• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

AKPY, BPDP dan Ditjenbun Perkuat SDM Sawit Tanah Bumbu untuk Tingkatkan Produktivitas

Banjarbaru, SAWIT INDONESIA – Peningkatan produktivitas kebun kelapa sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan bibit unggul atau pemupukan. Kunci utamanya terletak pada peningkatan kapasitas petani dan penyuluh agar mampu menerapkan teknik budidaya yang tepat serta memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan kebun.

Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan pelatihan petani sawit, kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit dan Teknik Pemetaan Perkebunan Kelapa Sawit, program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian serta diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pelatihan yang berlangsung pada 27 Juni–2 Juli 2026 ini diikuti 118 peserta, terdiri atas 84 peserta pada kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit dan 34 peserta pada kelas Teknik Pemetaan Perkebunan Kelapa Sawit. Seluruh peserta merupakan petani sawit dan penyuluh dari Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu dalam meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing perkebunan sawit rakyat di tengah tantangan perubahan iklim, tuntutan keberlanjutan, dan perkembangan teknologi.

"Keberhasilan sawit tidak hanya tergantung pada bibit unggul ataupun pupuk, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas manusianya, kualitas petaninya. Karena itu investasi terbaik bukan hanya membeli pupuk atau alat panen, tetapi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Ilmu yang diperoleh akan terus memberikan manfaat bagi kebun maupun keluarga," ujarnya mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, pada Senin (29 Juni 2026).

Menurut Idum, pelatihan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keterampilan pekebun dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga konservasi tanah dan air. Selain itu, peserta juga dibekali kemampuan pemetaan kebun agar pengelolaan lahan dapat dilakukan lebih efektif dan tepat sasaran.

“Bahwa budidaya dan pemetaan merupakan dua aspek yang saling melengkapi. Dengan data spasial yang akurat mengenai luas lahan, batas kebun, dan kondisi tanaman, setiap keputusan budidaya dapat dilakukan secara lebih efisien sehingga berkontribusi terhadap peningkatan hasil panen,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tanah Bumbu, Agus Dwi Wahyono, mengatakan produktivitas kebun hanya dapat meningkat apabila petani memahami seluruh rangkaian pengelolaan sawit, mulai dari budidaya hingga panen dan pascapanen.

"Kalau hanya memahami budidaya tetapi tidak menguasai panen dan pascapanen, hasilnya tentu belum maksimal. Semua materi saling berkaitan sehingga harus dipelajari secara berkesinambungan," katanya.

Agus menambahkan, Tanah Bumbu terus mendapat kepercayaan dari BPDP dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dalam penyelenggaraan program pengembangan SDM sawit. Hal itu terlihat dari peningkatan kuota peserta yang kini mencapai sekitar 280 orang.

Menurutnya, pelatihan juga menjadi bekal penting bagi para penyuluh sebagai ujung tombak pendampingan petani di lapangan. Melalui penyuluh, berbagai teknologi budidaya dan praktik terbaik dapat diterapkan secara lebih luas sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peserta, tetapi juga oleh pekebun lainnya.

Selain teknik budidaya, Agus menilai kemampuan pemetaan kini menjadi kebutuhan penting karena berbagai program pemerintah, termasuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan bantuan sarana-prasarana, mensyaratkan data spasial yang akurat. Karena itu, kemampuan menggunakan perangkat pemetaan perlu dimiliki tidak hanya oleh petani, tetapi juga penyuluh dan aparatur desa.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, drh. Suparmi, menegaskan peningkatan kualitas SDM merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mewujudkan perkebunan sawit yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Ia menyebutkan, dengan luas perkebunan sawit sekitar 509 ribu hektare dan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 6,3 juta ton per tahun, produktivitas kebun rakyat masih perlu terus ditingkatkan agar mampu memenuhi kebutuhan bahan baku bagi 44 pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kalimantan Selatan.

"Tujuan akhirnya adalah produksi dan produktivitas meningkat. Kalau produksi naik, kebutuhan bahan baku industri juga dapat terpenuhi sehingga manfaatnya akan kembali kepada pekebun," ujarnya.

Suparmi juga mengingatkan seluruh peserta agar ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan di kebun masing-masing dan dibagikan kepada petani lainnya sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

Melalui sinergi antara petani, penyuluh, pemerintah, perguruan tinggi, dan BPDP, pelatihan ini diharapkan mampu mempercepat penerapan praktik budidaya yang lebih baik, meningkatkan produktivitas kebun rakyat, serta memperkuat daya saing industri kelapa sawit di Kabupaten Tanah Bumbu.

Artikel Terkait