• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

AKPY-STIPER Jadi Tuan Rumah Sosialisasi Lomba Riset Mahasiswa BPDP 2026–2027

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta–STIPER (AKPY-STIPER) menjadi tuan rumah Sosialisasi Lomba Riset Tingkat Mahasiswa BPDP Tahun 2026–2027, pada Sabtu (22 Agustus 2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi yang dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk mendorong keterlibatan mahasiswa dalam riset dan inovasi sektor perkebunan.

Sebagai pendidikan tinggi vokasi yang berfokus pada sektor perkebunan kelapa sawit, AKPY-STIPER menyatakan dukungan terhadap program riset tingkat mahasiswa yang diinisiasi BPDP. Dukungan tersebut sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang tidak hanya menekankan penguasaan kompetensi, tetapi juga kemampuan mahasiswa memahami dan menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.

Sosialisasi tersebut diikuti mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya AKPY-STIPER, INSTIPER Yogyakarta, Politeknik LPP, UGM, UNY, dan UTP, bersama dosen pendamping serta pimpinan perguruan tinggi.

Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan,SP.,MP.,IPU mengatakan kampus menyambut baik kepercayaan BPDP menjadikan AKPY-STIPER sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Menurutnya, riset mahasiswa memiliki posisi strategis untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi industri perkebunan.

“Permasalahan industri perkebunan saat ini semakin kompleks, mulai dari produktivitas, perubahan iklim, efisiensi penggunaan pupuk dan air, mekanisasi, digitalisasi, otomasi, AI, IoT, pengelolaan limbah, energi terbarukan, hilirisasi produk hingga tuntutan keberlanjutan,” ujarnya, pada Sabtu (22 Agustus 2026).

Selain persoalan teknis, Dr. Sri Gunawan menilai sektor perkebunan juga menghadapi tantangan sosial, konflik, pencurian, dan berbagai persoalan lain yang membutuhkan pendekatan inovatif.

Sebab itu, ia mendorong mahasiswa perkebunan untuk tidak melihat riset sebagai aktivitas yang hanya dilakukan oleh profesor atau peneliti senior. Mahasiswa, kata dia, harus mulai ditempatkan sebagai bagian dari solusi.

“Mahasiswa juga harus menjadi peneliti muda, inovator, sekaligus problem solver bagi industri perkebunan,” tegasnya.

Menurut Dr. Sri Gunawan, dukungan terhadap riset mahasiswa menjadi penting bagi pendidikan vokasi sawit karena mahasiswa memiliki kedekatan dengan persoalan teknis dan operasional di lapangan. Pengalaman tersebut dapat menjadi sumber ide untuk menghasilkan penelitian yang aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi industri.

Solusi terhadap persoalan industri, lanjutnya, tidak selalu harus lahir dari penelitian yang besar, mahal, dan rumit. Banyak inovasi justru bermula dari persoalan sederhana yang ditemukan di lapangan, kemudian diamati, dipikirkan, diuji, dan dibuktikan secara ilmiah.

Melalui proses tersebut, mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis, mulai dari menemukan masalah, mencari solusi, melakukan percobaan, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan dan menghasilkan inovasi.

Ia berharap sosialisasi Lomba Riset Mahasiswa BPDP 2026–2027 tidak berhenti pada pemahaman mengenai mekanisme lomba, tetapi menjadi pemantik lahirnya proposal-proposal riset yang mampu menjawab kebutuhan nyata industri perkebunan.

“Harapan kami, hasil penelitian mahasiswa tidak berhenti menjadi laporan atau dokumen. Penelitian itu harus bisa berkembang menjadi inovasi, teknologi, produk, bahkan bisnis baru di sektor perkebunan,” katanya.

Dr. Sri Gunawan menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem riset yang dekat dengan persoalan lapangan. Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, industri, dan lembaga pendanaan seperti BPDP dinilai dapat mempercepat proses dari ide penelitian menuju penerapan.

Dengan menjadi tuan rumah sosialisasi, AKPY-STIPER juga ingin menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya riset dan inovasi di kalangan mahasiswa perkebunan. Sebagai pendidikan tinggi vokasi sawit, kampus mendorong agar kegiatan riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki orientasi pada penerapan dan pemecahan masalah.

“Semoga dari ruangan ini nantinya lahir peneliti muda dan inovator perkebunan Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat orientasi pendidikan tinggi perkebunan agar tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknis, tetapi juga generasi yang mampu membaca persoalan, menciptakan solusi, dan menghasilkan nilai tambah bagi industri.

AKPY-STIPER berharap rangkaian sosialisasi ini menjadi titik awal lahirnya riset-riset mahasiswa yang memiliki dampak nyata bagi perkebunan nasional. “Riset unggul, inovasi berdampak, perkebunan Indonesia berkelanjutan,” pungkas Dr. Sri Gunawan.

Artikel Terkait