• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Beasiswa SDM Sawit, Program BPDP Bagi Keberlanjutan Perkebunan dan Industri Sawit

Selasa sore selepas menyelesaikan pekerjaan rutin, redaksi sawitindonesia.com ngobrol santai via online dengan Dr. Purwadi, Direktur Ekskutif Pusat Sains Kelapa Sawit Instiper dan juga Rektor INSTIPER periode 2009-2019.

Dalam perbincangan tersebut, Dr. Purwadi mengulas perbedaan program beasiswa sawit dengan beasiswa lain secara umum. Program beasiswa sawit, menurutnya, dirancang bukan sekadar sebagai bantuan pendidikan umum, melainkan sebuah strategi pembangunan SDM yang memiliki kompetensi dan karakter khusus.

Sebab itu, ukuran nyata keberhasilan program ini adalah serapan lulusan oleh industri sawit. Sebaiknya diperlukan evaluasi ketat dan berkala (setiap semester/tahun) terhadap perguruan tinggi penyelenggara, mulai dari tahap proposal hingga rekam jejak penempatan kerja lulusannya.

Selengkapnya berikut ini petikan wawancara dengan Dr. Purwadi yang saat ini diamanahkan Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Perkebunan Yogyakarta sebagai Badan penyelenggara INSTIPER dan AKPY:

SI: Sore Pak Pur, bagaimana kebugaran selepas libur-libur Panjang. Bagusnya sambil wawancara ditemani kopi hangat dan pisang goreng?

P: Sore, ini sambil menikmati kopi “Lima Gunung” di “Lab Café”, Café INSTIPER-AKPY di kampus Papringan. Puji syukur dikarunia sehat dan tetap bugar dan bisa terus berkarya.

SI: Pak Pur, beasiswa sawit tahun ini naik lagi menjadi 5.000 orang merupakan kenaikan yang luar biasa. Bagaimana pendapat Bapak?

P: Ini tentu patut disyukuri, program beasiswa ini dimulai pada tahun 2015-2016 dengan hanya 300 orang untuk program D1, setelah 10 tahun bertambah menjadi 5.000 orang untuk program beasiswa baru seperti D1, D2, D3, D4, dan S1.

Barangkali tahun depan sudah perlu ada beasiswa S2 Manajemen Perkebunan untuk kebutuhan SDM profesional managerial untuk memimpin dan mengelola kelembagaan petani. Mengacu pada roadmap penyiapan dan pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit, penyiapan SDM dari beasiswa tersebut masih relatif kurang sekali dari kebutuhan SDM untuk membangun keberlanjutan perkebunan dan industri sawit.

SI: Dengan jumlah besar tersebut, apakah penyelenggara beasiswa perguruan tinggi juga sudah ada dan siap?

P: Jika dilihat jumlah perguruan tinggi secara normatif, tentu sangat banyak. Namun karena beasiswa ini sudah sejak awal untuk membangun kompetensi yang spesifik, penyediaan SDM kompeten untuk berkerja di perkebunan dan industri sawit, sebenarnya jumlahnya masih terbatas.

SI: Apa yang membuat jumlahnya terbatas?

P: Pertama, beasiswa sawit itu sejak awal didesain untuk membangun SDM kompeten sesuai kebutuhan perkebunan dan industri sawit. Perkebunan dan industri sawit memiliki karakter khas, sehingga membutuhkan kompetensi yang khas pula, orang bilang bukan “diploma-sarjana pertanian-teknik biasa” termasuk pabrik dan industrinya yang lekat dengan ketahanan lapangan, yang berarti juga dibutuhkan tidak sekedar ketrampilan teknis tapi juga karakter khusus berkerja di lapangan bersama alam, karena perkebunan melekat dengan pabrik pengolahan di daerah remote area.

Kedua, target akhir beasiswa harus menghasilkan ”lulusan dengan kompetensi khusus, sebagian besar perguruan tinggi dengan kompetensi umum, misal “pertanian, pabrik dan industri”, banyak dan melimpah namun perguruan tinggi yang dapat menghasilkan “lulusan dengan kompetensi khusus” masih terbatas. Maaf perguruan tinggi dengan pendidikan dan pembelajaran bersifat kompetensi umum “general” tidak mudah bergeser “shifting” mendidik untuk kompetensi khusus.

