• Sabtu, 26 September 2026
Kinerja

Berkah Sawit di Balik Perang Dagang AS-China

Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan China diprediksi bakal menjadi berkah untuk komoditas sawit Indonesia. Seperti diketahui, tarif resiprokal dari AS sebesar 145 persen atas barang asal China, dibalas China dengan menaikkan tarif barang AS sebesar 125 persen yang masuk ke China.

Balasan tersebut kemudian membuat Gedung Putih putih pun kemudian menaikkan tarif impor lagi sebesar 245 persen yang menimbulkan kebingungan tidak hanya di Beijing, tetapi juga di seluruh dunia.

Direktur Eksekutif PASPI Tungkot Sipayung berpandangan bahwa yang menarik dari salah satu sasaran tembak retaliasi China adalah produk pertanian AS yang diimpor China seperti minyak kedelai. Menurutnya petani AS sendiri banyak yang menjadi pendukung Trump pada pemilu kemarin.

“Jika China menaikkan tarif impor kedelai China, ditambah dengan kebijakan undervalued Yuan akan mengurangi impor kedelai China dari AS,” ujar Tungkot saat dihubungi, Sabtu (19/4/2025).

Jika perang tarif China-AS ini berlangsung lama, dia menyebut China akan meningkatkan impor minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia.

“Ini harus dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan ekspor minyak sawit ke China,” sambungnya.

Keyakinan tersebut juga didukung publikasi dari Riset Hong Leong Investment Bank (HLIB) yang mencatat bahwa meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China kemungkinan akan mendorong China untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai dari AS.

Dikatakan bahwa hal ini dapat dilakukan dengan mengalihkan sebagian pembeliannya ke produsen Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina, atau dengan mengganti sebagian kedelai dengan minyak sawit sebagai alternatif.

"Ingat, langkah China untuk mengenakan tarif 25 persen pada impor kedelai AS (dalam upaya untuk membalas tarif AS pada produk-produk China) telah mengakibatkan impor kedelai China dari AS menurun sebesar 57 persen atau 8,6 juta metrik ton (mt) pada 2018, sementara impor kedelai dari Brasil naik 41 persen atau 21,8 jutamt," ujar HLIB dalam keterangannya, dikutip dari New Straits Times, Jumat (18/4/2025).

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor CPO dan turunannya mengalami penurunan baik secara bulanan (month-to-month/mtm) maupun tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2025. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor CPO dan turunannya hanya mencapai US,44 miliar pada Januari 2025, atau turun 16,68% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar US,72 miliar. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, nilainya juga turun 24,1% mtm. Adapun, share CPO dan turunannya hanya 7,04% pada Januari 2025. Angkanya paling rendah dibandingkan komoditas unggulan lainnya.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan pemangkasan beban ekspor untuk produk minyak sawit yang akan dikirim ke Amerika Serikat untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif 32 persen Presiden Donald Trump.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan bahwa pangsa ekspor sawit Indonesia 89 persen adalah AS. Dalam 5 tahun terakhir pun, ujardia, produk sawit Indonesia melonjak signifikan ke negeri Paman Sam tersebut.

“Iya kemarin rapat dengan Menko, Mendag, Wamenlu, Wamen Perindustrian dan Wamenkeu, kami sampaikan ekspor Indonesia 5 tahun terakhir meningkat ke AS. Jadi sebelum 2022 di bawah satu juta. 2020 udah 1,5 juta, di 2023 udah tembus 2,5 juta, turun sedikit 2,2 juta di 2024. Tapi potensi ini masih meningkat lagi,” ujar Eddy menceritakan usulan GAPKI saat rapat di Kementerian Koordinator Perekonomian RI pada awal April 2025.

Dia menambahkan, pihaknya optimis bahwa ekspor sawit Indonesia bisa menembus 3 juta ton jika digarap dengan baik. Nilai ekspor sawit Indonesia sendir ike AS sebesar USD2,9 miliar. Di sana, ujar Eddy, sawit Indonesia sangat dibutuhkan untuk produk pangan masyarakat AS dan sulit digantikan oleh minyak nabati lainnya.

“Misalnya untuk margarin. Kalau pake minyak kedelai harus melalui hidroginasi, itu menghasilkan penyakit jantung dan lain lain. Makanya tetap harus sawit yang digunakan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Eddy berharap dengan adanya tarif progresif Presiden Trump itu, beban ekspor sawit Indonesia bisa dikurangi. Sebab, kata dia, saat ini ada tiga sumber beban ekspor mulai dari Domestic Market Obligation (DMO), Pungutan Ekspor (PE) dan Bea Keluar (BK) yang totalnya mencapai USD 221 per metrik ton sawit. Jika tidak dipotong, Eddy khawatir pangsa pasar sawit Indonesia bisa diserobot negara tetangga yang sama-sama penghasil minyak sawit.

“Malaysia saja hanya USD140 dolar per meterik ton beban ekspornya. Malaysia 24 persen dan kita 32 persen. Jadi mau tidak mau kita potong beban ekspornya. Makanya saya ini sampaikan, dan pemerintahakan melihat bagaimana akan melakukan special treatment untuk eksporke Amerika, nantinya,” ujar Eddy.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 162)

Artikel Terkait