Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi 2019-2024 Luhut Binsar Pandjaitan akan membenahi tata kelola sawit lewat pengawasan berbasis digital. Melalui digitalisasi dalam pengelolaan sektor sawit, sebagai langkah kunci untuk meningkatkan kontribusinya terhadap ekonomi nasional dan menjadikan Indonesia lebih baik secara keseluruhan.
“Sawit nggak pernah dijamah atau kurang dijamah atau mungkin tidak dijamah, sehingga penerimaan itu nggak jelas,” kata Luhut saat menghadiri pengukuhan Kepengurusan DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Luhut mengaku telah melaporkan ke Presiden Terpilih Prabowo Subianto tentang jurus meningkatkan penerimaan negara ini.
“Ini saya laporkan juga pada Presiden Terpilih, saya katakan Pak sebenarnya enggak terlalu susah, kalau kita mau konsisten terhadap digitalisasi,” kata Luhut.
Luhut mengatakan sistem ini juga telah meningkatkan penerimaan negara sebesar 40% pada komoditas batu bara. Kepada Prabowo, dia mengatakan juga sedang menggarap Simbara untuk komoditas lainnya, yakni kelapa sawit. “Sekarang Simbara untuk kelapa sawit kita mulai,” kata Luhut yang kini menjabat Ketua Dewan Ekonomi Nasional di era Presiden Prabowo.
Luhut mengatakan selama ini data mengenai kelapa sawit di Indonesia kurang lengkap. Padahal, kata dia, potensi penerimaan negara dari komoditas ini amat besar.
“Kelapa sawit datanya sampai hari ini baru mulai lengkap dan itu penerimaan negara yang besar sekali,” kata dia.
Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo menyebut terdapat potensi penerimaan negara sebesar Rp 300 triliun yang belum tergarap.
Dia mengatakan Prabowo tentu akan mengejar potensi penerimaan negara yang hilang itu. Prabowo, kata dia, juga sudah memegang daftar 300 pengusaha ‘nakal’ yang mengemplang pajak.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengajak Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) untuk berfokus pada peningkatan produktivitas sawit nasional. Menurut Wamentan Sudaryono, industri sawit memiliki peran strategis dalam menambah devisa negara dan menjadi lokomotif utama dalam pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu, Wamentan Sudaryono atau yang akra bdisapa Mas Dar ini menekankan pentingnya menggenjot produktivitas sawit nasional hingga 17 ton per hektare.
"Paling tidak kita bisa 17 ton per hektare, mendekati Malaysia yang 18 ton per hektare," ujarnya saat menghadiri pengukuhan kepengurusan Apkasindo 2024 di Auditorium Utama Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Wamentan Sudaryono menyampaikan, pemerintah berkomitmen menjaga sawit sebagai komoditas strategis yang tidak hanya mendukung perekonomian nasional tetapi juga kesejahteraan petani.
Saat ini, tambahnya, sawit Indonesia menguasai 60 persen pasar dunia. Wamentan Sudaryono juga menyoroti pentingnya hilirisasi, termasuk pengembangan biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan pada impor biosolar.
"Dengan begitu, kita bisa mengembangkan hilirisasi sawit menjadi banyak kebutuhan lain seperti biodiesel B50 yang kini sudah berjalan untuk memenuhi kebutuhan biosolar. Kalau kita bicara sawit, kita punya catatan pada ekspor CPO (Crude Palm Oil) kita sekaligus menjadikan bahan hilirisasi yang berhasil mengembangkan B35 dan B50. Syukur syukur kita bisa mengurangi 100 persen impor biosolar," tambahnya.
Selain itu, Wamentan Sudaryono meminta agar kebun sawit dapat ditumpangsarikan dengan tanaman padi gogo untuk mendukung ketahanan pangan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi padi nasional.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 156)














