• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

B50 Diklaim Putus Ketergantungan Impor Solar, Negara Berpotensi Hemat Devisa Rp170 Triliun

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah menargetkan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar melalui penerapan mandatori biodiesel B50. Kebijakan ini dinilai menjadi langkah penting menuju swasembada energi sekaligus berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun setiap tahun.

B50 merupakan bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen solar dan 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbahan baku minyak sawit. Pemerintah meyakini peningkatan porsi biodiesel tersebut mampu memenuhi kebutuhan solar nasional dari produksi dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, konsumsi solar Indonesia saat ini mencapai sekitar 38 juta hingga 40 juta kiloliter (KL) per tahun. Selama ini, sebagian kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor sekitar 3 juta hingga 4 juta KL.

Namun, dengan mulai diterapkannya program B50, kebutuhan solar nasional disebut sudah dapat dipenuhi tanpa harus mendatangkan pasokan dari luar negeri.

"Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali," ujar Bahlil dalam keterangannya.

Menurut Bahlil, penghentian impor solar tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan devisa. Jika pada implementasi B40 penghematan devisa diperkirakan mencapai sekitar Rp133 triliun per tahun, maka melalui program B50 nilainya meningkat menjadi sekitar Rp170 triliun.

Dari sisi industri, penerapan B50 juga diproyeksikan meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Kebutuhan bahan baku tersebut diperkirakan naik dari 15,2 juta ton menjadi 16,3 juta ton, sehingga turut mendorong peningkatan nilai tambah industri sawit nasional dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.

Selain memberi dampak ekonomi, program biodiesel ini juga diperkirakan membuka lapangan kerja yang lebih luas. Jumlah tenaga kerja yang terserap diproyeksikan meningkat dari sekitar 1,8 juta orang pada program B40 menjadi sekitar 2,1 juta orang pada implementasi B50.

Bahlil juga menegaskan bahwa pemanfaatan biodiesel berkontribusi terhadap upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Melalui B50, penurunan emisi diperkirakan meningkat dari 39,66 juta ton CO₂ menjadi sekitar 44,46 juta ton CO₂.

Sementara itu, implementasi B50 di lapangan terus diperluas. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa lebih dari separuh jaringan SPBU Pertamina kini telah menyalurkan BBM B50.

"Pertamina sudah melaporkan bahwa 57 persen (SPBU) sudah tersalurkan (B50)," kata Eniya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, jumlah SPBU Pertamina di Indonesia mencapai 13.603 unit pada kuartal I 2025. Pemerintah menargetkan distribusi B50 terus diperluas agar masyarakat di berbagai daerah dapat memperoleh akses terhadap bahan bakar tersebut secara merata.

Artikel Terkait