Banda Aceh, SAWIT INDONESIA – Banjir besar berdampak terhadap perkebunan sawit petani yang sedang diremajakan di Aceh Timur. Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Timur memperkirakan terdapat 5.060 hektare perkebunan sawit mengalami kerusakan bervariasi dari sedang sampai berat.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Timur Murdhani di Aceh Timur, Senin, mengatakan ada 5.060 hektare lahan perkebunan yang terdampak dan sebagian besar merupakan lahan peremajaan sawit rakyat yang tersebar di berbagai kecamatan.
"Berdasarkan pendataan sementara, lahan peremajaan sawit rakyat mendominasi wilayah terdampak banjir. Total luasan yang mengalami kerusakan cukup besar mencapai 4.510 hektare," katanya seperti dikutip dari ANTARA,Senin (21 Desember 2025).
Adapun kerusakan kebun sawit terjdi di Kecamatan Birem Bayeun terdapat sekitar 250 hektare lahan peremajaan sawit rakyat yang mengalami rusak sedang. Sementara di Kecamatan Rantau Selamat, kerusakan mencapai 200 hektare.
Berikutnya, kerusakan perkebunan di Kecamatan Ranto Peureulak dan Banda Alam masing-masing mencapai 550 hektare. Di Kecamatan Peureulak mengalami kerusakan lahan sawit seluas 450 hektare
Selanjutnya Peureulak Timur seluas 150 hektare, Idi Tunong sekitar 375 hektare, dan Julok mencapai 160 hektare, serta di Kecamatan Indra Makmu mencapai 750 hektare.
Di Pante Bidari tercatat perkebunan rusak mencapai 555 hektare dan Kecamatan Peunaron seluas 890 hektare lahan sawit rakyat yang rusak akibat banjir.
Mardhani menyebutkan banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi pada akhir November 2025 menyebabkan genangan cukup lama, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman dan merusak struktur tanah perkebunan.
Tak hanya sawit, lanjut dia, banjir juga berdampak pada perkebunan kakao seperti di Kecamatan Pante Bidari seluas 90 hektare. Sedangkan di Kecamatan Peunaron ada 50 hektare lahan kakao rusak berat. Sementara di Kecamatan Indra Makmu, lahan kakao rusak sedang seluas 40 hektare.
"Kerusakan lahan perkebunan ini berpotensi menurunkan produktivitas petani dalam jangka menengah hingga panjang. Selain kerusakan fisik tanaman, banjir juga menyebabkan erosi tanah, rusaknya saluran kebun, serta hilangnya unsur hara yang dibutuhkan tanaman," katanya.














