• Minggu, 20 September 2026
Berita Terbaru

Akademisi Muda sekaligus Peneliti yang Mengubah Paradigma Pengendalian Ganoderma di SIEXPO Pekanbaru 2026

Pekanbaru, SAWIT INDONESIA — Selama ini, pengendalian ganoderma pada perkebunan kelapa sawit kerap dipahami sebatas upaya membasmi jamur penyebab penyakit. Namun, paradigma tersebut mulai bergeser. Pengendalian ganoderma dinilai tidak cukup hanya dengan membunuh patogen, tetapi harus dilakukan melalui sistem terpadu yang dimulai dari pencegahan, penguatan pertahanan tanaman, hingga pemulihan kondisi tanaman.

Paradigma baru tersebut disampaikan Julsento, S.P., M.Sc., akademisi muda sekaligus peneliti dari AKPY-STIPER dan tim ahli PT Gadasakti Agritek Pratama dengan produk brand AUSSIE, dalam sesi sharing knowledge SIEXPO 2026 di Pekanbaru, Riau, Jumat (7/8/2026).

Di hadapan peserta, Julsento membedah ancaman ganoderma yang semakin relevan ketika perkebunan kelapa sawit memasuki siklus tanam kedua atau replanting. Menurutnya, fase tanam ulang memang menjadi peluang untuk memperbaiki produktivitas, tetapi sekaligus menjadi titik kritis karena sisa tanaman dari generasi sebelumnya dapat menjadi sumber inokulum.

Ganoderma ini sebenarnya dahulu merupakan jamur pengurai tanaman-tanaman hutan yang sudah lapuk. Namun, ketika kita mengubah tanaman hutan menjadi tanaman budidaya, jamur yang sebelumnya tidak dianggap mengganggu kemudian menjadi patogen bagi tanaman budidaya,” jelas Julsento.

Ia menekankan bahwa persoalan ganoderma tidak berhenti pada tanaman yang telah menunjukkan gejala. Patogen tersebut dapat bertahan pada material berkayu, tunggul, maupun sisa akar tanaman sebelumnya dan kemudian menginfeksi tanaman pada siklus berikutnya.

Yang perlu diketahui, ganoderma menyebar kuat melalui akar,” ujarnya.

Replanting: Kesempatan Memutus Siklus Ganoderma

Menurut Julsento, memasuki generasi kedua seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan mengganti tanaman tua dengan tanaman baru. Replanting harus menjadi kesempatan untuk memutus mata rantai penyebaran patogen dari tanaman generasi sebelumnya.

Ia menyebut serangan ganoderma telah menjadi persoalan serius di sejumlah sentra perkebunan sawit, terutama di Sumatera. Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah dengan cakupan serangan yang tinggi, sementara penyebaran juga mulai ditemukan di Riau dan sejumlah wilayah Kalimantan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan ganoderma sejak sebelum tanaman baru ditanam.

Kalau kita melubangi, melakukan sanitasi, membuat parit, belum tentu tanaman di sampingnya atau di sekitar aman. Karena ganoderma menyebar kuat melalui akar,” katanya.

Sebab itu, sanitasi tunggul dan akar, pengelolaan sumber inokulum, serta persiapan lahan menjadi langkah awal yang tidak dapat dipisahkan dari strategi pengendalian.

Dari Membasmi Patogen ke Membangun Pertahanan Tanaman

Hal menarik yang ditawarkan Julsento adalah perubahan cara pandang dalam menghadapi ganoderma. Menurutnya, pengendalian tidak seharusnya berhenti pada upaya membasmi patogen.

Mengendalikan ganoderma membutuhkan lebih dari sekadar racun jamur. Kebun membutuhkan sistem pemulihan yang holistik dan berkelanjutan,” ujar dosen AKPY-STIPER tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan terpadu setidaknya mencakup empat aspek, yakni preventif, kuratif, pemenuhan nutrisi, dan pemulihan tanaman.

Artinya, ketika patogen ditekan, tanaman juga harus diperkuat. Sistem perakaran dan tajuk perlu dipulihkan agar tanaman mampu kembali menjalankan fungsi fisiologisnya dan mempertahankan produktivitas.

