Banda Aceh, SAWIT INDONESIA — Penyelenggaraan Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Seluruh Indonesia (DPW APKASINDO) Aceh telah berlangsung di Banda Aceh, pekan lalu (8 Oktober 2026). Fadhli Ali secara resmi dipercaya dan terpilih secara aklamasi untuk menakhodai DPW APKASINDO Aceh.
Muswilub ini juga dihadiri oleh Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung, yang terbang secara langsung dari Jakarta menuju Banda Aceh.
“Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan anggota APKASINDO Aceh untuk memberikan Amanah kepada saya,” ujar Fadhli Ali.
Sebagai salah satu pilar ekonomi penting, perkebunan kelapa sawit rakyat memegang peran vital dalam menopang kesejahteraan ribuan kepala keluarga di Aceh. Namun, Fadhli menyadari bahwa tantangan yang dihadapi petani swadaya saat ini masih sangat kompleks.
Tantangan tersebut mulai dari legalitas lahan, produktivitas tanaman yang belum optimal akibat keterbatasan bibit unggul, fluktuasi harga Tandan Buah Segar (TBS), hingga integrasi dengan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan pemenuhan standar keberlanjutan, menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk diselesaikan.
Berangkat dari niat tulus untuk berkhidmat, menyatukan potensi, dan membawa perubahan nyata, Fadhli Ali hadir dengan mengusung Visi besar, Misi komprehensif, serta Program Kerja Strategis demi kemajuan petani sawit di seluruh penjuru Aceh.
Dalam kepemimpinannya, Fadhli berupaya mewujudkan APKASINDO Aceh sebagai organisasi profesi yang solid, transparan, mandiri, dan responsif guna mewujudkan petani kelapa sawit Aceh yang Sejahtera, Berdaulat, dan Berkelanjutan Berlandaskan Nilai-Nilai Kearifan Lokal.
Guna menerjemahkan visi tersebut, Fadhli berkomitmen menjalankan 10 misi utama dalam membangun organisasi APKASINDO Aceh dan penguatan anggotanya.
Pertama, penguatan tata kelola organisasi (Institutional Strengthening).
Kedua, membangun struktur organisasi DPW hingga DPD yang solid, inklusif, akuntabel, dan transparan, serta bersinergi harmonis dengan DPP APKASINDO.
Ketiga, Advokasi Hak dan Legalitas Lahan Petani.
Keempat, menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak petani swadaya, mempercepat kepastian hukum aset perkebunan, serta mengatasi kendala tumpang tindih kawasan hutan.
Kelima, Peningkatan Produktivitas dan Kapasitas SDM.
Keenam, mendorong percepatan transfer teknologi, pemanfaatan riset perkebunan, dan memfasilitasi akses perolehan bibit unggul bermutu bagi seluruh petani sawit di Aceh.
Ketujuh, Stabilitas dan Transparansi Tata Niaga TBS. Kedelapan, mengawal implementasi regulasi penetapan harga TBS di tingkat provinsi agar adil dan transparan, menekan kesenjangan harga, serta memperkuat kemitraan antara kelembagaan petani dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
Kesembilan, akselerasi Sawit Berkelanjutan (Sustainable Palm Oil). Kesepuluh, mendukung penuh implementasi program lingkungan lokal, termasuk Rencana Aksi Daerah Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) Provinsi Aceh, guna memastikan produk sawit rakyat berdaya saing global.
Program Kerja Nyata Terukur
Sebagai langkah taktis yang langsung dieksekusi, Fadhli memetakan program prioritas ke dalam tiga bidang utama:
• Bidang Organisasi & Keanggotaan: Melakukan digitalisasi pemutakhiran basis data anggota guna mempermudah distribusi program bantuan pemerintah, seperti beasiswa dan fasilitasi sarana prasarana. Selain itu, konsolidasi wilayah akan diintensifkan melalui kunjungan kerja rutin ke DPD di wilayah Barat-Selatan, Timur-Utara, hingga Tengah Aceh.
• Bidang Kemitraan & Tata Niaga: Mengirimkan perwakilan ahli dari APKASINDO yang aktif dan vokal dalam Tim Penetapan Harga TBS Provinsi di Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, serta membentuk koperasi petani di tingkat DPD guna memutus rantai pasok yang merugikan dan membuka peluang hilirisasi UMKM.
• Bidang Peremajaan & Sarpras: Membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgas PSR Aceh) guna mendampingi kelompok tani dan koperasi dalam pengajuan serta pencairan dana Peremajaan Sawit Rakyat dari BPDPKS agar terbebas dari hambatan birokrasi.
Titik Awal Kebangkitan Sawit Aceh
Di akhir wawancaranya, Fadhli menegaskan bahwa masa depan sawit Aceh berada di tangan para petani hari ini. Ia mengajak seluruh elemen untuk bergandengan tangan, membangun kepemimpinan yang solid, dinamis, berani bersuara, serta tetap patuh pada garis kebijakan DPP APKASINDO.
"Mari bersama-sama kita jadikan momentum Muswilub ini sebagai titik awal kebangkitan kesejahteraan petani sawit dari ujung Serambi Mekkah untuk kejayaan Indonesia di kancah dunia," pungkas Fadhli penuh optimisme.














