Asosiasi Inventor Indonesia (AII) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mendukung pengembangan Teknologi Hasil Riset Kelapa Sawit. Tercatat, ada 16 invensi yang sebagian besar riset perguruan tinggi yang yang siap dikomersialkan.
"Asosiasi Inventor Indonesia memperkuat kemampuan inventor dalam berinvensi. Selain itu juga, kami bekali inventor dengan kemampuan memasarkan invensinya," kata Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII) Prof (Ris) Ir. Didiek Hadjar Goenadi,. MSc, PhD, INV. dalam konferensi pers Valuasi dan Komersialisasi Teknologi Hasil Riset Kelapa Sawit Grand Riset Sawit (GRS) 2021-2023, di Jakarta pada awal Juli 2024.
Menurutnya, kerjasama antara pihak BPDPKS dan pihak AII ini sejalan dengan salah satu Misi Asosiasi Inventor Indonesia untuk membantu inventor untuk mengatasi kendala/hambatan dalam komersialisasi invensinya, memperkuat kemampuan inventor dalam berinvensi, dan membekali inventor dengan kemampuan memasarkan invensinya. Misi ini dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan mulai dari valuasi hingga promosi kepada industri yang potensial dengan core business yang sesuai dengan jenis invensi yang dihasilkan oleh para inventor.
Kerjasama antara BPDPKS dan AII untuk melakukan valuasi dan komersialisasi Teknologi Hasil Riset Kelapa Sawit sudah dilakukan sejak tahun 2021-2022. Kegiatan yang dibiayai BPDPKS ini kemudian dilanjutkan dengan kerjasama tahap 2 tahun 2022-2023.
Prof (Ris) Didiek Hadjar menjelaskan kerjasama yang sedang berlangsung saat ini (Maret 2024 – Februari 2025) adalah Kerjasama Tahap 3 untuk melakukan valuasi dan komersialisasi teknologi 88 hasil riset GRS 2021-2023. Dari hasil proses seleksi awal terhadap 88 invensi oleh Tim AhliInternal AII diperoleh 41 invensi yang layak setelah dikurangi dengan hasil riset non-teknologi, duplikasi penomoran, dan hasil riset yang sudah di valuasi dalam periode sebelumnya.
Dari total 41 invensi terseleksi tersebut, Tim Ahli Internal AII melakukan proses valuasi lebih lanjut dan menyimpulkan bahwa hanya 24 invensi saja yang layak di valuasi lebih lanjut. Pendalaman terhadap 24 invensi tersebut telah dilakukan dengan melakukan diskusi bersama 24 Inventor untuk memaparkan hasil risetnya kepada Tim AhliInternal AII (melalui zoom) dan diperoleh 16 invensi yang lolos dengan kesiapan teknologinya, keekonomian yang cukup tinggi dan siap komersialisasi serta TRL >= 7, dimana 8 invensi lainnya, dinyatakan belum siap komersialisasi.
Pada GRS 2021-2023 ada 16 invensi yang siap komersialisasi dan sebagian besar merupakan riset dari perguruan tinggi. Seperti, Pengembangan Mixed Matrix Membrane Berbasis Karbon Tertemplat Zeolit (KTZ) untuk Proses Pemisahan CO2 dari Biogas Palm Oil Mill Effluent dari LPPM ITS.
Kemudian juga ada invensi dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UI, LPPM ITB, UGM. Ada pula dari Institut Teknologi PLN, Unair, IPB, dan invensi dari Unila.
"Jadi ada 16 invensi yang lolos dengan kesiapan teknologinya. Kemudian, keekonomian yang cukup tinggi dan siap komersialisasi," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Direktur Penyaluran Dana BPDPKS Zaid Ibrahim mengatakan, sawit merupakan komoditas nasional yang membutuhkan penelitian dan pengembangan. "Oleh karena itu kami mengalokasikan dana besar untuk penguatan riset yang dimanfaatkan demi mendukung pengembangan industri sawit yang berkelanjutan," kata Zaid. Melalui GRS, pihaknya mendanai 346 perjanjian kerjasama riset termasuk keperguruan tinggi dan lembaga penelitian yang melibatkan 122 orang peneliti. Selain dengan peneliti, pihaknya menggelar lomba riset tingkat mahasiswa yang dilakukan secara berkala.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 152)














