World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS) dapat memperkuat soliditas petani sawit antar negara produsen untuk menghadapi isu negatif dan posisinya di perdagangan dunia.
Ketua Dewan Pembina DPP APKASINDO, Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, menjelaskan bahwa kehadiran para delegasi dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin adalah momentum untuk merajut kekuatan bersama. Pidato ini disampaikannya dalam pembukaan IOPS Forum 2026 yang dibacakan oleh Dewan Pembina DPP APKASINDO, Mayjen TNI (Purn.) Erro Kusnara, S.I.P.,.
Selama ini, petani sawit kerap berada di posisi rentan akibat tekanan regulasi global, fluktuasi harga, dan standar keberlanjutan yang tidak selalu sesuai dengan realitas di lapangan. Karena itu, petani perlu ditempatkan sebagai bagian utama dalam rantai pasok sawit dunia, bukan sekadar objek kebijakan.
"Hari ini kita membuktikan bahwa petani sawit bukanlah objek. Kita adalah bagian utama dan tulang punggung rantai pasok minyak sawit dunia. Dengan bersatunya perwakilan lintas negara, kita mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa petani sawit global kini telah bangkit dan bersatu," tegas Moeldoko.
Salah satu hasil krusial dari IOPS Forum 2026 di IKN adalah penandatanganan Joint Statement oleh seluruh delegasi negara peserta. Penandatanganan ini menjadi tonggak sejarah lahirnya forum komunikasi global petani sawit yang dinamakan World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS).
“Ini adalah sebuah pakta solidaritas, sebuah instrumen diplomasi persawitan yang bermartabat dan berkelanjutan. Dan yang lebih membanggakan, langkah besar ini disaksikan langsung oleh para mitra strategis di tingkat global: RSPO, CPOPC, dan Solidaridad. Ini adalah sebuah pakta solidaritas, sebuah instrumen diplomasi persawitan yang bermartabat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui WCOPS, menurut Moeldoko, petani sawit swadaya/kebun rakyat dari berbagai belahan dunia akan memiliki wadah resmi yang membawa tiga manfaat. Pertama, saling bertukar praktik terbaik (best practices) dalam pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan.
Kedua, memperkuat posisi tawar (bargaining power) petani di tingkat internasional. Ketiga, memastikan setiap kebijakan dan regulasi global yang mengatur komoditas sawit melibatkan serta memberi manfaat nyata bagi petani.
Penguatan kerja sama tersebut, jelasnya, tidak hanya diarahkan pada kepentingan petani dalam menghadapi regulasi global. Lebih jauh, sawit memiliki peran penting dalam kesejahteraan petani, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan wilayah.
Karena itu, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan rakyat perlu berjalan beriringan dengan upaya memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang layak.
Ia mengajak seluruh petani sawit dunia menjaga kekompakan dan menjadikan WCOPS sebagai jembatan diplomasi untuk memperjuangkan hak serta kesejahteraan petani dan generasi penerus.
"Kekuatan terbesar dari sebuah organisasi adalah soliditasnya. Jadikan WCOPS sebagai jembatan diplomasi yang kokoh untuk melindungi hak-hak petani sawit demi kesejahteraan keluarga dan generasi penerus kita," pesan Moeldoko.














