• Kamis, 15 Oktober 2026
Berita Terbaru

Tertekan El Nino dan Mandatori B50, GAPKI Proyeksi Ekspor Sawit 2027 Anjlok 5 Juta Ton

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan volume ekspor minyak sawit Indonesia pada tahun 2027 berpotensi mengalami penurunan signifikan hingga 5 juta ton menjadi hanya sekitar 26,5 juta ton. Penurunan tajam ini dipicu oleh guncangan produksi akibat dampak El Nino yang bertepatan dengan lonjakan konsumsi domestik seiring penerapan penuh mandatori biodiesel B50.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengungkapkan bahwa implementasi B50 pada tahun 2026 relatif lancar karena baru dimulai pada Juli dengan masa transisi dua bulan, sehingga tambahan penyerapan CPO hanya sekitar 1 juta ton. Namun, tantangan sesungguhnya baru akan terasa pada 2027.

“Yang jadi masalah adalah di tahun 2027. Secara produksi pasokan sebenarnya cukup, tetapi pasti ada pos yang dikorbankan. Tidak mungkin kita mengurangi konsumsi pangan atau minyak goreng di dalam negeri, sehingga yang paling memungkinkan dikurangi adalah alokasi ekspor,” tegas Eddy dalam konferensi pers The 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC 2026) di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Poin-poin utama proyeksi produksi, risiko tarif pungutan ekspor terhadap TBS petani, guncangan pasar global, serta evaluasi alokasi B50 meliputi:

  • Ancaman El Nino pada Produksi 2027: Tanpa gangguan iklim, produksi sawit nasional 2027 sejatinya berpotensi menembus 59,5 juta ton. Namun akibat dampak El Nino, produksi diproyeksikan tergerus menjadi 56,6 juta ton (termasuk CPO sebesar 52 juta ton), atau sekitar 4,9 persen di bawah potensi optimalnya.

  • Lonjakan Konsumsi B50: Konsumsi CPO untuk kebutuhan program biodiesel diproyeksikan melonjak hingga 17,4 juta ton sepanjang tahun 2027 akibat pemberlakuan B50 secara Penuh.

  • Peringatan Pungutan Ekspor (PE) & Harga TBS Petani: Eddy memeringatkan pemerintah agar tidak menutup kekurangan dana insentif BPLU/biodiesel akibat berkurangnya volume ekspor dengan cara menaikkan tarif Pungutan Ekspor (PE). Kenaikan PE berisiko menekan harga CPO domestik yang pada akhirnya akan langsung memukul harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani.

  • Guncangan Pasar Minyak Nabati Global: Pengurangan ekspor 5 juta ton dari produsen sawit terbesar dunia dipastikan memicu kenaikan harga minyak nabati global, tidak hanya pada minyak sawit tetapi juga pada minyak kedelai dan bunga matahari di pasar ekspor seperti Eropa dan India.

  • Kapasitas Kebun Agrinas Palma: Menanggapi rencana PT Agrinas Palma Nusantara yang ingin memasok 20 persen B50, GAPKI menilai estimasi luasan kebun yang dikelola Agrinas (sekitar 750 ribu hektare) saat ini belum memadai untuk menutup potensi defisit pasokan ekspor sebesar 5 juta ton tersebut.

Isu krusial mengenai skema pendanaan berkelanjutan dan kepastian pasokan B50 ini dipastikan menjadi topik utama yang akan dibahas bersama para analis global dalam ajang tahunan IPOC 2026 di Bali pada 11–13 November 2026 mendatang.

Artikel Terkait