• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Benih Unggul Jadi Kunci PSR, Asian Agri Paparkan Sukses Varietas Topaz di Workshop Palembang

Palembang, SAWIT INDONESIA — Upaya peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terus didorong lewat penggunaan benih unggul dan bersertifikat. Hal itu mengemuka dalam Sesi II Workshop Peremajaan Sawit Rakyat dan Pekan Benih Sawit 2026 bertema “Kisah Sukses PSR dan Penggunaan Benih Sawit Bersertifikat” yang digelar di Palembang, Kamis (12 Februari 2026).

Dalam forum tersebut, pelaku industri menekankan bahwa praktik budidaya yang baik tidak akan optimal tanpa dukungan bahan tanam berkualitas.

Head of Plant Breeding Asian Agri, Yopy Dedywiryanto, mengatakan produktivitas kebun sangat ditentukan oleh faktor genetik benih. Ia mengibaratkan, sebaik apa pun perawatan dilakukan, hasilnya tidak akan maksimal jika bahan tanamnya tidak unggul.

“Praktik agronomi harus ditopang bahan tanam terbaik. Tanpa itu, produktivitas sulit mencapai level tertinggi,” ujarnya.

Asian Agri sendiri telah mengembangkan riset pemuliaan sejak mendirikan fasilitas penelitian dan pengembangan (R&D) di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 1989. Program tersebut dilakukan sekitar satu dekade setelah perusahaan membuka kebun komersial.

Melalui seleksi persilangan indukan dura dan pisifera dari berbagai sumber genetik, perusahaan mengembangkan varietas Topaz. Benih ini diuji di berbagai kondisi lahan, mulai dari tanah mineral hingga gambut dalam dan dangkal.

Hasilnya, produktivitas tanaman menghasilkan (TM) umur 3–6 tahun tercatat rata-rata 32 ton tandan buah segar (TBS) per hektare dengan oil extraction rate (OER) 25%, setara potensi crude palm oil (CPO) sekitar 8,5 ton per hektare.

Pada 2004, Asian Agri merilis empat varietas Topaz dari persilangan material genetik Nigeria, Ghana, Ekona, dan Yangambi.

Di kebun internal seluas 4.000 hektare, potensi produksi mencapai 25,5 ton TBS per hektare dengan estimasi 8,7 ton CPO. Sementara di lahan gambut seluas 3.300 hektare, produktivitas bahkan menembus 31–33 ton per hektare.

Uji coba eksternal juga menunjukkan hasil lebih tinggi. Pada areal 300 hektare, tanaman menghasilkan stabil di kisaran 40 ton TBS per hektare sejak 2018 hingga 2023.

“Tagline kami Topaz teruji dan terbukti. Pengujian tidak hanya satu generasi, tetapi berlapis,” kata Yopy.

Setiap tahun, perusahaan mengalokasikan sekitar 600 hektare lahan mineral dan 50 hektare lahan gambut untuk evaluasi ribuan kombinasi persilangan. Dari proses seleksi ketat tersebut, hanya varietas dengan produktivitas terbaik yang dipasarkan.

Saat ini, benih komersial Topaz diklaim mampu menghasilkan rata-rata 38 ton TBS per hektare per tahun, dengan potensi produksi CPO mencapai 10 ton per hektare.

Selain produktivitas, perusahaan juga menaruh perhatian pada ketahanan penyakit, khususnya Ganoderma yang menjadi ancaman utama perkebunan sawit.

Pada 2019, Asian Agri merilis varietas Topaz GT yang toleran terhadap serangan Ganoderma. Pengembangan varietas ini dilakukan melalui pengujian ribuan persilangan dengan isolat patogen agresif.

Sejak 2011 hingga 2025, lebih dari 10.600 kombinasi persilangan diuji, termasuk 1,4 juta kecambah yang diinfeksikan secara artifisial. Dari jumlah tersebut, hanya 18 persilangan atau kurang dari 2% yang lolos seleksi.

“Komitmen kami kualitas, bukan kuantitas. Hanya material genetik terbaik yang kami distribusikan,” ujarnya.

Pelaku industri menilai penggunaan benih unggul bersertifikat menjadi salah satu kunci keberhasilan PSR, seiring kebutuhan meningkatkan produktivitas nasional di tengah keterbatasan lahan dan tantangan penyakit tanaman.

Artikel Terkait