Aceh Singkil, SAWIT INDONESIA — Petani sawit swadaya di Aceh Singkil, Aceh, didorong meningkatkan pendapatan tanpa membuka lahan baru. Melalui Program Sustainable Living Village (SLV), Apical, Inisiatif Dagang Hijau (IDH), dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menggabungkan peningkatan produktivitas kebun, pengembangan usaha alternatif, dan konservasi lingkungan.
Salah satu upayanya adalah budi daya madu Trigona yang melibatkan 61 petani dalam enam kelompok binaan. Program ini memberikan 250 stup madu beserta pendampingan untuk mengembangkan usaha tambahan bagi keluarga petani.
Abdulrahman, perwakilan Kelompok Tani Teluk Rumbia, mengatakan program tersebut memberikan pengetahuan baru untuk mengelola kebun dan mengembangkan sumber penghasilan alternatif.
“Pendampingan yang diberikan membantu kami meningkatkan penghasilan keluarga sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan untuk masa depan,” ujarnya.
Corporate Social Responsibility (CSR) Manager Apical, Sugiantoro, mengatakan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Program SLV diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani tanpa mendorong perluasan perkebunan ke kawasan hutan.
Perkuat Produktivitas dan Legalitas Kebun
Sejak diluncurkan pada 18 Februari 2023, SLV telah mendampingi petani sawit swadaya melalui pelatihan praktik budidaya berkelanjutan, penguatan administrasi kebun, dan persiapan sertifikasi.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 1.048 petani telah mengikuti pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP). Program ini juga memfasilitasi penerbitan 930 Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), pembentukan dua koperasi dan satu kelompok tani, serta pendampingan menuju sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Country Director IDH, Nassat Idris, mengatakan penguatan kapasitas petani dan legalitas perkebunan penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketertelusuran rantai pasok kelapa sawit berkelanjutan.
Pelaksanaan program turut didukung National Initiatives for Sustainable Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS), yang didukung pemerintah Belanda dan Inggris untuk mendorong rantai pasok sawit yang inklusif dan berkelanjutan.
Lindungi Ekosistem Aceh Singkil
Selain pemberdayaan ekonomi, SLV menjalankan restorasi, penanaman kembali vegetasi, penelitian, dan pemantauan ekosistem untuk menjaga bentang alam Aceh Singkil, termasuk kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Project Leader YEL, Iwan Ikhtiara, menekankan bahwa penguatan ekonomi masyarakat perlu berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati. Program ini dilaksanakan di empat desa di Kecamatan Danau Paris, yaitu Biskang, Sikoran, Napagaluh, dan Situban Makmur.
SLV juga mendukung penguatan tata kelola daerah melalui Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB), Tim Pemantauan Deforestasi Daerah (TPDD), dan Forum Multipihak Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Singkil.
Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, berharap capaian program menjadi landasan bagi pembangunan desa berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik.
SLV merupakan bagian dari peta jalan keberlanjutan Apical2030. Melalui program ini, Apical mendukung target pengembangan 30 desa berkelanjutan hingga 2030 serta komitmen konservasi 150.000 hektare hutan dan lahan gambut.
Setelah berjalan lebih dari tiga tahun, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan kapasitas petani, usaha alternatif, dan kegiatan konservasi tetap berlanjut setelah periode program berakhir. Dengan demikian, manfaat ekonomi masyarakat dapat terus berkembang tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Berita Terbaru