Percuma kalau hanya bisa mengendalikan jamur, tetapi tanaman tidak kembali seperti kondisi normal dan tidak menghasilkan produksi. Karena itu, tanaman juga perlu dipulihkan,” katanya.

Tiga Lapis Pertahanan Tanaman

Konsep tersebut kemudian diperkenalkan melalui produk brand AUSSIE dengan pendekatan yang disebut Integrated Agronomy Defense System. Pendekatan ini menempatkan pengendalian ganoderma sebagai sistem pertahanan tanaman yang terdiri atas tiga lapisan.

Lapisan pertama adalah pengendalian dan pencegahan patogen. Pendekatan ini menggunakan fungisida organik yang diarahkan untuk membantu mengendalikan dan mencegah ganoderma, busuk akar, busuk pucuk, hingga curvularia, sekaligus menekan risiko penyebaran inokulum baru.

Lapisan kedua adalah active defense atau aktivasi pertahanan tanaman. Pada tahap ini, tanaman didorong agar memiliki respons pertahanan yang lebih baik terhadap tekanan patogen.

Kadang-kadang ketika kita sakit, bukan penyakitnya saja yang diserang, tetapi imun kita diperkuat. Ketika tubuh mulai kuat, kita bisa melakukan pertahanan terhadap penyakit,” jelas Julsento.

Lapisan ketiga adalah boost, yakni regenerasi dan pemenuhan nutrisi. Setelah tekanan patogen dikendalikan dan mekanisme pertahanan tanaman diperkuat, tanaman membutuhkan dukungan nutrisi untuk membantu proses pemulihan fisiologis.

Menurut Julsento, AUSSIE tidak hanya diarahkan pada pengendalian patogen, tetapi juga mendukung pemulihan tanaman melalui nutrisi makro dan mikro. Formulasi yang diperkenalkan menggabungkan fungsi pengendalian jamur dengan aktivator sel dan nutrisi spesifik, termasuk unsur sulfur dan molibdenum.

Jadi AUSSIE ini tidak sekadar fungisida, tetapi juga booster. Mulai dari eliminasi patogen, aktivasi imun, sampai regenerasi sel,” katanya.

Akar Menjadi Titik Penting Pemulihan

Julsento menegaskan bahwa pemulihan akar menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan ganoderma. Hal ini karena serangan patogen berkaitan erat dengan jaringan akar dan pangkal batang.

Setelah tekanan patogen dikendalikan, tanaman tetap membutuhkan dukungan untuk memulihkan jaringan yang rusak dan mengembalikan fungsi fisiologisnya.

Dalam perspektif tersebut, keberhasilan pengendalian ganoderma tidak hanya diukur dari berkurangnya patogen, tetapi juga dari kemampuan tanaman untuk bertahan, pulih, dan kembali berproduksi.

Jadi bukan hanya bagaimana kita membunuh ganoderma, tetapi bagaimana tanaman bisa bertahan, pulih, dan kembali produktif,” ujarnya.

Pendekatan inilah yang menurut Julsento perlu menjadi paradigma baru dalam menghadapi ganoderma, terutama ketika perkebunan kelapa sawit memasuki siklus tanam kedua.

Siklus Kedua Jangan Mewarisi Masalah Siklus Pertama

Memasuki fase replanting, pekebun memiliki kesempatan untuk memperbaiki produktivitas sekaligus mencegah masalah yang sama terulang pada generasi tanaman berikutnya.

Maka, menurut Julsento, siklus kedua jangan hanya dipandang sebagai proses menanam kembali, tetapi sebagai momentum untuk memutus rantai patogen dan membangun kebun yang lebih sehat sejak awal.

Sanitasi sisa tunggul dan akar, pengelolaan sumber inokulum, penerapan tindakan preventif, penguatan pertahanan tanaman, serta pemulihan akar dan pemenuhan nutrisi perlu ditempatkan dalam satu sistem pengelolaan.

Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan penting yang dibawa akademisi muda sekaligus peneliti AKPY-STIPER itu dalam forum SIEXPO 2026: menghadapi ganoderma bukan semata-mata perang untuk membunuh patogen, melainkan upaya membangun tanaman yang lebih kuat dan kebun yang lebih sehat untuk menghadapi siklus produksi berikutnya.

Artikel Terkait