PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) memiliki komitmen dalam pengembangan riset dan inovasi untuk peningkatan produktivitas. Selain itu, riset ini mendukung perusahaan dalam upaya memenuhi standar dan kriteria sawit berkelanjutan.

“Inovasi yang dilakukan perusahaan tidak hanya fokus kepada produktivitas, melainkan juga implementasi praktik sawit berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujar Jajang Supriatna selaku Head of Research and Development, ANJ dalam kegiatan Ngeriung Bicara Sawit bertemakan “Strategi ANJ Tingkatkan Produktivitas Berbasis Digitalisasi dan Inovasi” melalui platform Instagram, Senin (27 Juni 2022).

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara ANJ dan Majalah Sawit Indonesia yang dihadiri 73 peserta dari beragam pemangku kepentingan.

Jajang menjelaskan bahwa perusahaan telah mengelompokkan faktor yang mempengaruhi produktivitas, yaitu Determining FactorLimiting Factor dan Reducing Factor.

Berkaitan Determining Factor ada sejumlah faktor yang berpengaruh antara lain, yaitu radiasi, konsentrasi CO2, temperatur (hal ini berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim), planting material, planting density, culling, pruning, pollination, crop recovery.

Berikutnya Limiting Factor, yaitu rainfall, soil type, drainage, topography dan slope. Untuk Reducing Factor adalah weeds, pests, diseases.

Saat ini dikatakan Jajang bahwa kinerja perusahaan terus membaik dari sisi produktivitas. Sebagai contoh, pada tanaman baru program replanting saat ini sudah menghasilkan dan sudah mencapai target bahkan lebih.

“Walaupun jenis tanah adalah tanah marginal (berpasir) dengan tingkat kesuburan yang sangat rendah, selama lebih dari lima tahun penerapan konsep pemupukan organik kompos, kondisi tanah berubah menjadi lebih baik dan lebih subur, tanah sehat – tanaman sehat. Terlihat dari produktivitas tanaman kelapa sawit mencapai lebih dari 15 ton per ha per tahun di tahun pertama panen,” urai peraih gelar S2 di STIE IPWI Jakarta dengan menyandang mahasiswa terbaik.

Diketahui, perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap penurunan kualitas tanah dan air, produktivitas tanaman, ketidak seimbangan unsur hara, dan juga aktivitas penyerbukan buah kelapa sawit. Untuk itu, inovasi kegiatan praktik agrobisnis sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan produktivitas perusahaan.

“Kami juga melakukan antisipasi dengan sistem polinasi terintegrasi, ini telah membantu suksesnya pembentukan buah dengan nilai fruitset (buah terbentuk) lebih dari 95%,” ucapnya.

Dalam rangka menghadirkan pertanian berkelanjutan bagi bumi dan masyarakat, ANJ membuat sejumlah inovasi untuk mitigasi faktor-faktor, seperti implementasi pupuk bioorganik kompos dari tandan kosong & POME, Determining factor: sistem polinasi terintegrasi; sistem replanting dan persiapan lahan terintegrasi, Limiting factor:water dan root management, Drip Fertigation terintegrasi dengan smart agriculture system; Reducing factor: propagasi burung hantu untuk pengendalian Tikus, dan pengembangan produk mikro biologi local specific untuk pengendalian hama atau penyakit secara biologis.

Aplikasi kompos untuk mendukung sustainable palm oil

Jajang menjelaskan proses pengomposan yang dijalankan adalah aerobic composting. Sumber bahan bakunya adalah tandan kosong kelapa sawit dan POME (limbah cair PKS). Untuk dekomposer digunakan konsorsium bakteri decomposer yang berkolaborasi dengan perusahaan bioteknologi CISBAY (AGN Lte-CISBAY) dan dikombinasi dengan konsorsium Jamur decomposer (koleksi ANJ Research Center).

Setiap bulan, produksi komposnya dapat mencapai 4000 – 5000 ton, atau per hari rata-rata 150 ton kompos. Jajang menjelaskan cara pengolahan kompos dengan sistem Bay (kapasitas 1000 ton per bay), dimana bahan utama tandan kosong ditumpuk dengan ketinggian 3 meter, bentuk piramid terpotong (20 m x 30 m). Tumpukan tersebut disiram merata decomposer, biasanya dilakukan secara bertahap (setiap hari ada 200-250 ton tandan kosong yang ditumpuk). Kemudian selama 45 hari disiram dengan POME secara merata dengan rasio 1 ton TKS : 3 m3 POME. Pembalikan tumpukan dilakukan 3 kali (interval 10 hari).

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 129)

Share.