• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

AKPY-BPDP-Ditjenbun Ajak 88 Petani Sawit Kotim Belajar Praktik Panen di Lapangan

Palangka Raya, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 88 petani sawit dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengikuti kunjungan lapangan ke kebun dan pabrik kelapa sawit milik PT Bisma Dharma Kencana (BDK), Senin (22 Juni 2026). Sebagai bagian dari pelatihan Panen dan Pascapanen dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.

Kegiatan field trip ini menjadi salah satu agenda utama pelatihan dengan tujuan utama menyinkronkan teori yang diterima peserta di kelas dengan praktik nyata di lapangan. Melalui kunjungan ini, petani diajak melihat langsung proses budidaya, panen, hingga pascapanen agar pemahaman mereka lebih utuh dan aplikatif.

Praktisi kebun AKPY, Ir. Hartono,M.P yang mendampingi kegiatan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran lapangan menjadi metode paling efektif untuk membangun pemahaman teknis petani.

“Prinsipnya sederhana, dengan mendengar orang gampang lupa, dengan melihat jadi mengerti, dan dengan melakukan jadi paham. Itu tujuan utama kita membawa petani langsung ke lapangan,” ujar Hartono.

Menurutnya, selama pelatihan di kelas, peserta hanya memperoleh teori dan visualisasi. Sementara di lapangan, petani dapat melihat langsung standar operasional perkebunan, mulai dari perawatan tanaman menghasilkan (TM), pengendalian gulma, pengelolaan tanaman penutup tanah seperti Nephrolepis, hingga pengendalian hama dan penyakit.

Pada sesi panen, peserta juga diajak memahami kriteria matang panen dan teknik pruning yang benar. Setelah itu, rombongan melanjutkan kunjungan ke pabrik kelapa sawit untuk melihat langsung proses sortasi dan grading tandan buah segar (TBS).

Hartono menekankan bahwa bagian ini sangat penting karena membantu menyamakan persepsi antara petani sebagai pemasok TBS dengan pihak pabrik sebagai penerima.

“Sering kali menurut petani buah itu sudah matang, tapi ketika sampai di pabrik dinilai kurang matang. Nah, melalui kunjungan ini persepsinya kita samakan,” katanya.

Ia menilai, salah satu tantangan terbesar petani sawit rakyat saat ini adalah masih terlalu berorientasi pada kuantitas panen tanpa memperhatikan kualitas buah. Padahal kualitas TBS menjadi faktor utama dalam menentukan rendemen minyak dan kadar asam lemak bebas (ALB).

“Petani sering fokus pada berat buah. Padahal kualitas kematangan itu yang menentukan rendemen tinggi atau rendah. Kalau kualitas bagus, pabrik untung, dan harga beli TBS juga bisa lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, Manager Kebun PT Bisma Dharma Kencana, Hery Subagyo, menyambut langsung para peserta dan menyampaikan bahwa kunjungan lapangan menjadi momentum penting bagi petani untuk melihat bagaimana pengelolaan kebun sawit dijalankan secara profesional.

Dikatakan Hery, keberhasilan kebun sawit tidak hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari konsistensi penerapan standar teknis di lapangan.

“Di lapangan, petani bisa melihat secara langsung bagaimana proses dari hulu sampai hilir berjalan. Mulai dari perawatan tanaman, teknik panen, sampai bagaimana buah itu dinilai kualitasnya di pabrik,” katanya Hery.

Ia juga menekankan pentingnya disiplin kerja dan penerapan standar keselamatan kerja, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD), sebagai bagian dari budaya kerja profesional di sektor perkebunan.

“Keselamatan kerja itu penting. Di perusahaan, semua proses ada aturannya. Mulai dari penggunaan APD, waktu kerja, sampai prosedur operasional. Ini juga perlu menjadi budaya bagi petani,” katanya.

Hery menambahkan, keterbukaan perusahaan menerima kunjungan petani merupakan bentuk kontribusi dunia usaha dalam mendukung peningkatan kapasitas pekebun rakyat. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan perusahaan menjadi langkah strategis untuk memperkuat produktivitas sawit rakyat secara berkelanjutan.

Melalui kunjungan lapangan ini, AKPY, BPDP, dan Ditjen Perkebunan berharap peserta tidak hanya pulang membawa pengetahuan, tetapi juga perubahan pola pikir—bahwa keberhasilan usaha sawit bukan hanya soal banyaknya TBS yang dihasilkan, tetapi bagaimana menghasilkan TBS berkualitas tinggi dengan standar panen yang benar.

Dengan pendekatan belajar langsung di lapangan, para petani diharapkan mampu menerapkan praktik panen dan pascapanen yang lebih baik di kebun masing-masing, sehingga produktivitas meningkat, kualitas hasil terjaga, dan nilai jual TBS menjadi lebih optimal.

Artikel Terkait