• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Bidik Potensi 60,6 Juta Ton Biomassa, PLN EPI Terbentur Masalah Rantai Pasok dan Keekonomian

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) membidik pemanfaatan potensi 60,6 juta ton biomassa yang belum terutilisasi di Indonesia. Langkah ini diambil guna mendukung bisnis bioenergi nasional, mulai dari bahan bakar co-firing PLTU hingga produk bernilai tambah tinggi seperti biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, dan bioethanol.

VP Strategi & Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Anita Puspita Sari, mengungkapkan bahwa PLN EPI sedang mengolah potensi limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, serta sampah perkotaan sebagai transformasi menuju integrated primary energy solutions provider.

"PLN EPI sedang mengembangkan bioenergi sebagai jalur strategis untuk mengubah potensi feedstock domestik Indonesia yang melimpah menjadi solusi energi berkelanjutan," ujar Anita dalam keterangan resminya, Senin (28/9/2026).

Meski potensinya sangat melimpah, para pengamat dan asosiasi industri mengingatkan adanya tantangan mendasar pada sektor hulu dan rantai pasok (supply chain) yang belum siap menopang kebutuhan puluhan juta ton secara bersamaan.

Beberapa poin kritis dan catatan strategis dari pengamat serta pelaku industri meliputi:

  • Tantangan Logistik & Sebaran Bahan Baku: Pengamat dari Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, dan Ekonom Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menyoroti rendahnya kepadatan energi biomassa serta lokasi bahan baku yang tersebar (seperti cangkang sawit/PKS di Sumatra) jauh dari pusat permintaan (Jawa dan Sulawesi), sehingga menaikkan biaya pengangkutan secara signifikan.

  • Daya Saing Harga & Isu Ekspor: Harga beli domestik yang belum memadai membuat produsen lebih memilih mengekspor limbah biomassa seperti PKS dan wood pellet ke pasar luar negeri seperti Jepang dan Korea Selatan yang menawarkan kepastian nilai ekonomi lebih tinggi.

  • Solusi Hulu Berbasis Agroforestri: Wakil Ketua Umum IV Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Widi Pancono, menegaskan pentingnya insentif pemerintah untuk pembangunan hutan energi berbasis agroforestri—mengombinasikan tanaman energi dengan tanaman pangan—agar investasi hulu menjadi bankable bagi masyarakat dan pelaku usaha.

  • Urgensi Neraca Biomassa Nasional: Ketua Umum Aspebindo, Anggawira, mendorong penyusunan Neraca Biomassa Nasional agar alokasi bahan baku untuk pembangkit listrik, industri, biofuel, dan pasar ekspor dapat terpetakan secara terukur tanpa saling memperebutkan pasokan.

Di tengah rencana ekspansi ini, para ahli merekomendasikan pemerintah untuk terlebih dahulu memprioritaskan pemanfaatan residu dan limbah cair sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi biometana, sembari membangun infrastruktur pengeringan, standardisasi mutu, dan skema kontrak offtake jangka panjang.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait