• Senin, 5 Oktober 2026
Berita Terbaru

AKPY Siapkan Pekebun Banggai Naik Kelas, Produktivitas Sawit Harus Berujung Cuan

Luwuk, SAWIT INDONESIA — Pekebun kelapa sawit di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, didorong untuk tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan teknis, tetapi mampu menjadikan ilmu yang diperoleh selama pelatihan sebagai modal meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Dorongan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian

Pelatihan yang berlangsung di Luwuk, Sulawesi Tengah, Selasa (15 – 20 September 2026) di Luwuk, tersebut diikuti 186 peserta yang terdiri atas pekebun dan penyuluh asal Kabupaten Banggai.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP, MP, saat membuka pelatihan mengatakan, program pengembangan SDM perkebunan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan di ruang kelas. Ilmu yang diperoleh peserta harus diterapkan di kebun sehingga memberikan dampak nyata terhadap produktivitas dan kesejahteraan pekebun.

Menurut Dr. Idum, pelatihan yang difasilitasi melalui Program Pengembangan SDMP 2026 bukan sekadar kesempatan bagi peserta mendapatkan pengetahuan baru. Lebih jauh, pelatihan harus menjadi momentum bagi pekebun untuk naik kelas, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperbesar penghasilan dari usaha perkebunan.

“Ketika kita naik kelas, harapannya tidak hanya sebatas kita bisa berada di hotel ini. Ketika kita naik kelas, produksinya meningkat. Produksinya meningkat artinya penghasilan kita bertambah. Maka salah satu jargon kita adalah Sawit Cuan,” ujar Dr. Idum.

Ia mengatakan, pekebun sawit Indonesia memiliki potensi besar yang perlu terus dikembangkan. Salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi tersebut adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan yang terarah dan aplikatif.

Dukungan BPDP dan Ditjenbun melalui Program SDMP 2026, kata Idum, menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kapasitas pekebun agar mampu mengelola kebun secara lebih baik dan produktif.

Dr. Idum mengajak peserta melihat pelatihan sebagai investasi untuk memperkuat kemampuan mengelola kebun. Dengan pengetahuan yang meningkat, pekebun diharapkan mampu mengambil keputusan budidaya yang lebih tepat sehingga potensi produksi kebun dapat dimaksimalkan.

“Potensi kita luar biasa. Yang perlu di-upgrade salah satunya melalui pelatihan. Dengan potensi yang terus kita kembangkan, harapannya bisa menghasilkan pendapatan yang lebih besar lagi,” katanya.

Sawit Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Idum juga mengingatkan peserta mengenai besarnya peran kelapa sawit dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa berbagai produk yang digunakan sehari-hari memiliki keterkaitan dengan sawit.

Mulai dari sabun, pasta gigi, kosmetik, hingga berbagai produk pangan, sawit menjadi salah satu bahan baku penting. Bahkan, pemanfaatannya juga merambah industri seperti pembuatan ban.

Oleh karena itu, menurut Dr. Idum, pekebun perlu memiliki kebanggaan sebagai bagian dari sektor kelapa sawit Indonesia sekaligus menjaga tanaman tersebut melalui praktik pengelolaan perkebunan yang baik.

“Bapak, Ibu harus bangga kita sebagai petani sawit Indonesia karena semua devisa itu sekarang sebagian besar adalah dari kelapa sawit,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan, tidak semua negara memiliki kondisi yang memungkinkan untuk membudidayakan kelapa sawit. Karena itu, potensi tersebut harus dijaga melalui pengelolaan kebun yang produktif dan berkelanjutan.

“Jadikanlah sawit itu sebagai tanaman kita yang harus kita rawat dan kita jaga,” katanya.

Budidaya Menjadi Fondasi Produktivitas

Dalam pelatihan di Banggai, peserta akan mendapatkan materi mengenai berbagai aspek teknis budidaya kelapa sawit, mulai dari persiapan lahan hingga pemeliharaan tanaman.

Materi pemeliharaan antara lain mencakup pengelolaan gulma, hama dan penyakit, pemupukan serta berbagai aspek teknis lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Idum menjelaskan, seluruh tahapan tersebut saling berkaitan dengan hasil akhir yang diperoleh pekebun. Budidaya yang baik akan menghasilkan tanaman yang produktif, yang kemudian menghasilkan tandan buah segar (TBS) berkualitas.

Karena itu, aspek budidaya tidak dapat dipisahkan dari proses panen dan pascapanen. Ketepatan panen hingga kecepatan pengangkutan TBS ke pabrik pada akhirnya turut menentukan kualitas dan nilai ekonomi hasil kebun.

“Semua ini merupakan satu rangkaian yang tidak bisa terpisahkan. Ketika kita memelihara sawit, golnya apa? Tandan buah segar. Ketika dipanen, maka juga harus cepat dibawa ke pabrik. Memanen pun harus tepat,” jelasnya.

Meskipun fokus pelatihan kali ini adalah teknis budidaya, Idum menyebut peserta juga akan mendapatkan gambaran mengenai keterkaitan budidaya dengan panen dan pascapanen. Hal tersebut penting agar pekebun memahami pengelolaan kebun secara utuh, bukan secara parsial.

Dengan demikian, materi yang diberikan melalui program yang didukung BPDP dan Ditjenbun tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan peserta untuk memperbaiki praktik pengelolaan kebun masing-masing.

Belajar dari Kebun yang Lebih Besar

Untuk memperkuat pembelajaran, peserta tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas. Pelatihan juga dirancang dengan praktik serta rencana kunjungan atau field trip ke kebun yang memiliki skala pengelolaan lebih besar.

Melalui kunjungan tersebut, peserta diharapkan dapat melihat secara langsung bagaimana praktik pengelolaan perkebunan dilakukan, kemudian membandingkannya dengan kondisi kebun yang selama ini mereka kelola.

“Kalau di sana ternyata hasilnya lebih bagus, apa resepnya? Jadi untuk membandingkan satu dengan yang lain dan itu nanti kita ulas supaya Bapak, Ibu semua mendapatkan ilmu yang cukup,” kata Dr. Idum.

Menurut dia, pengalaman peserta yang telah lama berkecimpung di lapangan juga menjadi modal penting dalam proses pembelajaran. Pengetahuan praktis yang dimiliki pekebun dapat dipadukan dengan pengetahuan teknis dari para narasumber sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih aplikatif.

Selanjutnya, ia berharap peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan dengan sebaik-baiknya dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.

“Kami yakin ilmunya juga banyak karena Bapak, Ibu sudah punya pengalaman di lapangan. Nanti kita diskusikan bersama dan kita kolaborasikan dengan para narasumber supaya hasilnya meningkat lebih banyak lagi,” pungkas Dr. Idum.

Artikel Terkait