Jakarta, SAWIT INDONESIA – Haji Abdul Rasyid, Pengusaha asal Kalimantan, mencetak pendapatan luar biasa dari bisnis sawit melalui dua perusahaannya yaitu PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk dan PT Citra Borneo Utama Tbk. Kedua perusahaan saling mendukung dan terintegrasi sektor hulu-hilir untuk menciptakan profitabilitas tinggi.
Berdasarkan Laporan Tahunan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk 2025 meraih capaian kinerja yang impresif. Pendapatan Perseroan sebesar Rp14,81 triliun yang mengalami pertumbuhan 43% dari tahun 2024 yang sebesar Rp10,36 triliun. Kinerja ini ditopang oleh segmen minyak dan lemak nabati yang menyumbang Rp13,97 triliun, sementara segmen perkebunan sebesar Rp842,35 miliar.
Emiten perkebunan kelapa sawit ini membukukan laba bersih sebesar Rp1,16 triliun, melonjak 41,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp819,53 miliar. Sejalan dengan itu, laba per saham dasar turut meningkat signifikan menjadi Rp121,86 dari sebelumnya Rp86,04.
Seiring dengan peningkatan pendapatan, beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp9,63 triliun dari Rp7,08 triliun. Meski demikian, laba kotor tetap mencatatkan pertumbuhan signifikan menjadi Rp5,17 triliun dari Rp3,27 triliun.
Kinerja positif ini juga diperoleh PT Citra Borneo Utama Tbk yang mencetak pendapatan dari kontrak penjualan mencapai Rp13,97 triliun pada 2025, naik 43 persen dibandingkan 2024 yang tercatat Rp9,8 triliun.
Penerimaan emiten berkode CBUT ini ditopang penjualan palm olein yang mencapai Rp7,85 triliun dan minyak kelapa sawit Rp2,9 triliun serta palm stearin Rp1,66 triliun.
Sebagian besar pendapatan Perseroan bersumber dari kegiatan ekspor yang mencapai Rp10,98 triliun dan pasar domestik Rp13,9 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto CBUT melesat 84,9 persen menjadi Rp1,98 triliun dari sebelumnya Rp1,07 triliun pada 2024. Setelah dikurangi berbagai beban usaha dan pajak, CBUT mengantongi laba tahun berjalan sebesar Rp106,17 miliar, tumbuh 55,7 persen dibandingkan laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp68,2 miliar.
Pertumbuhan profitabilitas ini juga berdampak pada laba per saham dasar (EPS) persreroan yang naik menjadi Rp33,98 per saham, dibandingkan Rp21,82 per saham pada periode yang sama tahun lalu.














