• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Asosiasi Pabrik Sawit Mini dan Brondolan Minta Kemendag Investigasi Dugaan Pencampuran CPO

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Ketua Umum Gappkes Mikemindo (Gabungan Pengusaha Pabrik Kelapa Sawit Mikro Kecil Dan Menengah Indonesia) M. Salim Simangunsong, angkat bicara soal pernyataan Kemendag yang menduga maraknya praktik pencampuran CPO dengan POME dan HAPOR asli, serta pengolahan buah dari TBS yang dibusukkan, dan data jumlah ekspor POME dan HAPOR tahun 2024 mencapai 3,45 juta ton, jauh lebih rendah dari pada ekspor CPO pada periode yang sama yakni sebesar 1,35 juta ton.

“GAPPKES MIKEMINDO meminta Pemerintah untuk melakukan investigasinya, ini ulah siapa, pabrik sawit mini tidak ada produksi CPO dan pabrik sawit mini kapasitasnya cukup terbatas,” ungkap Salim.

Salim Simangunsong menjelaskan kembali, bahwa saat ini banyak PKS-PKS besar yang kapasitas produksinya 30 sampai 60 ton per jam dimana dulunya PKS tersebut mengolah TBS sekarang justru beralih mengolah buah brondolan kelapa sawit. Dia berharap pemerintah segera menertipkan ini, lantara sudah merusak tatanan industri kelapa sawit.

“Hal ini jugalah yang membuat harga brondolan sawit jadi mahal, jika kita asumsikan pabrik sawit besar kapasitas 60 ton per jam, maka rata-rata harus membutuhkan bahan baku 600 ton buah brondolan kelapa sawit per hari, ini kan luar biasa besar, dan jumlah buah brondolan sebanyak itu sudah bisa menghidupkan sebanyak 60 PKS Mini dengan kapasitas 1 ton per jam, begitu juga sebaliknya justru akan berpotensi mematikan PKS Mini sebanyak 60 unit,” tuturnya.

Kemudian hasil produksinya, dengan bahan baku 600 ton buah brondolan per hari, maka akan menghasikan produksi HACPO/HAPOR sebesar 180 ton per hari dengan rata-rata rendemen 30%, jika ini dijumlahkan dengan produksi satu bulan maka jumlahnya mencapai 4.500 ton per bulan, atau 54.000 ton per tahun.

“Jika itu kita asumsikan 30 unit PKS Besar saja yang mengolah brondolan maka hasilnya adalah 1.620.000 ton per tahun produksi HACPO/HAPOR, ini masih kita bicara satu shift kerja saja ya, ironisnya lagi PKS-PKS besar tersebut bisa saja sewaktu-waktu mengolah TBS, karena memang dulunya PKS tersebut adalah PKS TBS, inilah fakta yang terjadi, mari sama-sama kita diskusikan lagi,” beber M.Salim Simangunsong.

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan, ekspor POME dan HAPOR tercatat jauh melebihi kapasitas wajar yang seharusnya atau hanya sekitar 300 ribu ton. Hal ini menjustifikasi bahwa POME dan HAPOR yang diekspor bukan yang murni dari residu atau sisa hasil olahan CPO saja, tetapi juga merupakan pencampuran CPO dengan POME atau HAPOR asli.

Mendag Busan memperkirakan,volume ekspor ini dapat terus meningkat di masa mendatang.“Jika kondisi ini terus terjadi, maka akan mengkhawatirkan bagi ketersediaan CPO sebagai bahan baku industri di dalam negeri,” kata Mendag.

Selainitu, peningkatan ekspor POME dan HAPOR juga dapat diakibatkan oleh pengolahan buah dari Tandan Buah Segar (TBS) yang dibusukkan langsung menjadi POME dan HAPOR. Menurut Mendag Busan, kondisi tersebut mengarah pada banyaknya TBS yang dialihkan untuk diolah oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau dikenal sebagai PKS berondolan. Hal tersebut mengakibatkan PKS konvensional kesulitan mendapatkan TBS

Artikel Terkait