• Senin, 28 September 2026
Artikel

Tantangan Kebutuhan Dan Pembangunan SDM Sawit Masa Depan

Saat ini, pendidikan tidak lagi bisa dikelola dengan cara konvensional. Munculnya generasi milenial, digital, hingga generasi AI telah melahirkan budaya belajar yang sepenuhnya baru. Pengalaman pandemi COVID-19 dan keberadaan teknologi yang melimpah menuntut adanya model penyelenggaraan pendidikan alternatif. Fokusnya tidak sebatas transfer ilmu melainkan mempersiapkan kemampuan digital yang dinamis.

Redaksi Majalah Sawit Indonesia mewawancarai Dr. Purwadi adalah Rektor INSTIPER periode 2009-2019 yang juga penerima pengahargaan LifeTime Achivement Award bidang SDM Sawit dan Tokoh SDM Sawit dari Majalah Sawit Indonesia, Majalah Media Perkebunan dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Saat ini beliau menjadi Direktur Ekskutif Pusat Sains Kelapa Sawit INSTIPER Yogyakarta.

Berikut ini petikan wawancara yang kami lakukan pada awal April 2026:

SI: Untuk membuka wawancara ini, seperti apa perkembangan terbaru dari program pengembangan SDM perkebunan di INSTIPER dan AKPY?

P: Pada tahun ini saya sedang fokus untuk untuk program transformasi Yayasan YPKPY, badan penyelenggara yang menyelenggarakan Institut Pertanian Stiper Yogyakarta dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta. Juga sedang proses pendirian Politeknik Industri Perkebunan Yogyakarta.

SI: Mohon dapat dijelaskan apa yang menjadi target transformasi pendidikan di INSTIPER dan AKPY?

P: Seperti telah diketahui, INSTIPER dan AKPY saat ini menjadi Lembaga Pendidikan terbaik dan terpercaya untuk kompetensi kelapa sawit dan kami akan tetap mempertahankan hal itu. Model pendidikan sarjana sawit di INSTIPER didesain dn dimulai sejak tahun 2005, saat ini sudah tahun 2026, artinya sudah 20 tahun lebih dan karenanya mulai tahun akademik 2025/26 telah dimulai model pendidikan baru. Kami melihat bahwa Kondisi sudah berubah, pada era VUCA dan pertumbuhan generasi ini, perubahan berlangsung cepat dan dinamis, termasuk penyelenggaraan pendidikan, baik cara-cara pembelajaran, “proses bisnis” maupun “model bisnis”, pendidikan sudah perlu berubah

SI: Bagaimana tantangan pendidikan kompetensi sawit kedepan dan bagaimana Yayasan menyikapi melalui transformasi lembaga pendidikannya?

P: Pada penyelenggaran pendidikan ada perubahan yang sangat dinamis, dimulai dari: (1) munculnya generasi milenial, generasi digital dan mulainya generasi AI, (2) perkembangan teknologi informasi, (3) pandemic C19, (4) tata kelola kebun, (5) keterbatasan SDA murah dan tenaga kerja murah, serta perubahan iklim, di sisi lain adanya ketersediaan dan kelimpahan teknologi. Saat ini sudah dibutuhkan proses dan model penyelenggaraan pendidikan alternatif. Generasi milenial-digital-AI yang baru dan berbeda, respon terhadap perkembangan dan kelimpahan teknologi, dampak telah menumbuhkan perilaku dan budaya baru, dalam pendidikan dan pembelajaran.

Perkembangan tata kelola bisnis industri perkebunan juga berubah. Artinya kebutuhan kompetensi lulusan pun harus berubah, era pembangunan kebun yang awalnya berdasarkan kelimpahan sumber daya alam dan tenaga kerja murah sudah usai. Kini tantangan perubahan iklim, saat ini telah masuk era kelimpahan teknologi, maka tata kelola kebun akan berkembang, lalu akan ada penyesuaian pola dan teknis budidaya, dan juga manajemen operasionalnya.

SI: Seperti apa transformasi pendidikan yang dijalankan di INSTIPER dan AKPY?

