Amsterdam, SAWIT INDONESIA - Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah bergeser menjadi syarat utama akses pasar sekaligus sumber daya saing bagi industri kelapa sawit Indonesia. Pesan krusial tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), M. Fadhil Hasan, dalam forum OFI International 2026 yang berlangsung pada 21–23 September 2026 di Amsterdam, Belanda.
Dalam gelaran yang dihadiri Ketua Umum GAPKI Eddy Martono tersebut, Fadhil membawakan paparan bertajuk “EUDR and IE-CEPA: Challenges and Opportunities for Indonesia’s Palm Oil Industry”. Ia menegaskan bahwa posisi sawit sebagai penyumbang 34,2 persen produksi minyak nabati dunia (data USDA FAS Juli 2026) menempatkan komoditas ini di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian ekologis.
"Satu hektare kebun sawit menghasilkan minyak lima hingga sepuluh kali lebih banyak dibanding kedelai atau bunga matahari. Tidak ada minyak nabati lain yang dapat menggantikannya dalam skala besar tanpa pembukaan lahan secara masif," ungkap Fadhil.
Beberapa poin utama yang dipetakan GAPKI dalam merespons tantangan global dan dinamika domestik meliputi:
Kerentanan Petani Swadaya: EUDR mewajibkan komoditas bebas deforestasi dan dapat ditelusuri hingga koordinat geolokasi presisi. Petani swadaya yang menguasai 35–40 persen produksi sawit dunia dipandang paling rentan terdepak dari rantai pasok global karena kendala sertifikasi dan legalitas lahan.
Peran Strategis IE-CEPA: Kesepakatan IE-CEPA dipandang sebagai platform ideal untuk menjembatani celah regulasi EUDR melalui penyelarasan data nasional, bantuan teknis, serta skema pembiayaan transisi hijau bagi petani.
Penguatan ISPO: Pasca-reformasi ISPO melalui Perpres No. 16 Tahun 2025, fokus utama Indonesia kini bergeser dari sekadar kepatuhan (compliance) menuju pengakuan kredibilitas (credibility) agar data uji tuntas ISPO diakui secara global.
Proyeksi Pasar & B50: Akibat dampak El Niño, produksi CPO pada 2027 diproyeksikan turun 4–5 juta ton. Di sisi lain, konsumsi domestik diperkirakan melonjak sekitar 2 juta ton seiring implementasi penuh program B50, yang berpotensi menekan volume ekspor namun menjaga harga CPO tetap di level tinggi.
GAPKI menekankan pentingnya Indonesia bertransformasi dari sekadar penerima aturan (rule-taker) menjadi pembentuk arah kebijakan (rule-shaper) global, sembari memastikan percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) berjalan tanpa meninggalkan petani kecil.
Sumber: gapki.id














