Roti bluder Moju yang menjadi makanan khas kota Madiun. Apa yang membuat bluder ini terasa gurih dan enak di dalama setiap gigitan. Ternyata ada kandungan produk turunan sawit di dalam bahan bakunya.
Bagi Anda yang berkesempatan berkunjung ke kota Madiun yang memiliki beragam makanan khas. Toko roti Bluder Moju dapat menjadi pilihan untuk mencicip roti khas kota Madiun, yaitu roti Bluder.
Diketahui, kota Madiun yang terkenal dengan julukan "Kota Pecel dan kota Brem,", kini menawarkan berbagai kuliner yang mengguggah selera untuk mencoba. Selain pecel, salah satu makanan (roti) yang banyak digandrungi para pecinta kuliner adalah roti Bluder.
Bahkan, kini roti Bluder khas Madiun telah menjadi ikon kuliner yang populer di kalangan wisatawan, dengan banyak toko dan merek, salah satunya Bluder Moju.
Dari informasi yang dihimpun tim redaksi Majalah Sawit Indonesia, Bluder Moju sudah ada sejak tahun 2015, yang diiniasi Argo Suryo Saputo.
Pria kelahiran 1979 ini menciptakan resep roti bluder setelah mendapat tantangan dari temannya. Dengan tekad dan adanya darah turunan membuat roti dari ibunya, akhirnya berhasil mencapai tekstur dan rasa yang diinginkan.
“Berulang kali mencoba membuat bluder, bahkan seringkali tengah malam, istri, saya bangunkan tengah malam hanya untuk mencicip bluder yang telah dibuat,” ujarnya, saat ditemui di Madiun, akhir Mei lalu.
Setelah merasa puas dengan formulasi resep bludernya, Argo mulai memproduksi dan memasarkannya dibantu istrinya.Tak dinyana, produknya mendapat sambutan positif. Bahkan, Argo menerima pesanan hingga 300 bluder dalam sehari. Usahanya terus berkembang sehingga kini Bluder Moju mampu memproduksi 800-1200 bluder setiap harinya.
Kini, Bluder Moju telah dipasarkan di beberapa kota besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti kota Surabaya dan sekitarnya serta kota Solo dan sekitarnya, dibantu tim marketing.
“Alhamdulillah dan bersyukur, usaha Bluder Moju yang dirintis sejak 2015 bersama istri dan mendapatkan restu dari orangtua. Kini terus berkembang dan dikenali masyarakat, khususnya warga kota Madiun dan sekitarnya dan beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.Bahkan sudah mulai masuk ke Yogyakarta. Yang telah dikenal sebagai makanan khas kota Madiun,” kata Argo.
“Beragam varisn rasa sudah bisa diwujudkan yang awalnya hanya ada rasa keju, coklat dan kismis. Sekarang Bluder Moju memiliki banyak varian rasa baru seperti stroberi, bluberry, durian, tiramisu, abon, pandan coklat, pandan keju, pandan susu, mocca keju, original hingga kacang. Dan, akan terus berinovasi untuk menemukan varian ras baru, di tengah persaiangan bisnis kuliner (roti) di kota Madiun,” imbuhnya dengan bangga.
Sebagai informasi, Bluder Moju ala Agro Suryo Saputro ditawarkan dengan harga yang tergolong terjangkau masyarakat dan pecinta kuliner, yaitu Rp70.000/box (isi 10pcs) dan box (isi 5pcs) tentu dengan harga berbeda.
Lebih lanjut, Argo mengungkapkan secara rinci pemasaran Bluder Moju tidak hanya terbatas di Madiun, tetapi telah memiliki reseller di berbagai kota seperti Yogyakarta, Solo, Ponorogo, Tulung Agung, Trenggalek, dan Malang.
“Untuk mengembangkan pemasarannya, kami bersama tim sedang berusaha menembus pasar sampai ke pulau Bali. Sebab, potensinya besar dan sekarang akses juga cukup terbuka, sehingga menjadi potensi yang besar untuk mengembangkan pasar Bluder Moju,” ungkap Argo dengan bangga menjalankan usahanya sebagai pembuat dan penjual roti.
Bagi Anda yang mengunjungi kota Madiun sebagai wisatawan atau kunjungan keluarga, Bluder Moju dapat menjadi pilihan oleh-oleh yang menarik dengan lokasi outlet di Jl. Salak Timur I No. 2 dan Jl. Serayu depan (mixue), Kota Madiun, yang buka setiap hari mulai dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Bluder Moju bisa sebagai buah tangah bagi keluarga di rumah dan keluarga. Dengan banyaknya varian rasa yang ditawarkan, pengalaman menikmati Bluder Moju menjadi hal yang akan menyenangkan dan ketagihan.
Dikutip dari https://www.idntimes.com/ yang melansir dari laman routecochin.com, roti bluder diyakini berasal dari Eropa yang dibawa para penjajah Belanda dan disebut dengan 'broeder'. Mereka kerap menyantap roti ini untuk sarapan atau jamuan tamu.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 164)