P: Yayasan telah membentuk tim khusus untuk mendesain “transformasi model pendidikan” sejak 2004 dan selama satu setengah tahun penuh menemukan model baru tersebut. Selanjutnya Yayasan menugaskan INSTIPER dan AKPY, untuk melakukan “transformasi total”, jika sejak 2005 sampai dengan 2024 pengembangan bersifat “continues improvement” maka 2025 telah manjadi model pendidikan baru yang berbeda, “all new INSTIPER ”, “proses bisnis baru” kurikulum dan cara-cara pembalajaran baru, “model bisnis” terkait sistem pembiayaan dan sumber pendanaan.

Proses pendidikan di INSTIPER sudah menggunakan kurikulum blok kompetensi dengan sub-sub blok kompetensi. Model belajar kelas dan praktikum akan mengacu pada sub-sub blok kompetensi. Untuk pembelajaraan pendidikan pertanian-perkebunan model pendidikan ini belum pernah ada. Jadi ini model pendidikan baru, melalui proses bisnis baru, cara-cara pembelajaran baru dan juga model bisnis baru.

Oleh karena itu, kami sedang menyiapkan infrastruktur pembelajaran dan praktek yang baru serta menyiapkan dosen-dosen dengan teknik mengajar dan kultur serta budaya baru. Kesiapan dosen ini sangat penting dalam transformasi INSTIPER dan AKPY, dan kebetulan kami dapat momentum yang pas karena dalam rentang 2024-2026 ini kami sedang dapat “wind fall” dosen lulusan doktor yang baru selesai pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Terdapat tiga doktor dari Jepang dan satu dari Inggris serta enam orang dari dalam negeri dan tentunya rekrutmen baru dosen master maupun doktor sesuai kebutuhan.

Yayasan saat ini juga sedang melakukan usulaan pendirian Lembaga Pendidikan baru, yang memanfaatkan teknologi terkini, sementara kita namakan “Politeknik Industri Pertanian Yogyakarta” (PIPY) dan berharap sudah beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027. Model ini akan mengkombinasikan pembelajaran berbasis kurikulum blok dengan teknologi terkini, praktek kompetensi dan pengembangan karakter khas pendidikan INSTIPER dan AKPY selama ini. Lembaga Pendidikan ini pada saatnya akan mengisi peluang kerja untuk manajer pratama setara Diploma 3. Dengan Demikian Yayasan akan menyelenggarakan pendidikan D1 hingga S3, di AKPY untuk pendidikan D1-D2. PIPY untuk D3, INSTIPER untuk jenjang S1 – S2, serta S3 yang dalam waktu dekat akan segera diusulkan.

SI: Bagaimana dengan terobosan lain untuk pendidikan perkebunan khususnya kelapa sawit?

P: Saat ini INSTIPER melalui program strata dua Magister Manajemen Perkebunan telah menyelenggarakan pendidikan dengan kompetensi Manajemen dan Bisnis Perkebunan, yang selanjutnya para mahasiswa dapat mengambil minat Manajamen Produksi, Manajemen Bisnis, Manajemen Teknologi Proses, dan Manajemen Lingkungan dan Sustainability. INSTIPER juga sedangkan menyiapkan kelas internasional untuk program S2 Menajemen Produksi dan Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit. Lalu dalam waktu tidak lama lagi akan mengusulkan pendidikan jenjang S3, Doktor Manajemen Bisnis Perkebunan.

Untuk program S1 sedang kita kembangkan juga kelas internasional dan kelas khusus dengan proses pembelajaran yang fleksibel. Kedua model pendidikan ini memberikan persyaratan khusus melalui kontrak-kontrak pembelajaran melalui studi di kampus dan studi lapangan.

SI : Bisa dijelaskan lebih detail kebutuhan dan penyediaan SDM sawit di masa depan?

P: Seperti telah saya sampaikan, perkebunan kelapa sawit sedang dalam proses transformasi di mana cara-cara lama, proses bisnis lama dan model bisnis lama, sudah perlu disesuaikan. Era sumber daya alam murah mulai terbatas, SDM murah mulai terbatas, memasuki tantangan perubahan iklim, interrelasi dan ketegangan sosial sudah meningkat berkat perkembangan teknologi informasi. Pada sisi lain, saat ini ada kelimpahan teknologi, baik teknologi mekanis, digital, maupun teknologi biologi. Juga ada kelimpahan SDM muda “melek” teknologi. Karena tatakelola kebun sudah harus berubah disesuaikan dengan keterbatasan-keterbatasan dan kelimpahan-kelimpahan yang saya sampaikan diatas. Maka kebutuhan SDM sudah berbeda, kebutuhan kompetensi harus berkembangan, dan Pendidikan SDM sawit juga harus disesuaikan. Tata kelola perkebunan sawit sedang bertransformasi menuju cara-cara baru, proses bisnis baru, model bisnis baru, dalam sebuah ekosistem yang baru.

