Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Sebanyak 160 pekebun sawit dari Kabupaten Seluma, Bengkulu, mengikuti pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026, Kamis (20/8/2026). Pelatihan ini diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Pelatihan yang berlangsung selama enam hari (19-20 Agustus 2026) tersebut terdiri atas tiga kelas teknis budidaya dan dua kelas panen serta pascapanen kelapa sawit. Peserta dibekali pengetahuan mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, hingga teknik panen, pengumpulan brondolan, penanganan, dan pengiriman TBS.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan produktivitas sawit tidak cukup hanya mengandalkan bibit unggul dan pupuk. Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan sawit Indonesia.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk, tetapi ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh SDM-nya,” ujarnya, pada Kamis (20 Agustus 2026), di salah satu hotel ternama di Bengkulu.
Menurut Dr. Idum, pekebun menghadapi berbagai tantangan, mulai dari produktivitas kebun yang masih perlu ditingkatkan, tanaman tua yang membutuhkan peremajaan, perubahan iklim, tuntutan keberlanjutan, hingga perkembangan teknologi.
Sebab itu, teknik budidaya dan panen-pascapanen perlu dikuasai. Budidaya mencakup pemilihan bibit, pemupukan, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, serta penerapan good agricultural practices (GAP).
Sementara panen dan pascapanen diarahkan untuk memastikan TBS dipanen pada tingkat kematangan yang tepat, ditangani dengan baik, dan segera dikirim ke pabrik.
“Sering kali kehilangan pendapatan petani bukan karena rendahnya produksi, tetapi karena kesalahan dalam proses panen dan pascapanen,” kata Dr. Idum.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, SP., M.Si., mengatakan pelatihan ini menjadi kesempatan bagi pekebun untuk meningkatkan kemampuan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun.
Ia berharap 160 peserta juga dapat menjadi penular ilmu bagi keluarga, tetangga, dan pekebun lainnya. “160 orang bisa nanti bercerita, berbagi ilmu dengan tetangga, dengan keluarga,” katanya.
Arian juga mendorong agar program pelatihan dapat dilanjutkan pada tahun berikutnya sehingga semakin banyak pekebun memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., MP., mengatakan perkebunan rakyat memiliki peran besar dalam sektor sawit Bengkulu.
Luas areal sawit di Bengkulu mencapai lebih dari 426 ribu hektare, dengan lebih dari 75 persen merupakan perkebunan rakyat. Produksi CPO mencapai sekitar 1,06 juta ton per tahun.
Menurut Sri Herlin, kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan pekebun. Salah satunya melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan.
“Dengan adanya pelatihan ini kami berharap Bapak-Ibu bisa meningkatkan kualitas TBS sehingga harga juga bisa meningkat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan teknik budidaya, panen, dan pascapanen yang baik juga penting untuk memenuhi tuntutan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Melalui pelatihan tersebut, 160 pekebun Seluma diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan produktivitas kebun, menjaga mutu TBS, dan meningkatkan pendapatan.
“Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas saja, tetapi dari petani yang mau terus belajar untuk meningkatkan potensi,” imbuh Dr. Idum.














