Jakarta, SAWIT INDONESIA – Beasiswa sumber daya manusia (SDM) sawit tidak hanya membuka akses pendidikan bagi generasi muda. Di tangan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP), kesempatan tersebut juga berkembang menjadi ruang untuk melahirkan inovasi yang menjawab persoalan nyata di sektor sawit dan peternakan.
Salah satunya ditunjukkan melalui inovasi SUWIIT (Smart Livestock Integrated Technology) yang dikembangkan mahasiswa Sekolah Vokasi UNDIP. Gagasan tersebut membawa tim mahasiswa penerima beasiswa sawit meraih Gold Medali kategori Business Plan pada Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 yang digelar di Universitas Negeri Surabaya pada 2–4 Agustus 2026.
Tim yang terdiri atas Luis Ibanez Sitinjak, Kholis Na’imah, dan Irgy Khoiroel Al Fahrezi dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) mengangkat persoalan yang selama ini berjalan beriringan di daerah sentra sawit, yakni limbah biomassa kelapa sawit yang belum termanfaatkan secara optimal dan tingginya biaya pakan yang harus ditanggung peternak.
Dari persoalan tersebut, mereka melihat peluang. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini identik sebagai limbah diolah menjadi bahan dasar pakan ternak nutrasetikal.
Melalui proses fermentasi yang diperkaya probiotik, mineral, dan imunostimulan alami, TKKS dikembangkan menjadi sumber nutrisi alternatif untuk menggantikan sebagian pakan konvensional.
Inovasi tersebut dirancang untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mempercepat pertumbuhan ternak. Dengan demikian, limbah biomassa sawit tidak berhenti sebagai sisa proses produksi, tetapi masuk ke dalam rantai nilai baru melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Dari beasiswa lahir inovasi
Capaian mahasiswa UNDIP tersebut memperlihatkan dimensi lain dari program beasiswa SDM sawit. Beasiswa tidak hanya dipandang sebagai dukungan biaya pendidikan, tetapi juga dapat menjadi pintu bagi lahirnya talenta yang mampu melihat peluang dari persoalan di sektor perkebunan.
Ketua Program Studi TRKI Sekolah Vokasi UNDIP, Dr. Mohamad Endy Julianto, menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya ekosistem pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksperimen dan menghasilkan karya.
Menurutnya, dukungan melalui beasiswa sawit juga memberi kesempatan mahasiswa memperluas pengetahuan mengenai sektor strategis tersebut, termasuk membaca peluang pengembangan teknologi dan industri turunannya.
SUWIIT menjadi salah satu gambaran bagaimana pendidikan, kesempatan, pengalaman vokasi, dan kepedulian terhadap persoalan daerah dapat bertemu dan menghasilkan inovasi yang berpotensi memberikan dampak lebih luas.
Inspirasi inovasi tersebut bahkan berangkat dari pengalaman para mahasiswa melihat kondisi daerah asal mereka di Sumatra yang memiliki kawasan perkebunan sawit cukup luas. Dari sana muncul pertanyaan sederhana: bisakah limbah sawit yang melimpah sekaligus menjawab persoalan mahalnya biaya pakan peternak?
Pertanyaan itu kemudian diterjemahkan menjadi gagasan bisnis.
TKKS masuk rantai nilai peternakan
SUWIIT tidak berhenti pada pengembangan produk pakan. Tim mahasiswa juga mengintegrasikan produk tersebut dengan platform digital Smart Livestock Assistance.
Platform ini dirancang menjadi asisten digital bagi peternak. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat memantau kondisi kesehatan hewan, berkonsultasi dengan dokter hewan, serta memperoleh rekomendasi perawatan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Fitur lain berupa edukasi interaktif dan marketplace kebutuhan ternak juga disiapkan untuk membantu peternak memperoleh informasi sekaligus mendukung aktivitas operasional.
Model tersebut membuat SUWIIT tidak hanya menawarkan alternatif pakan, tetapi membangun ekosistem yang menggabungkan pakan, kesehatan hewan, edukasi, teknologi digital, dan akses pasar.
Berdasarkan perhitungan awal tim, penerapan konsep SUWIIT diproyeksikan mampu menekan biaya pakan sekitar 20–40 persen, meningkatkan produktivitas ternak sekitar 20–40 persen, serta mengurangi angka kematian ternak sekitar 10–20 persen.
Namun, angka tersebut merupakan proyeksi awal tim, sehingga masih membutuhkan pembuktian melalui penerapan dan pengujian lebih lanjut di lapangan.
Vokasi menjawab persoalan industri
Pengembangan SUWIIT mendapat pendampingan dari Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng. Pendampingan dilakukan untuk mempertajam aspek teknologi sekaligus memperkuat model bisnis yang dibawa ke ajang kompetisi.
Bagi Luis Ibanez, pengalaman mengikuti OLIVIA XI 2026 menjadi ruang untuk menguji gagasan bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari kemampuan inovasi dalam menjawab persoalan masyarakat.
Kompetisi tersebut juga menjadi kesempatan untuk menguji kelayakan ide, menyusun strategi bisnis, menerima masukan dari berbagai bidang, serta melihat peluang pengembangan inovasi ke tahap yang lebih konkret.
Sementara Kholis Na’imah menekankan perspektif ekonomi sirkular dalam pengembangan SUWIIT. Limbah, menurutnya, tidak semestinya dipandang sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat diolah menjadi nilai baru.
Adapun Irgy Khoiroel Al Fahrezi melihat bahwa persoalan peternak tidak hanya berkaitan dengan pakan. Peternak juga membutuhkan akses terhadap informasi, layanan kesehatan hewan, pendampingan, edukasi, hingga pasar. Karena itu, SUWIIT dirancang sebagai konsep terpadu.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari dewan juri yang terdiri atas akademisi, praktisi industri, pelaku bisnis, hingga perwakilan instansi pemerintah. Prestasi itu sekaligus membuka peluang bagi pengembangan bisnis maupun investasi.
Bagi sektor sawit, inovasi SUWIIT menunjukkan bahwa pemanfaatan TKKS dapat dikembangkan melampaui fungsi konvensionalnya. Biomassa yang sebelumnya dipandang sebagai limbah berpotensi masuk ke rantai nilai baru, termasuk mendukung sektor peternakan.
Di sisi lain, kisah para mahasiswa penerima beasiswa sawit ini memperlihatkan potensi lain dari investasi SDM. Beasiswa tidak berhenti pada lahirnya lulusan, tetapi dapat menjadi modal untuk melahirkan talenta yang mampu menciptakan teknologi, membangun bisnis, dan mencari solusi atas persoalan di sektor sawit.
Investasi pada SDM sawit memiliki peluang untuk menghasilkan manfaat yang lebih panjang: dari pendidikan, lahirnya inovasi, hingga terciptanya nilai tambah bagi industri dan masyarakat.
*Berita ini diolah dari rilis resmi Universitas Diponegoro (UNDIP).














