PT ATS Inti Sampoerna memperkenalkan SK Tray, wadah semai berbahan plastik polipropilena (PP) yang dirancang khusus untuk pembibitan Pre Nursery pada perkebunan kelapa sawit. Produk ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi penyemaian sekaligus mendukung praktik perkebunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Technical & Marketing Manager PT ATS Inti Sampoerna, Budhi Prayitno menjelaskan bahwa SK Tray terbuat dari bahan plastik PP berkualitas tinggi yang kuat, tahan terhadap paparan panas sinar matahari, tahan terhadap bahan kimia tertentu, memiliki fleksibilitas dan ketahanan beban yang baik, ringan dan mudah diaplikasikan di lapangan.
“Keunggulan lain dari SK Tray adalah volume media tanamnya yang lebih kecil, mudah dimobilisasi, mengurangi limbah, menghemat air dan media tanam, mencegah penyakit, serta memudahkan penyemaian dan pengangkutan,” ujar Budhi, Jumat (31/10/2025).
Produk ini dirancang khusus untuk tahap pembibitan tanaman kelapa sawit (tingkat PN). Dengan tinggi lubang sekitar 12,5 cm, diameter 59 mm, dan berat 750 gram per tray berisi 24 lubang, SK Tray dinilai cukup ideal untuk bibit sawit berusia tiga bulan (PN)
Menariknya, SK Tray tidak dibuat dari bahan daur ulang, melainkan dari material baru yang lebih kuat dan tahan lama. Warna putih dipilih untuk alasan fungsional.
“Kami menggunakan warna putih dengan maksud untuk mengurangi penyerapan panas dari sinar matahari, warna hitam mungkin lebih sesuai dengan iklim di Eropa yang sinar mataharinya sedikit. Tapi Indonesia kan kaya cahaya, jadi warna putih lebih tepat atau pas buat negara tropis seperti Indonesia,” kata Budhi menjelaskan.
Dalam hal layanan purnajual, PT ATS Inti Sampoerna juga menekankan komitmen terhadap kepuasan pelanggan. “Kami memastikan penerimaan produk hingga ke lokasi pelanggan dalam kondisi baik. Jika ada risiko di perjalanan, itu tanggung jawab kami,” tegasnya.
Saat ini, kapasitas produksi SK Tray mencapai 500.000 lembar, dengan wilayah pemasaran yang telah menjangkau Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi serta sejumlah penangkar dan petani sawit di berbagai daerah. Harga jual produk ini berkisar Rp80.000 per unit untuk tipe 24 lubang.
Budhi menambahkan, penggunaan tray dalam pembibitan sawit masih menjadi tantangan karena belum umum diadopsi oleh industri. Namun, pihaknya optimistis inovasi ini akan diterima karena sejalan dengan tren efisiensi dan pengurangan limbah di perkebunan.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)