Ketiga, pendidikan dengan kompetensi khusus perlu disiapkan dan butuh waktu, dalam “bisnis proses” jasa pendidikan ada tiga komponen utama yang akan menentukan lulusan yang kompeten: (1) Kurikulum yang sesuai kebutuhan, (2) Sarana-prasarana pendidikan, (3) Dosen dan instruktur. Semua harus disiapkan dan dijalankan sesuai dengan kebutuhan kompetensi lulusan.

Keempat, capaian akhir dari program beasiswa adalah lulusan dengan kompetensi khusus yang siap kerja di perkebunan dan industri sawit. Indikator riil keberhasilan program ini serapan lulusan oleh perkebunan dan industri sawit. Oleh karena itu, harus ada penilaian, evaluasi atau apapun bagi perguruan tinggi penyelenggara beasiswa ini, baik penilaian saat mengajukan proposal menjadi penyelenggara beasiswa sampai keterserapan di dunia kerja persawitan.

Evaluasi ini harus dilakukan setiap waktu, bisa setahun atau per semester untuk menilai apakah proses pembelajaran sesuai dan potensi rekam jejak untuk serapan lulusan bisa diprediksi. Ingatpenilaian hasil akhir keberhasilan pendidikan itu adalah “keterserapan di dunia kerja perkebunan-industri sawit”, dan itu terjadi kalau lulusan pendidikan memiliki dan menguasai “kompetensi skill yang dibutuhkan, dan untuk perkebunan kelapa sawit, kempetensi skill menjadi ke”harus”an, namun belum cukup, karena masih membutuhkan tambahan kapasitas “karakter”.

SI: Bisa dijelaskan lebih detail?

P: Baik, misalnya “kurikulum”, ibarat resep masakan, itu hanya resep standar hasil pengalaman, atau pemikiran atau kesepakatan maka implementasi resep hasilnya bisa beragam karena alat masak, pengalaman “chef” yang berbeda, dan hasil akhir masakan bisa berbeda-beda.

Kurikum menjadi “entry point”, karena tanpa ada kurikulum “resep” maka penyelenggaraan bisa jadi sesuai versi masing-masing, atau dalam bahasa jawa “isaku iki”.

Selanjutnya terkait infrastruktur, pembelajaran kompetensi khusus memerlukan tambahan sarana dan prasaran yang khusus pula, maka perguruan tinggi penyelenggara harus siap melakukan investasi untuk penambahan daan penguatan sarana dan prasarana, baik itu laboratorium, kebun praktek maupun tempat magang.

Memang untuk ini, misal tempat magang bisa menjalin kerjasama dari perusahaan, dan yang penting MoU nya jangan sekedar MoU diatas kertas dan juga perlu mengait dengan kesiapan menerima hasil lulusan.

Tampilan booth AKPY STIPER di SIEXPO 2023 yang menampilkan berbagai kegiatan, berdampingan dengan INSTIPER sebagai perguruan tinggi yang sama-sama dinaungi oleh Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY). (dok/AKPY STIPER)

Untuk dosen, ini yang relatif tidak bisa disiapkan dalam waktu cepat. Pendidikan kompetensi khusus membutuhkan dosen-dosen dengan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman khusus sesuai kebutuhan. Pengalaman kami, menyiapkan “Dosen” dengan kompetensi khusus membutuhkan waktu setidaknya lima tahun. Beberapa temen bilang penyiapan ini bisa lebih singkat karean sekarang bisa “tanya” ke “google”, atau “meta AI” atau “gemini AI” atau platform AI lainnya, namun untuk trampil, mendapatkan ruh “logic thinking” serta penagalaman butuh waktu. Kalau sekedar pengetahuan bisa jadi, namun sebenarnya tugas dosen hari ini itu “me-leverage” pengetahun dengan logic thinking teori serta implementasinya.

