• Selasa, 6 Oktober 2026
Profil Produk

Awas Pelepah Sengkleh! Ancaman Senyap di Balik Panen Raya Sawit

Kondisi patah pelepah (sengkleh) pada budidaya kelapa sawit (Elaeis guineensis) menjadi salah satu indikator penting dalam kesehatan tanaman. Patah pelepah dapat mempengaruhi produksi sawit karena pelepah sendiri merupakan bagian daun yang menjadi sumber produksi atau tempat fotosintesis tanaman berlangsung.

Patah pada pelepah daun tanaman menyebabkan terganggunya jalur distribusi bahan dan hasil fotosintesis sehingga dapat menurunkan produktivitas secara singnifikan. Penyebab patah pangkal pelepah tidak bersifat tunggal, namun disebabkan banyak interaksi kompleks yang berkaitan dengan morfologi fisiologi tanaman, ketidakseimbangan nutrisi, hingga faktor serangan organisme penganggu tanaman (OPT).

Faktor Morfologi dan Fisiologi

Gejala sengkleh atau patah pelepah ini secara signifikan mulai banyak ditemukan pada tanaman kelapa sawit yang sudah memasuki umur 9-10 tahun ke atas. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik varietas. Secara morfologi, pelepah sawit memiliki berbagai tipe yaitu tipe panjang dan pendek. Semakin panjang pelepah tanaman, otomatis beban mekanis yang diterima oleh tumpuan pelepah semakin besar. Selain itu, faktor umur tanaman juga berpengaruh terhadap kekuatan pelepah untuk menumpu beban. Seiring bertambahnya umur tanaman kekuatan jaringan semakin menurun sehingga semakin rentan dengan patah di pangkal pelepah.

Efek transpirasi dan air juga memegang peran penting dalam fisiologi tanaman sawit. Tanaman sawit terdiri dari hampir 80% air. Ketika laju transpirasi sangat tinggi namun ketersediaan air di tanah rendah (cekaman kekeringan), kekuatan di dalam pembuluh xilem menurun drastic. Hal ini menyebabkan jaringan pangkal pelepah tidak mampu menahan beban dan akhirnya terkulai (sengkleh).

Lonjakan produksi pada tanaman secara tidak langsung juga dapat menjadi sumber kelelahan secara fisiologis pada tanaman sawit. Tanaman yang baru saja melewati masa panen raya sering kali mengalami kelelahan nutrisi. Perlu diketahui bahwa hara yang terangkut dalam 1 ton TBS sebesar 6,3 kg Nitrogen dan 7,2 kg Kalium. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya hara yang terkuras untuk fokus pembentukan buah sawit sehingga meninggalkan pelepah dalam kondisi rentan.

Ketidakseimbangan Nutrisi Tanaman

Kekuatan struktur jaringan sangat bergantung pada ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang seimbang. Berdasarkan Barker & Pilbeam (2015) pada bukunya, setidaknya terdapat tiga unsur hara yang berperan lebih dominan pada kekuatan struktur pelepah yaitu Nitrogen (N), Kalium (K), dan Kalsium (Ca) dengan jumlah seimbang. Nitrogen sendiri memiliki peran untuk membentuk protein dan struktur hijau daun. Kalium berperan untuk mengatur tekanan turgor sel yang membuat jaringan tanaman tetap tegak dan kaku secara mekanis. Kalsium memiliki peran sebagai perekat antar sel yang memberikan kekuatan dan daya tahan pada dinding sel. Kekurangan tiga unsur hara tersebut dapat berakibat pada lemahnya struktur daun sehingga rentan pada patah pangkal pelepah.

Pemupukan dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman akan ketiga hara tersebut. Pupuk dengan sumber N, K, dan Ca yang dapat diberikan adalah kombinasi antara urea dengan kandungan N 46% dan Pupuk MerokeKKB (Korn-Kali+B) yang merupakan pupuk majemuk dengan kandungan utama Kalium Oksida 40%, Magnesium Oksida 6%, Sulfur 4%, dan Boron Oksida 0,8%. Sumber Ca dapat diperoleh dari pemberian dolomit secara rutin atau dapat dengan menambahkan pupuk agar penyerapan lebih cepat, utamanya MerokeCALNIT (15% N, 26% CaO) dan Karate Plus Boroni (15.5% N, 26% CaO, 0.3% B).

Pengaruh Hama dan Penyakit

Serangan hama dan penyakit dapat memperparah kondisi kerapuhan pada pelepah. Serangan hama seperti Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) sering kali melukai pangkal pelepah muda yang belum terbuka sempurna. Luka fisik ini menciptakan titik lemah secara struktural yang akan mudah patah saat pelepah tumbuh besar dan mulai memikul beban tandan.

Infeksi dari pathogen seperti jamur Basal Stem Rot (Ganoderma boninense) atau busuk pangkal batang juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan pengangkut dan jaringan penyokong pada pelepah sehingga menyebabkan kematian jaringan secara perlahan. Namun kerusakan karena hama penyakit sendiri ditandai dengan distribusi yang tidak merata hanya pada spot tertentu yang terindikasi terserang hama dan penyakit. (Sumber: PT Meroke Tetap Jaya)

Artikel Terkait