Padang, SAWIT INDONESIA – Ribuan petani sawit wilayah Agam dan Pasaman di Sumatera Barat terkena dampak bencana banjir yang terjadi di akhir November 2025. Hampir tiga minggu lamanya petani kehilangan pendapatan karena tidak dapat panen lantaran belum pulihnya infrastruktur. Tak hanya itu, aktivitas perekonomian di Sumatera Barat menjadi terganggu karena sebagian besar ditopang aktivitas perkebunan dan pertanian.
“Kebun saya di Agam juga terkena dampak banjir, bang. Curah hujan memang luar biasa tinggi. Lalu ribuan kayu juga terbawa saat aliran air menerjang wilayah pemukiman dan kebun,” jelas Jufri Nur, Ketua DPW APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Sumatera Barat.
Jufri Nur memperkirakan sekitar 4.000 hektare perkebunan sawit petani di wilayah Agam berpotensi rusak akibat banjir besar tahun ini. Begitupula kondisi yang sama terjadi di Pasaman. Imbas dari banjir ini buah sawit tidak dapat dipanen karena tingginya air.
“Infrastruktur jalanan juga mengalami kerusakan dan sulit dijangkau. Akibatnya, kegiatan panen tertunda dua minggu lamanya,” ujar Jufri.
Jufri menyayangkan tudingan yang dialamatkan kepada tanaman sawit sebagai penyebab banjir. Dari pengamatannya, banjir dipicu curah hujan tinggi dan diperparah lagi oleh kegiatan penebangan kayu secara illegal di perbukitan.
“Di daerah Palembayan di kabupaten Agam, limpahan air bukan dari lahan sawit tetapi bukit yang gundul. Ndak ada cerita, sawit penyebabnya. Selain curah hujan yang tinggi juga banjir dari kayu-kayu yang ikut terbawa air. Selama 25 tahun menjadi petani, baru kali ini banjir luar biasa dampaknya,” paparnya.
Jufri meminta semua pihak tidak menuduh sawit sebagai pemicu utama dari banjir ini. Karena sawit juga memiliki fungsi ekologis dan mencegah erosi tanah.
“Jangan hujat sawit, kami petani juga terdampak. Lebih dari 3 minggu kami tidak panen, dampaknya buah busuk. Baru bisa panen sekitar satu minggu lalu. Pengiriman buah juga terkendala karena jalan juga mengalami kerusakan,” kata Jufri.
Menurutnya, dampak dari banjir ini juga terasa di Kota Padang yang membuat kegiatan ekonomi lesu. Sebab, biasanya petani sawit ini menjelang akhir tahun dan libur sekolah akan mengunjungi Padang serta kota-kota lain di Sumatera Barat.
“Ekonomi memang menjadi lesu karena bencana ini sangat dirasakan bagi masyarakat karena aktivitas belum bisa bergerak normal,” pungkasnya.














