Jakarta, SAWIT INDONESIA – PT Astra Agro Lestari (AAL) sebagai salah satu anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melakukan mitigasi untuk mencegah munculnya titik-titik api, di musim kemarau 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau akan tiba antara April hingga Juni. Musim kering akan dimulai dari wilayah Indonesia Timur lalu bergeser ke Indonesia Barat. Wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan yang lebih daripada biasanya, diantaranya Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Timur, serta sebagian wilayah Sulawesi.
Sedangkan, musim kemarau normal akan meliputi seluruh wilayah Sumatera, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. BMKG memprediksikan musim kemarau 2025 akan berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Upaya yang dilakukan AAL, salah satunya berkolaborasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk berpartisipasi dalam melakukan pengawasan serta penanganan kebakaran lahan agar dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
Tahap pertama yang dilakukan dengan kelompok MPA mengidentifikasi masyarakat yang beraktivitas di area rawan. Kedua, melakukan penggalangan dan membuat kelembagaan kelompok masyarakat dengan wadah MPA. Ketiga, mengidentifikasi sumber penyebab kebakaran. Keempat, mengidentifikasi lokasi areal rawan kebakaran berdasarkan jenis vegetasi, jenis tanah, sumber air, kondisi hidrologi, dan topografi lahan.
Climate & Conservation Management Manager - Astra Agro, Dian Ary Kurniawan menjelaskan perseroan memiliki tim tanggap darurat yang merupakan bagian dari upaya sistematis dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla.
“Tim ini dibekali pelatihan serta sarana dan prasarana sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 6 Tahun 2025 tentang pembukaan dan atau pengolahan lahan perkebunan tanpa membakar,” jelasnya.
“Kami memiliki Fire Management System, sebuah sistem pengendalian kebakaran berbasis empat pilar utama: prevention, readiness, quick response, dan society partnership.Pencegahan dilakukan melalui identifikasi area rawan berdasarkan data historis hotspot dan aktivitas masyarakat, didukung oleh sistem peringatan dini,” ujar Dian Ary, usai menghadiri acara Konsolidasi Kesiapan Personil dan Peralatan Pengendalian Kebakaran Lahan, yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, di anak usaha Astra Agro, PT KTU, Siak, Riau, pada Senin (12 Mei 2025).
Lebih lanjut, ia menjelaskan kesiapsiagaan mencakup pelatihan, simulasi, dan pembangunan infrastruktur seperti menara pantau serta sumber air. Deteksi dan pemadaman dini menjadi bagian dari respon cepat, sementara kemitraan dengan masyarakat dilakukan melalui kegiatan patroli bersama.
Melihat konsistensi Perseroan dalam melakukan pencegahan dan penanganan Karhutla, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan apresiasi kepada Astra Agro.
“Keterlibatan seluruh pihak dalam mencegah timbulnya titik api akibat musim kemarau sangat diperlukan.Kami ingin (kesiapan) ini bisa diimplementasikan di semua lokasi,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Hanif.
Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) akan dilakukan serius dan represif sebagaimana amanat undang-undang. Karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup berkoordinasi dengan semua pihak. Termasuk, melibatkan para anggota GAPKI. “Kami menghimbau perusahaan-perusahaan sawit agar bergabung dengan GAPKI untuk memudahkan dalam penanganan kebakaran lahan,” kata Hanif.
Penanganan Karhutla Perlu Kerja Sama
GAPKI menyambut baik ajakan dan konsolidasi yang didorong Kementerian Lingkungan Hidup. GAPKI menilai bahwa pencegahan dan penanganan karhutla memang memerlukan kerja sama banyak pihak.
“Meskipun belum semua perusahaan sawit tergabung dengan GAPKI namun kami tetap merangkul seluruh stakeholder industri ini agar bersama-sama dalam pencegahan karhutla,” ujar Sekretaris Jenderal GAPKI, M. Hadi Sugeng.
GAPKI melakukan pencegahan Karhutla dengan merangkul multi pihak berbasis landscape, dengan melibatkan perusahaan sawit, lembaga pemerintah, dan badan yang terkait dan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA). Selain sosialisasi, perusahaan anggota GAPKI juga melakukan standardisasi sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi.
Pencegahan Karhutla lainnya yakni dengan melakukan modifikasi cuaca serta membuat himbauan dan standar kelengkapan sarana dan prasarana dalam pencegahan maupun penanganan karhutla. pencegahan Karhutla meliputi memetakan area rawan titik api serta memastikan tersedianya sumber air di area tersebut. Selain itu, perusahaan sawit juga telah memanfaatan teknologi drone dengan jangkauan terbang lebih dari 30 Kilometer.
“Selain kepatuhan terhadap regulasi, Sarana dan prasarana yang senantiasa tersedia dengan kondisi yang baik dan terawat telah dimiliki oleh perusahaan-perusahaan anggota GAPKI di seluruh Indonesia,” tambah Hadi Sugeng.
Gubernur Riau, Abdul Wahid yang hadir pada kegiatan itu menambahkan kesiapan provinsi dalam menghadapi ancaman karhutla. Kesiagaan provinsi dilandasi inisiatif dan semangat bahwa mencegah lebih baik dari pada memadamkan.
“Sebagai bentuk pencegahan, Provinsi Riau juga sudah melakukan beberapa langkah. Diantaranya bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pihak provinsi melakukan semai hujan atau tabur garam di lahan-lahan yang berpotensi kebakaran,” ucapnya.
Sebagai industri yang menopang perekonomian Riau, kata Abdul Wahid, pencegahan karhutla di Riau dipercaya menjadi salah satu hal yang mampu meningkatkan investasi di Provinsi tersebut.
“Kami ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi Riau menjadi 5% di tahun ini, untuk menjaga Riau dari karhutla menjadi penting untuk mendapatkan kepercayaan investor,” katanya.














