YOGYAKARTA, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori dan teknologi perkebunan. Di tengah tantangan industri yang semakin kompleks, sektor ini juga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki mental kuat, disiplin, kemampuan berkomunikasi, serta mampu membangun hubungan dengan masyarakat.
Pesan itulah yang menjadi salah satu fokus kegiatan Bina Mental, Fisik, dan Disiplin (Bintalfisdis) bagi 1.535 mahasiswa penerima Beasiswa SDM Perkebunan BPDP dari enam perguruan tinggi mitra di Yogyakarta.
Kegiatan yang berlangsung di Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta, tersebut dibuka secara resmi pada Senin (28 September 2026) dan berlangsung selama lima hari, hingga 2 Oktober 2026.
Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dida Gardera, S.T., M.Sc., mengatakan Bintalfisdis merupakan bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja perkebunan.
Menurutnya, kompetensi teknis yang diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan perlu dilengkapi dengan karakter, ketahanan fisik, mental, dan kedisiplinan.
“Kegiatan Bintalfisdis di tahun 2026 ini merupakan hal yang sangat penting,” kata Dida saat memberikan sambutan pembukaan kegiatan, Senin (28 September 2026).
Bukan Hanya Pintar Secara Teknis
Dida menjelaskan, pada 2026 BPDP menyalurkan Beasiswa SDM Perkebunan kepada 5.000 peserta di seluruh Indonesia. Selain Yogyakarta, kegiatan Bintalfisdis juga digelar di sejumlah daerah, antara lain Aceh, Medan, Riau, dan Jakarta.
Khusus di Yogyakarta, kegiatan diikuti mahasiswa dari enam perguruan tinggi mitra BPDP. Peserta terdiri atas 30 mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, 150 mahasiswa INSTIPER Yogyakarta, 845 mahasiswa Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER), 420 mahasiswa Politeknik LPP Yogyakarta, 30 mahasiswa Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, dan 60 mahasiswa Politeknik YKPN.
Dida mengatakan, pembentukan karakter menjadi penting karena lulusan penerima beasiswa nantinya tidak hanya berhadapan dengan pekerjaan teknis di kebun atau perusahaan. Mereka juga akan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Posisi adik-adik pada saat bekerja tentu menjembatani kegiatan dari perkebunan, baik yang dikelola oleh masyarakat maupun perusahaan, dengan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan komunikasi dan jejaring sosial yang baik. Mereka diharapkan mampu menjadi penghubung antara dunia perkebunan dan masyarakat.
“Menjadi agent, menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas di luar, di samping pekerjaan yang memang harus adik-adik lakukan nantinya,” kata Dida.
Semakin Besar Sawit, Semakin Besar Tantangannya
Dalam kesempatan tersebut, Dida juga mengingatkan mahasiswa mengenai posisi strategis kelapa sawit bagi perekonomian Indonesia.
Sawit tidak hanya menjadi komoditas penting di dalam negeri, tetapi juga memiliki peran dalam pasar internasional. Namun, posisi tersebut sekaligus membawa tantangan yang semakin besar.
Dida menggambarkannya melalui sebuah filosofi sederhana.
“Semakin tinggi pohonnya, semakin tinggi kelapa sawitnya, semakin kencang juga anginnya,” ujarnya.
Menurut Dida, semakin besar peran industri sawit, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi oleh SDM yang bekerja di dalamnya.
Karena itu, pembinaan melalui Bintalfisdis diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan fisik dan kedisiplinan semata. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembentukan kesiapan mahasiswa menghadapi dinamika dunia kerja.
“Oleh karenanya, pelatihan, baik materi substansi yang terkait dengan kelapa sawit ataupun yang terkait dengan fisik, tentu ini akan membina mental dan fisik adik-adik,” katanya.
Dida menegaskan, SDM dengan kompetensi, mental, fisik, dan disiplin yang baik dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan peran kelapa sawit sebagai salah satu komoditas strategis Indonesia.
“Sehingga nanti bisa tetap menjaga komoditas sawit ini tetap menjadi primadona ekonomi Indonesia dan juga sebagai alat untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dari Bintalfisdis, Bangun Jejaring SDM Sawit
Selain membentuk karakter dan kedisiplinan, Bintalfisdis juga menjadi ruang untuk mempertemukan mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Dida mendorong mahasiswa memanfaatkan momentum tersebut untuk saling mengenal, membangun komunikasi, dan memperkuat solidaritas.
Menurutnya, jejaring yang dibangun sejak masa pendidikan dapat menjadi modal penting ketika mahasiswa nantinya telah memasuki dunia kerja dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Ini menjadi salah satu momentum menjalin jejaring, menjalin komunikasi, dan juga saling mengenal, saling bantu, memperkuat soliditas,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Akademi Angkatan Udara Yogyakarta, perguruan tinggi mitra BPDP, jajaran BPDP, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Bintalfisdis.
Dida berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh sehingga pembinaan yang dilakukan tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang kuat secara fisik, tetapi juga memiliki karakter, disiplin, kemampuan berkomunikasi, dan kesiapan menghadapi dunia kerja perkebunan.
“Kepada adik-adik peserta Bintalfisdis, selamat mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberi kekuatan, kesehatan, dan perlindungan kepada kita semua,” pungkasnya.