Lha, kalau dosen hanya memiliki pengetahuan apalagi baru memperoleh dari “AI” maka sebenarnya tidak perlu dosen lagi, mahasiswa cukup diberikan ketrampilan untuk bisa memanfaatkan “AI”.

SI: Lalu bagaimana strategi meningkatkan kualitas program beasiswa sawit?

P: Barangkali beberapa masukan bisa diperhatikan: (1) memastikan pemilihan, penetapan perguruan tinggi penyelenggara yang tepat, memastikan peruruan tinggi mampu menghasilkan kpmtensi lulusan dengan indicator peluang dan kenyaataan keterserapan di dunia kerja,

(2) Program harus dikawal dan sistem prosesnya dalam waktu-kewaktu untuk memastikan resiko terjadinya kegagalan yang diketahui setelah akhir masa studi.

(3) updating roadmap dan perencanaan operasional mengikuti dinamika perubahan-perubahan yang sangat cepat di ”bisnis proses dan bisnis model” perkebunan-industri sawit, sehingga lulusan program beasiswa sawit bisa terus mengikuti relevansi kebutuhan.

Barangkali kita perlu terus mengawal program beasiswa ini, jangan sampai 3-5 tahun mendatang ada menanyakan hasil program ini dan kita gagap menjawabnya dan menganggap program ini seperti atau sekedar proyek-proyek yang berdimensi jangka pendek dan selesai proyek, selesai hal-hal lainya, semuanya.

SI: Apakah Bapak memiliki usulan untuk memperkuat program beasiswa sawit?

P: Begini, Program ini awalnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan SDM di industri dan bisnis perkelapasawitan, karena disadari bahwa SDM merupakan salah satu “as a driver” dalam pengembangan daya saing dan keberlanjutan bisnis kelapa sawit. Program ini kebetulan diinisiasi bersama beberapa lembaga: Instiper, BPDPKS, DitjenBun, GAPKI, Apkasindo, tepatnya 17 Agustus 2015 di Yogyakarta.

Saat itu memang yang memperoleh fokus adalah penyediaan SDM untuk meningkatkan kelembagaan petani, dan oleh karenanya diawal APKASINDO banyak terlibat di pengembangan awal. Kenapa fokusnya pembangunan perkebunan rakyat? Karena perkebunan rakyat perlu “bantuan” pemerintah untuk membangun kapasitasnya melalui kelembagaan petaninya. Jadi SDM yang dikembangkan diharapkan bisa mengangkat keragaan perkebunan rakyat.

Dalam perkembangannya lulusan SDM lebih banyak ditampung di perusahaan perkebunan besar, karena kelembagaan perkebunan belum mampu menampung dan memanfaatkan lulusan ini untuk bekerja di kelembagaan petani, “riil” nya kelembagaan petani belum mampu membiayai gaji mereka, ini harus dicarikan solusinya, agar gagasan awal pada saatnya bisa diwujudkan. Untuk itu”diusulkan” program beasiswa sawit ini di “bundling”, program-program bantuan petani, seperti PSR, sarpras dan penguatan menajemen kelembagaan petani.

Lulusan-lulusan ini sebagian dikembalikan ke daerah masing-masing untuk dipekerjakan model SDM kontrak kerja pemerintah, “Diploma-Sarjana Mbangun Sawit” yang di kontrak dan dibiayai melalui dana dari BPDP dengan tugas mengawal bantuan kepada petani sekaligus membantu meningkatkan menajemen kelembagaan petani menuju “good governance”. SDM kontrak ini dibantu gajinya dibantu pembiayaannya dari DitjenBun, BPDP selama 3 tahun, dan diharapkan setelah tiga tahun kelembagaan petani sudah maju dan sudah dapat membiayai sendiri.

SI: Terima kasih Pak Pur, atas waktu dan pemikiran-pemikirannya

P: Baik, mari terus kita dukung dan kawal program yang luar bias aini, kan tidak ada beasiswa model seperti ini di sektor lain apalagi komoditas lain. Salam hangat dari Jogya.

Artikel Terkait