• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Triputra Group, PCI, dan TAP Group Gelontorkan Bantuan Rp8 Miliar untuk Korban Gempa Flores M 7,7

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Solidaritas kemanusiaan bagi korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalir. Kali ini, konsorsium bisnis yang terdiri dari Triputra Group, Persada Capital Investama (PCI), dan Triputra Agro Persada (TAP) Group berkomitmen menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai total Rp8 miliar guna mendukung penanganan komprehensif dari fase tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.

"Pada prinsipnya kami ingin membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan di mana pun mereka berada," tulis manajemen Triputra Group dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).

Berdasarkan data hingga 28 Agustus 2026, realisasi bantuan darurat yang telah berhasil disalurkan oleh gabungan entitas usaha tersebut tercatat mencapai Rp2,15 miliar.

Sinergi Distribusi Lintas Lembaga ke Wilayah Terdampak

Dalam menyalurkan logistik dan dana bantuan, Triputra Group menggandeng berbagai unsur strategis di lapangan, mulai dari jajaran TNI, Polri, Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Amanah Anak Nusantara (YPKAAR), hingga Politeknik Christo Re Maumere. Distribusi bantuan difokuskan langsung ke sejumlah titik terparah, di antaranya Kabupaten Sikka, Manggarai, hingga Manggarai Barat.

Gempa bumi tektonik berkekuatan M 7,7 yang berpusat di 90 kilometer barat daya Sikka pada 15 Agustus 2026 lalu memang meninggalkan luka mendalam. Berdasarkan data resmi BNPB dan BPBD NTT per 22 Agustus 2026, bencana ini berdampak serius di 14 kabupaten/kota dengan catatan tragis: sekitar 225.000 jiwa terdampak, 105 orang meninggal dunia, dan lebih dari 18.000 warga terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat. Selain itu, sekitar 15.700 unit rumah warga serta 210 fasilitas umum mengalami kerusakan berat.

Fokus Bergeser ke Pemulihan Pascabencana

Sebagai tahap lanjutan dari komitmen Rp8 miliar tersebut, konsorsium Grup Triputra kini tengah menyiapkan strategi matang untuk memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa.

Fokus penanganan ke depan tidak lagi sekadar logistik pangan, melainkan diarahkan pada perbaikan infrastruktur vital yang lumpuh, seperti fasilitas umum, sekolah, tempat ibadah, dan sarana kesehatan yang rusak akibat guncangan. Tak hanya itu, korporasi juga menyiapkan rencana strategis berupa penyaluran bahan bangunan serta bantuan perangkat panel surya untuk memulihkan akses energi bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Sumber: tap-agri.com

Artikel Terkait