosi UKMK yang difasilitasi BPDP, produk-produk Smart Batik semakin dikenal masyarakat. Perusahaan tersebut juga kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan promosi di berbagai daerah dan produknya beberapa kali digunakan sebagai suvenir dalam sejumlah acara.
Bahkan, berkat dukungan promosi tersebut, produk Smart Batik telah diperkenalkan ke pasar internasional, antara lain ke China, Jepang, dan Pakistan.
"BPDP banyak sekali mendukung kami, baik dari sisi promosi maupun pengembangan produk. Sampai hari ini dukungannya masih kami rasakan," ujar Ihsan.
Ia berharap semakin banyak pelaku UKMK yang memanfaatkan peluang pengembangan produk berbasis sawit. Menurutnya, komoditas sawit tidak hanya menghasilkan minyak goreng, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk inovatif yang mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing usaha.
Inspirasi bagi Pelaku UKMK
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah Hortus Archipelago, Suharno, mengatakan kunjungan ke Smart Batik Indonesia merupakan bagian dari rangkaian Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026.
“Kegiatan tersebut bertujuan memberikan wawasan sekaligus inspirasi kepada para pelaku usaha mengenai pentingnya inovasi dan pengembangan produk berbasis sumber daya lokal, termasuk produk turunan sawit,” katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, pengalaman Smart Batik dalam mengembangkan malam sawit dapat menjadi contoh nyata bagaimana inovasi mampu menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
"Para peserta dan wartawan bisa mendapatkan berbagai ilmu, masukan, dan motivasi bagaimana membangun UKMK di Magelang dan Jogja," tambah Suharno.
BPDP sendiri terus memperkuat dukungan terhadap UKMK berbasis kelapa sawit melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk Inkubasi Bisnis UMKM Perkebunan yang mencakup pendampingan pengembangan produk, penguatan kapasitas usaha, hingga perluasan akses pasar.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pelatihan dan workshop inovasi produk turunan sawit, mulai dari sabun, kosmetik, hingga kerajinan, serta fasilitasi promosi melalui pameran dan expo, etalase permanen di Gedung SMESCO Jakarta, dan katalog produk UKMK kelapa sawit. Dengan dukungan tersebut, BPDP berharap semakin banyak pelaku usaha yang mampu mengubah sawit menjadi produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing di pasar nasional maupun global.














