Karawang, SAWIT INDONESIA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong generasi muda untuk memanfaatkan peluang usaha berbasis kelapa sawit melalui Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertajuk “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” yang digelar di Karawang, Jawa Barat, Kamis (4 Juni 2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan BPDP tersebut berlangsung selama dua hari hingga Jumat (5 Juni 2026) dan diikuti pelaku UMKM, pelajar, mahasiswa, serta generasi muda yang tertarik mengembangkan usaha berbasis produk turunan sawit.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan BPDP saat ini tidak hanya fokus pada pengelolaan dana perkebunan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan kewirausahaan di sektor sawit.
Salah satu program yang tengah dijalankan adalah pemberian beasiswa pendidikan bagi generasi muda yang berasal dari keluarga pekebun sawit maupun ekosistem industri sawit.
"BPDP saat ini juga sedang menjalankan program pengembangan SDM. Tahun ini kami akan merekrut sekitar 5.000 calon mahasiswa penerima beasiswa sawit. Mahasiswa penerima program ini tidak hanya mendapatkan biaya pendidikan, tetapi juga uang saku. Misalnya untuk mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta, uang sakunya bisa mencapai sekitar Rp2,3 juta per bulan," ujar Helmi.
Selain program pendidikan, BPDP juga terus mendorong inovasi dan riset berbasis sawit. Menurut Helmi, berbagai penelitian yang telah dikembangkan saat ini tidak hanya terbatas pada produk pangan, tetapi juga merambah sektor industri dan manufaktur.
"Kami memiliki riset dari A sampai Z terkait sawit. Ada yang berkaitan dengan rompi antipeluru, helm, hingga berbagai produk industri lainnya. Sejumlah hasil riset tersebut bahkan sudah dikomersialisasikan oleh pelaku UMKM. Di website BPDP juga terdapat sekitar 100 UMKM berbasis produk turunan sawit yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha," katanya.
Meski demikian, Helmi mengakui industri sawit masih menghadapi tantangan berupa kampanye negatif yang terus muncul di ruang publik, terutama di media sosial.
"Kami terus mendukung promosi sawit, tetapi hingga hari ini masih banyak kampanye negatif yang menyerang industri sawit. Belum lama ini bahkan sempat viral video yang mengaitkan hilangnya kuntilanak dengan perkebunan sawit. Narasi seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak informasi yang tidak berimbang mengenai sawit," ujarnya.
Karena itu, BPDP berupaya memperkenalkan manfaat ekonomi sawit secara langsung kepada generasi muda agar tidak hanya memperoleh informasi dari media sosial.
"Kami ingin anak-anak muda tidak hanya mendengar cerita negatif tentang sawit. Kami ingin mereka memahami bagaimana kontribusi sawit terhadap ekonomi masyarakat dan merasakan langsung manfaatnya. Yang paling penting, bagaimana mereka bisa melihat peluang usaha dan berwirausaha dari sawit," kata Helmi.
Dia mencontohkan keberhasilan seorang mahasiswa asal Pasaman Barat yang terinspirasi mengembangkan bisnis berbasis limbah sawit setelah mengikuti program yang difasilitasi BPDP.
"Ada mahasiswa asal Sumbar tapi kuliah di Yogyakarta, waktu itu dia ikut workshop Universitas Andalas. Awalnya dia masih bingung menentukan arah karier. Setelah melihat berbagai peluang usaha berbasis sawit, dia kembali ke Pasaman Barat dan mulai mengumpulkan lidi sawit. Sekarang dia telah menjadi eksportir lidi sawit. Bahkan beberapa waktu lalu kami bersama Gubernur Sumatera Barat dan Rektor Universitas Andalas melepas ekspor produknya ke Asia Selatan," ujarnya.
Menurut Helmi, kisah tersebut menunjukkan bahwa sawit tidak hanya membuka peluang di sektor perkebunan, tetapi juga mampu menciptakan wirausaha baru melalui pemanfaatan produk samping dan limbah sawit.
"Kami berharap peserta workshop ini bisa terinspirasi. Mudah-mudahan satu atau dua tahun ke depan ada peserta dari Karawang yang juga berhasil menjadi eksportir produk berbasis sawit," katanya.
Helmi menegaskan BPDP siap mendukung pengembangan UMKM sawit melalui berbagai program pendampingan dan promosi, termasuk membuka akses pelaku usaha ke pameran nasional maupun internasional.
"Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga mendukung secara nyata. Saat ini ada mitra binaan seperti batik sawit, produk kriya, fesyen, kuliner, peci hingga tas berbasis sawit yang kami fasilitasi untuk mengikuti berbagai pameran. Banyak produk sehari-hari yang sebenarnya menggunakan kandungan sawit dan memiliki potensi pasar yang besar," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit, Qayyum Amri, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan sisi lain industri sawit kepada generasi muda, pelajar, dan pelaku UMKM.
"Generasi Z sangat dekat dengan media sosial dan setiap hari menerima berbagai informasi, termasuk berita negatif tentang sawit. Karena itu kami ingin menghadirkan perspektif yang lebih lengkap bahwa sawit tidak hanya identik dengan perusahaan besar, tetapi juga membuka peluang usaha bagi UMKM dan masyarakat luas," katanya.
Menurut Qayyum, Karawang dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena merupakan salah satu pusat manufaktur dan industri terbesar di Indonesia dengan lebih dari 1.000 perusahaan nasional maupun multinasional yang beroperasi di wilayah tersebut.
"Karawang memang bukan daerah penghasil sawit, tetapi memiliki potensi besar sebagai pusat industri dan pasar produk turunan sawit. Di sini ada pabrik minyak goreng dan banyak sektor usaha yang menggunakan bahan baku maupun produk berbasis sawit," ujarnya.
Dia menambahkan, Karawang juga menjadi salah satu daerah penerima dana bagi hasil sawit meskipun nilainya relatif kecil dibandingkan daerah sentra perkebunan.
"Karawang menerima dana bagi hasil sawit sekitar Rp1 miliar per tahun. Nilainya memang tidak sebesar daerah penghasil sawit utama, tetapi ini menunjukkan bahwa manfaat ekonomi sawit juga dirasakan oleh daerah yang bukan sentra perkebunan," katanya.














