Jakarta, SAWIT INDONESIA - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) akan mempertemukan petani sawit dari belasan negara dalam International Oil Palm Smallholder Forum yang dijadwalkan berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 27–29 Agustus 2026.
Forum tersebut akan membahas sejumlah isu strategis yang dihadapi pekebun sawit, salah satunya mekanisme penetapan harga tandan buah segar (TBS) yang dinilai perlu memberikan manfaat yang lebih adil bagi petani, perusahaan, dan negara.
Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO mengatakan forum internasional tersebut akan dihadiri perwakilan petani dari sejumlah negara produsen sawit, di antaranya Malaysia, Thailand, Honduras, Ghana, dan Nigeria.
"Yang akan kita bahas salah satunya harga TBS yang seadil-adilnya kepada petani sawit, karena penetapannya berbeda setiap negara. Pendekatannya apakah menggunakan harga CPO atau persentase rendemen dari TBS," kata Gulat, Kamis (13 Agustus 2026).
Menurutnya, perbedaan sistem penetapan harga TBS di berbagai negara perlu dikaji untuk menemukan mekanisme yang dapat memperkuat posisi tawar petani.
Forum tersebut juga akan menjadi ruang pertukaran pengalaman antarpetani mengenai sistem harga, kebijakan pemerintah, hingga pola hubungan antara pekebun dan korporasi.
Gulat mengatakan forum yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut tidak hanya diarahkan untuk membahas persoalan harga TBS.
Pertemuan itu diharapkan dapat memperkuat posisi petani sawit dalam mata rantai industri, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, keterlibatan petani dari berbagai negara dapat membuka ruang kolaborasi sekaligus memperluas perspektif dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan industri sawit.
"Petani bersatu di IKN untuk menunjukkan kebersamaan sebagai petani kelapa sawit dan memperkuat posisi petani di dalam kancah ekonomi internasional," ujarnya.
APKASINDO berharap forum tersebut dapat memperkuat suara petani dalam pembentukan kebijakan industri sawit, termasuk terkait sistem perdagangan dan mekanisme penetapan harga.
Gulat menilai sistem yang dibangun perlu memberikan manfaat kepada seluruh pemangku kepentingan industri, terutama petani sebagai penghasil bahan baku utama.
Dihadiri perwakilan 25 provinsi
Selain perwakilan petani dari negara produsen sawit, seluruh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) APKASINDO dan perwakilan organisasi dari 25 provinsi juga dijadwalkan hadir.
Gulat menyebut kehadiran perwakilan tersebut menjadi bentuk kebersamaan petani sawit dari berbagai wilayah Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
Menurut dia, penyelenggaraan forum di IKN juga memiliki nilai simbolis bagi petani sawit nasional. IKN dinilai dapat menjadi ruang untuk mempertemukan aspirasi petani Indonesia dengan komunitas petani sawit dari berbagai negara.
Melalui forum tersebut, APKASINDO berharap isu kesejahteraan petani, penguatan posisi tawar, serta terciptanya mekanisme perdagangan dan harga yang lebih berkeadilan dapat menjadi bagian penting dalam agenda industri sawit global.














