Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Pelatihan pekebun tidak cukup berhenti di ruang kelas. Setelah mendapatkan teori dan praktik, pekebun perlu melihat langsung bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan di lapangan.
Untuk melengkapi pengetahuan peserta, field trip menjadi bagian penting dalam rangkaian Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026. Kegiatan ini diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Sebanyak 160 pekebun asal Kabupaten Seluma mengikuti kunjungan lapangan ke PT Bio Nusantara Teknologi, pada Sabtu (22 Agustus 2026).
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan field trip tidak sekadar menjadi kunjungan, tetapi kesempatan bagi pekebun untuk melakukan studi banding dan mengukur kondisi kebunnya secara nyata.
“Field trip ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan pelatihan yang sebelumnya sudah dilaksanakan secara in-class. Bapak-Ibu semua sudah mendapatkan teori dan juga praktik secara kecil-kecilan,” ujarnya, pada Sabtu (22 Agustus 2026).
Menurut Dr. Idum, setelah memperoleh teori dan praktik, peserta perlu melihat penerapannya secara langsung. Pekebun dapat membandingkan apa yang telah dipelajari di kelas dengan kondisi kebun sendiri maupun kebun yang dikunjungi.
Dengan cara tersebut, setiap peserta dapat menemukan praktik pengelolaan yang baik dan menilai apakah praktik tersebut dapat diterapkan di kebunnya.
“Semuanya bisa dipelajari, semuanya bisa diambil manfaatnya. Inilah yang paling penting supaya hal-hal yang bagus, hal-hal yang bisa diadopsi di kebun Bapak-Ibu semua itu bisa bermanfaat untuk peningkatan produktivitas,” katanya.
Melihat standar TBS secara langsung
Salah satu pembelajaran penting dalam field trip adalah melihat proses grading TBS. Menurut Idum, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada pekebun untuk melihat secara langsung seperti apa buah yang benar-benar memenuhi standar kualitas.
Ia mengatakan, tanpa pembanding, pekebun terkadang merasa hasil kebunnya sudah sangat baik. Padahal, standar kualitas baru dapat dipahami dengan lebih jelas ketika dibandingkan dengan hasil dari kebun lain.
“Kadang kita merasa buah kita itu sudah luar biasa, buah kita itu sudah bagus. Kalau tidak ada yang kita bandingkan, kadang kita merasa punya kitalah yang paling bagus,” ujarnya.
Melalui proses grading, pekebun dapat melihat perbedaan kualitas buah dan memahami karakteristik TBS yang benar-benar diinginkan untuk menghasilkan rendemen yang baik.
“Ketika kita melihat seperti apa sebetulnya buah yang betul-betul diinginkan, buah yang betul-betul bagus, buah yang betul-betul rendemennya nanti yang dicari, itu biasanya bisa kita lihat ketika kita sudah membandingkan dengan yang lain,” jelasnya.
Pembelajaran tersebut diharapkan membuka perspektif pekebun bahwa peningkatan produktivitas tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga kualitas hasil panen.
Dari melihat ke mengadopsi
Dr. Idum berharap pengalaman yang diperoleh selama kunjungan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peserta. Yang lebih penting, pembelajaran tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi diterapkan di kebun masing-masing.
Menurutnya, field trip memberikan kesempatan kepada pekebun untuk melihat praktik nyata, membandingkannya dengan kondisi kebun sendiri, kemudian memilih hal-hal yang dinilai bermanfaat untuk diadopsi.
“Harapan kami, apa yang nanti diperoleh atau diberikan oleh tim dari Bio Nusantara Teknologi ini akan bermanfaat bagi kita semua, akan menambah semangat untuk terus menambah ilmu dan juga menambah pengalaman,” Dr. Idum.
Dengan demikian, field trip menjadi tahap lanjutan dari proses pembelajaran yang dimulai dari ruang kelas. Teori dan praktik yang telah diperoleh peserta kemudian diuji melalui pengamatan langsung di lapangan.
Bagi 160 pekebun Seluma, kunjungan tersebut bukan sekadar melihat kebun perusahaan. Lebih dari itu, menjadi kesempatan untuk bercermin, membandingkan, dan menemukan ruang perbaikan di kebun sendiri.
Semakin banyak pembanding yang dilihat pekebun, semakin terbuka pula peluang untuk mengenali standar kualitas yang harus dicapai. Pengetahuan tersebut diharapkan mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih baik dan berujung pada peningkatan produktivitas kebun rakyat.














