• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Batik Sawit Dikenalkan pada Workshop Batik Ekologis

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Karya batik yang dibuat dari malam sawit terus dikenalkan ke masyarakat, di antaranya pada kegiatan Workshop Batik Ekologis di Pekalongan. Pengenalan batik sawit langsung dilakukan oleh CEO Batik Sawit Sm-art Batik, Miftahudin Nur Ihsan, yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, pada Senin – Selasa, 27 – 28 Mei 2024, di Pekalongan, Jawa Tengah.

Sebagai informasi, kegiatan Workshop Batik Ekologis merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Kemitraan melalui PMU AF Pekalongan dalam rangka mewujudkan berkembangnya batik ekologis di Kota Pekalongan. Diikuti peserta 50 orang yang terdiri dari kalangan Industri Kecil Menengah (IKM) Batik, akademisi bidang batik, maupun mahasiswa jurusan batik di Kota Pekalongan.

Miftahudin Nur Ihsan, yang biasa disapa Ihsan menyampaikan pihaknya saat ini mengembangkan batik ekologis dengan mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan.

“Sosialnya, tentu saja pemberdayaan Ibu-Ibu pembatik, ada 56 saat ini yang terlibat. Sementara lingkungannya, kami memakai malam sawit yang mensubtitusi parafin dan pewarnaan alam,” katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Rabu (29 Mei 2024).

Pada kesempatan itu, Ihsan menjelaskan contoh untuk penyusunan Triple Layer Business Model Canvas (TLBMC) bersama tim Ihsan bersama tim Narasa Indonesia.

“Sebagai contoh industri batik sawit yang saat ini kami kembangkan melalui dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Batik sawit yang dikembangkan merupakan salah satu contoh industri batik ekologis, karena sudah memperhatikan aspek sosial dan lingkungan,” jelasnya.

“Pada sisi sosial, dalam prosesnya melibatkan 56 orang (Ibu-Ibu pembatik di pedesaan). Sementara di aspek lingkungan, produk batik sawit yang dikembangkan juga ramah lingkungan karena menggunakan malam atau lilin batik nabati (dari sawit) yang mensubtitusi parafin dan menggunakan pewarnaan alami yang relatif lebih ramah lingkungan,” imbuh Ihsan.

TLBMC mencoba memotret bisnis secara lebih detail, dengan juga memperhatikan aspek lingkungan dan aspek sosial.Berbeda dengan Business Model Canvas (BMC) yang lebih mengedepankan aspek ekonomi.

Pada kesempatan yang sama, Program Leader Narasa Indonesia, Devina Sandriati mengatakan bahwa TLBMC dapat menjadi modal awal peserta untuk mengembangkan batik ekologis.

“TLBMC dapat menjadi modal awal pengetahuan dan pengalaman bagi pelaku usaha batik pewarna alam atau batik ekologis untuk merencanakan bisnis yang bertanggung jawab pada sosial dan lingkungan,” kata Devina.

Lebih lanjut, ia menambahkan Batik ekologis ini adalah salah satu produk batik pewarna alami yang bisa menjadi alternatif produk di tengah industri batik yang bermekaran di Pekalongan sebagai Kota Batik yang lebih ramah lingkungan,” urai Devina.

Dalam kegiatan tersebutada pelatihan teknis dari Puri Ambary. Dengan menyampaikan materi yang disampaikan diantaranya desain busana, praktik desain, dan praktik drapping.

Koordinator Lapangan Program Batik Ekologis, Nurmalita Qurani mengaku sangat bersyukur atas lancarnya kegiatan tersebut.

“Kami bersyukur, kegiatan dapat berjalan lancar, peserta sangat aktif, dan tugas-tugas yang dikerjakan juga selesai dengan baik. Semoga nanti dapat diimplementasikan setelah kegiatan ini,” kata Nurmalita.

Sementara itu, salah satu peserta kegiatan, Medhar Indah Palupi dari Medhar Batik juga memberikan tanggapan positif atas kegiatan ini.

“Alhamdulillah kami bersyukur dapat ilmu baru, dapat membuat Triple Layer Business Model Canvas. Mentornya hebat, jelas ketika menjelaskan dan dari pelaku usaha batik juga, sehingga lebih nyata contoh - contohnya. Kami juga jadi tahu ternyata ada malam sawit dan sawit bisa dimanfaatkan di industri batik. Terima kasih untuk Mas Ihsan, Kemitraan dan Narasa Indonesia,” kata Medhar.

Artikel Terkait