• Rabu, 23 September 2026
Berita Terbaru

73 Peserta dari Rokan Hilir Ikut Pelatihan Panen Dan Pasca Panen, Program SDM Perkebunan Dari BPDP dan Ditjenbun

SAWIT INDONESIA - Antusiasme peserta dari Rokan Hilir terlihat saat kedatangan mereka di Hotel Furaya, Pekanbaru pada hari minggu tanggal 21 Juni 2026 dengan niatan mengikuti pelatihan Panen dan Pasca Panen, yang menjadi program pengembangan sumberdaya manusia dari BPDP dan Ditjenbun. Tahun 2025 lalu, peserta dari Rokan Hilir telah mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit dengan penyelenggara dari Best Planter Indonesia (BPI).

Hasil pelatihan 2025 mendapat apresiasi positif dari peserta, sehingga ditahun 2026 ini banyak peserta dari Rokan Hilir yang mendaftar ikut pelatihan, info dari pendamping kelas Disbun Rohil.

Walaupun ditahun 2026 ini, Best Planter Indonesia ditunjuk menjadi provider untuk pelatihan panen dan pasca panen, mudah – mudahan tidak mengurangi memenuhan harapan dari peserta modul budidaya. Memang sebaiknya modul budidaya dan modul panen diberikan oleh provider pelatihan yang sama, sehingga ilmu dan pengalamannya komplit dari hulu budidaya sampai hilir panen dan pasca panen.

Dalam pelatihan panen dan pasca panen yang diselenggarakan BPI tanggal 22 – 26 Juni 2026, peserta mempelajari tips dan trik buah sawit yang sudah ada dipohon dapat dipanen sesuai kriteria matang panen, seluruh buah dan brondolan dapat dijual ke pabrik tanpa terkena potongan, serta mendapatkan harga jual terbaik. Peserta juga mendapatkan materi tentang akibat panen tidak sesuai standar, seperti tangkai panjang, buah mengkal, pelepah tidak disusun dan perilaku losses (kehilangan buah dan brondol). Kualitas panen tidak sesuai standar berkorelasi positif dengan pengurangan pendapatan.

Pada saat pembahasan panen dan pasca panen, beberapa peserta juga bertanya tentang cara membuat buah sawit banyak dipohon dan buahnya bisa berat. Karena yang dijual pekebun adalah kilogram TBS, walaupun yang dibeli pabrik adalah kilogram CPO. Perlu ada kesepakatan antara pekebun dan pabrik. Narasumber BPI yang berasal dari kalangan praktisi menyampaikan tips dan trik orang lapangan.

Untuk menentukan tangkai panjang atau tidak tips nya adalah dengan menggenggam tangkai. Jika hanya bisa digenggam dengan jari telunjuk dan jempol menandakan tangkai pendek. Jika bisa digenggam dengan jari tengah + jari telunjuk dan jempol maka positif tangkai panjang. Selanjutnya untuk menentukan kandungan minyak dalam buah sudah maksimal adalah dengan brondolan jatuh secara alami minimal 1 brondol.

Peserta juga ada yang bertanya, katanya buah mengkal lebih berat dibandingkan buah matang. Maka banyak pekebun yang memanen buah mengkal. Pemahaman ini diluruskan oleh narasumber BPI, bawa didalam brondolan atau buah itu ada kandungan air dan kandungan minyak. Secara berat jenis, air memang lebih berat dibandingkan minyak. Buah mentang mengandung banyak air, buah matang mengandung banyak minyak. Jika dibandingkan secara kandungan, air dibuah mentang lebih sedikit dibandingkan minyak dibuah matang, ditandai oleh bentuk brondolan dibuah mentah kecil dan kempit, sedangkan brondol dibuah matang berisi montok penuh minyak.

Kenapa dilapangan buah mengkal jadi lebih berat? Jawabannya adalah karena saat matang sempurna, buah sawit membrondol jatuh ketanah. Brondolan yang jatuh tidak dikutib bersih dan tidak ikut ditimbang Bersama janjangannya. Padahal brondolan yang jatuh ke piringan adalah brondolan paling luar dan paling berat. Mendapatkan penjelasan dan pencerahan dari narasumber BPI, peserta menjadi puas. Mereka pun berkata, belajarlah tentang sawit dari sumber yang benar dan terpercaya (BPI).

Selamat berjuang para alumni pelatihan BPI, sampai ketemu lagi 2 – 3 tahun mendatang di program safari sawit BPI. Dan sampai jumpa dipelatihan pengembangan SDM Perkebunan berikutnya dari BPDP dan Dijenbun.

Artikel Terkait