Balikpapan, SAWIT INDONESIA – Lima hari mengikuti Pelatihan Petani Sawit Kelas Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 tidak hanya mempererat kebersamaan para pekebun asal Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Lebih dari itu, pelatihan tersebut memperkaya referensi peserta dalam menerapkan praktik panen dan pascapanen yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil kebun.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P, M.P, mengatakan sebagian besar peserta sebenarnya telah lama melakukan aktivitas panen di kebun masing-masing. Namun, pelatihan menjadi ruang untuk memperluas wawasan sehingga para pekebun memperoleh pembanding terhadap praktik yang selama ini dijalankan.
"Selama ini Bapak Ibu mungkin sudah melaksanakan kegiatan panen setiap hari. Tetapi terkadang apa yang kita lakukan dianggap sudah yang paling benar dan terbaik. Dengan adanya referensi yang lain, Bapak Ibu bisa menambah pengetahuan untuk mengelola kebun menjadi lebih baik. Itulah harapan kami," ujarnya saat menutup pelatihan, pada Selasa (21 Juli 2026), di Balikpapan.
Menurut Idum, penambahan referensi tersebut menjadi penting karena sektor perkebunan terus berkembang. Pekebun perlu memahami teknik panen yang sesuai standar, penanganan tandan buah segar (TBS), hingga praktik pascapanen yang mampu menjaga kualitas hasil sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas maupun pendapatan.
Ia menjelaskan, proses pembelajaran dalam pelatihan tidak hanya dilakukan di ruang kelas. Peserta juga mengikuti praktik langsung dan kegiatan field trip ke perusahaan perkebunan agar dapat melihat implementasi pengelolaan panen dan pascapanen di tingkat korporasi.
"Field trip tetap memiliki manfaat yang besar karena peserta bisa melihat bagaimana pengelolaan di perusahaan. Dari sana mereka bisa membandingkan dengan kondisi di kebun masing-masing, apa yang masih perlu diperbaiki atau justru apa yang sudah berjalan baik," jelasnya.
Selain kunjungan lapangan, peserta juga melakukan praktik di kelas sebagai penguatan materi yang telah diterima dari para narasumber. Menurut Idum, pengalaman praktik akan membuat peserta lebih mudah mengingat setiap tahapan pekerjaan sehingga lebih siap menerapkannya setelah kembali ke kebun masing-masing.
"Beberapa materi yang dipraktikkan memang sangat penting karena berhubungan langsung dengan peningkatan produktivitas kebun, termasuk menjaga mutu tandan buah segar. Pada akhirnya semua itu akan bermuara pada peningkatan pendapatan pekebun," katanya.
Lebih jauh, Idum berharap manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta semata. Ia mendorong seluruh pekebun yang telah mengikuti Program SDMP 2026 menjadi agen perubahan dengan membagikan ilmu kepada petani lain di Kabupaten Paser.
"Jangan simpan ilmunya sendiri. Sampaikan kepada yang lain agar manfaatnya semakin luas. Kami berharap Bapak Ibu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing," pesannya.
Ia juga mengapresiasi antusiasme peserta selama lima hari pelatihan. Menurutnya, selain memperoleh tambahan pengetahuan, para pekebun juga berhasil membangun jejaring dan mempererat silaturahmi, bahkan di antara sesama peserta yang sebelumnya belum saling mengenal.
"Kami melihat pelatihan ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menghilangkan sekat antarpeserta. Dari sini lahir komunikasi, kerja sama, bahkan peluang-peluang baru yang bisa terus berkembang setelah pelatihan selesai," ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Idum menyampaikan terima kasih kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, serta Pemerintah Kabupaten Paser yang telah mendukung penyelenggaraan Program Pengembangan SDM Perkebunan 2026.
"Semoga pelatihan ini benar-benar bermanfaat, menambah semangat, meningkatkan kapasitas, serta mendorong petani kelapa sawit menjadi lebih profesional, mandiri, dan mampu mengelola kebunnya dengan lebih baik," pungkasnya.














