• Rabu, 23 September 2026
Berita Terbaru

APKASINDO: Harga TBS Sawit Pulih 80 Persen di Sumatera dan 70 Persen di Kalimantan

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyatakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai berangsur pulih setelah serangkaian rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono bersama pelaku industri sawit dalam beberapa pekan terakhir.

Ketua Umum APKASINDO, Dr. Gulat M.E. Manurung, mengatakan pemulihan harga TBS mulai terlihat di berbagai sentra produksi sawit. Di Sumatera, harga TBS telah pulih sekitar 80 persen, sedangkan di Kalimantan mencapai 70 persen.

"Setelah rapat pertama dan kedua yang dipimpin Pak Wamen, harga TBS memang berangsur naik. Di Sumatera sudah pulih sekitar 80 persen dengan acuan harga CPO Rp15.200 per kilogram. Di Kalimantan sudah mencapai 70 persen," kata Gulat dalam Rapat Koordinasi Perkembangan dan Upaya Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang dipimpin Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kementerian Pertanian, Senin (8 Juni 2026).

Rapat tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang dipimpin Wamentan Sudaryono pada 26 Mei 2026 bersama asosiasi industri sawit. Selanjutnya, pemerintah menggelar rapat koordinasi yang lebih luas pada 29 Mei 2026 dengan melibatkan BUMN pangan, asosiasi petani, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), eksportir, dan pelaku refinery.

Pengumpul Masih Jadi Persoalan

Meski harga mulai membaik, Gulat menilai masih terdapat persoalan di tingkat pengumpul atau tengkulak yang menyebabkan kenaikan harga belum sepenuhnya dirasakan petani.

"Kalau kami pelajari, benar seperti yang disampaikan teman-teman petani. Persoalannya ada di RAM (tempat penampungan hasil sawit), pengumpul, atau tengkulak. Padahal pabrik kelapa sawit (PKS) sudah memberikan harga yang baik," ujarnya.

Karena itu, APKASINDO mengusulkan agar pemerintah menertibkan para pengumpul yang diduga masih mengambil margin terlalu besar sehingga harga TBS di tingkat petani belum pulih secara optimal.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta APKASINDO dan petani menyerahkan data pihak-pihak yang diduga memainkan harga.

"Nanti serahkan nama-nama tengkulak ini. Saya akan tertibkan," kata Amran.

Refinery Disebut Turut Tekan Harga TBS

Dalam kesempatan yang sama, Gulat juga mengungkapkan hasil kunjungannya ke Sulawesi Tengah. Menurutnya, anjloknya harga TBS beberapa waktu lalu tidak hanya dipengaruhi rantai perdagangan di tingkat petani, tetapi juga harga pembelian crude palm oil (CPO) oleh perusahaan refinery.

"Saya juga ke Sulawesi Tengah kemarin. Ternyata yang membuat harga TBS anjlok karena CPO dari PKS dibeli dengan harga murah oleh refinery," ujarnya.

Menurut Gulat, kondisi tersebut ikut menekan harga jual TBS di tingkat petani meskipun produksi dan pasokan relatif normal.

Menanggapi laporan tersebut, Amran menegaskan persoalan itu akan menjadi perhatian pemerintah.

"Baik, itu sudah jadi urusan saya. Urusan negara itu," kata Amran.

Banten Catat Pemulihan Tertinggi

Gulat menyebut Provinsi Banten menjadi daerah dengan tingkat pemulihan harga TBS tertinggi. Sejak 5 Juni 2026, harga TBS petani di wilayah tersebut berada pada kisaran Rp2.500-Rp2.550 per kilogram. Sebelum terjadi penurunan harga, TBS di Banten berada di kisaran Rp2.400 per kilogram, kemudian sempat turun hingga Rp2.000 per kilogram.

Dengan kondisi tersebut, tingkat pemulihan harga TBS di Banten mencapai sekitar 110 persen dibandingkan periode sebelum penurunan harga.

Meski demikian, harga TBS di Banten masih lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi sentra sawit di Sumatera.

"Kami petani sawit tidak mematok harga TBS pada angka tertentu. Yang kami inginkan adalah harga TBS mengikuti harga CPO yang sebenarnya," ujar Gulat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat pemerintah berupaya mengidentifikasi penyebab belum pulihnya harga TBS secara penuh di tingkat petani meskipun harga CPO mulai membaik.

Pemerintah saat ini terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan industri sawit, mulai dari petani, pabrik kelapa sawit, eksportir, refinery, hingga asosiasi pengusaha untuk mempercepat pemulihan harga TBS.

Sebelumnya, sejumlah petani dari Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan melaporkan harga TBS di tingkat pabrik mulai meningkat. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya diterima petani karena masih terdapat selisih harga yang cukup besar di tingkat pengumpul.

Artikel Terkait