• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

AKPY Perkuat Kompetensi Pekebun Bengkulu Selatan untuk Tingkatkan Mutu TBS

BENGKULU, SAWIT INDONESIA — Pelatihan teknis panen dan pascapanen kelapa sawit bagi pekebun tidak boleh berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Pengetahuan yang diperoleh harus diterapkan di kebun agar kualitas tandan buah segar (TBS), produktivitas, hingga pendapatan pekebun ikut meningkat.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, saat menutup Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas teknis panen dan pascapanen yang diikuti 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan, Sabtu (12/9/2026), di Bengkulu.

Dr. Idum menekankan, berbagai materi dan praktik yang diberikan narasumber selama pelatihan harus menjadi bekal bagi pekebun untuk memperbaiki praktik panen di kebun masing-masing.

“Tentu saja harapan kami, semua yang diberikan oleh para narasumber, bagaimana cara panen yang benar, sudah diperagakan. Bagaimana manennya, jangan sampai ada berondolan yang tertinggal,” ujarrnya.

Menurutnya, berondolan yang tercecer atau tertinggal di kebun sering kali dianggap sepele. Padahal, kehilangan hasil tersebut memiliki nilai ekonomi dan apabila terjadi berulang dapat mengurangi pendapatan pekebun.

Makasih dari itu, ia meminta peserta mulai memberikan perhatian lebih terhadap setiap tahapan panen, termasuk memastikan buah matang dipanen dengan benar dan seluruh hasil panen dikumpulkan secara optimal.

“Kadang itu disia-siakan. Padahal justru yang berondolan itu rendemennya paling tinggi,” katanya.

Ubah Mindset, Naikkan Kelas Pekebun

Dr. Idum mengatakan, peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga perubahan pola pikir. Pekebun perlu melihat kebun sebagai usaha yang harus dikelola secara efisien dan profesional.

Ia mendorong peserta untuk tidak sekadar mengikuti pelatihan sebagai kewajiban, tetapi menjadikannya momentum untuk mengubah cara mengelola perkebunan.

“Tentu saja harus merubah mindset kita, harus merubah pola pikir kita, supaya semuanya juga naik kelas,” tegasnya.

Dijelaskan Dr. Idum, konsep “naik kelas” tidak hanya ditujukan kepada pengelola maupun pejabat di sektor perkebunan. Pekebun juga memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan kesejahteraannya melalui program pengembangan SDM.

Ia menilai, pelatihan yang didukung pemerintah menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap pekebun sawit, terutama di tengah upaya efisiensi dan pengetatan anggaran.

“Ini sebagai salah satu bentuk penting kepedulian pemerintah kepada para petani sawit. Di saat semuanya efisiensi, di saat semuanya pengetatan ikat pinggang, kita semua bisa berada di sini dalam waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Sebab itu, Dr. Idum mengingatkan peserta agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan melalui Program SDMP 2026. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan harus dibawa pulang dan diterapkan di kebun.

Produktivitas Naik, Kesejahteraan Meningkat

Lebih jauh, Dr. Idum menyampaikan bahwa tujuan utama pengembangan SDM perkebunan adalah mendorong peningkatan produktivitas pekebun. Dengan teknik budidaya, panen, dan pascapanen yang semakin baik, hasil usaha perkebunan diharapkan ikut meningkat.

“BPDP ini menginginkan Bapak Ibu semua produksinya menjadi naik, seperti di perusahaan,” katanya.

Ia menambahkan, peningkatan produksi pada akhirnya akan berdampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan keluarga pekebun.

“Kalau produksinya naik, cuannya banyak, tambah juga kesejahteraan kita juga akan meningkat,” ujarnya.

Dr. Idum juga mengajak peserta melihat kelapa sawit secara lebih luas sebagai komoditas strategis yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Menurutnya, sawit merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat dimanfaatkan hampir seluruh bagian hasilnya.

“Sawit ini merupakan tanaman yang betul-betul luar biasa, zero waste. Jadi kita harus mencintai tanaman ini karena sumber devisa negara terbesar juga dari kelapa sawit,” tuturnya.

Melalui pelatihan teknis panen dan pascapanen tersebut, AKPY berharap 115 pekebun Bengkulu Selatan tidak hanya memahami teori, tetapi mampu membawa perubahan nyata di kebunnya masing-masing.

Perubahan sederhana seperti memanen sesuai tingkat kematangan, menghindari buah matang tertinggal, mengutip seluruh berondolan, serta menangani TBS dengan benar diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan baru pekebun.

Pelatihan SDMP 2026 tidak sekadar menghasilkan peserta yang memperoleh pengetahuan baru, tetapi mendorong lahirnya pekebun yang lebih terampil, efisien, produktif, dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan dari usaha kelapa sawit.

Artikel Terkait