SI: Apa yang dimaksud dengan cara-cara baru, proses bisnis baru, model bisnis baru di perkebunan kelapa sawit?

P: Perkebunan harus memanfaatkan kelimpahan teknologi dan SDM milleneal, untuk mneghadapi tantangan sumberdaya alam dan tenaga kerja murah yang semakin terbatas, perubahan iklim, konflik sosial. Perangkat teknologi baru akan semakin murah, namun membutuhkan transisi dalam transformasinya, membutuhkan dukungan ekosistem baru dengan dukungan SDM kompeten.

Kita ambil contoh sederhana seperti mekanisasi dan digitalisasi sistem panen, menggunakan alat mesin dan berarti menggunakan cara-cara baru, penggunaan alat-mesin dan digitalisasi membuat adanya proses dan sistem kerja baru, dan proses dan sistem kerja baru membutuhkan cara perhitungan produktivitas kerja yang baru dan pengupahan yang baru. Sistem baru ini berkaitan kepada dukungan “supporting system” transportasi, bengkel, perol, manajemen pabrik, artinya butuh bangunan ekosistem baru.

Hal tersebut bagian pekerjaan besar, ini bukan urusan mekanisasi sebagai substitusi tenaga kerja. Oleh karenanya perlu dipersiapkan dan direncanakan dengan baik. Persiapkan SDM untuk kebutuhan transformasi ini bukan hanya tenaga kerja, tapi SDM manajemen mulai dari mandor, asisten, asisten kepala, manajer, general manajer bahkan sampai direktur.

SI: Bagaimana dengan sinergi penyiapan kebutuhan SDM yang baru atau kebutuhan kompetensi yang berkembang?

P: Pendidikan tinggi dan lembaga pelatihan, juga harus berubah. Saat ini transformasi tatakelola kebun sedang berproses, butuh dukungan SDM dengan kompetensi tambahan saya sebut “planter plus” karakter planter, melek dan respon perkembangan teknologi serta untuk mendukung aplikasi hasil inovasi dari agroteknologi, serta trampil membangun relasi lingkungan sosial dalam kerangka “good plantation governance”.

Lembaga pendidikan harus bertransformasi “seiring” perkembangan transformasi tatakelola perkebunan sawit, bahkan akan lebih baik jika sedikit mendahului agar bisa menjadi “driver” proses transformasi di perkebunan.

SI: Bagaimana INSTIPER dan YPKPY menyiapkan pengembangan kebutuhan

SDM yang baru dengan kebutuhan kompetensi yang sedang berkembang?

P: YPKPY sebagai badan penyelengara INSTIPER dan AKPY, sudah menyelesaikan dokumen cetak biru untuk transformasi ini. Pada saatnya pendidikan akan mengakomodasi ketersediaan ruang dan waktu serta ekonomi, pendidikan akan dapat diakses oleh siapa saja, di mana saja, kapan saja, tentu oleh yang terdaftar dan mengikuti nya. Pembelajaran daring, luring maupun hibrid akan diselenggarakan mengikuti permintaan mahasiswa sesuai ketersediaan dan atau keterbatasan yang dimilikinya.

INSTIPER dan AKPY akan melakukan pendidikan sesuai diatas, saat ini kesiapan teknologi telah mencapai 100 %, penyesuaian kurikulum sedang berlangsung demikian juga dengan hitung-hitungan SPP-nya. Khusus fasilitas pendukung sudah dikembangkan sejak 4 tahun lalu sebuah kegiatan ko-kurikuler melalui lembaga-lembaga: Drone Academy, Robotic Academy, Smart Greenhouse Academy, IT Academy, Artificial Intelligence Academy, Multimedia Technology Academy, dan English Academy. Lembaga ini terintegrasi dengan laboratorium untuk membangun ketrampilan tambahan bagi mahasiswa sesuai minatnya.

Sekali lagi INSTIPER dan AKPY, sedang memulai sebuah ekosistem model pendidikan baru, dengan cara-cara baru, proses bisnis baru dan model bisnis baru. Yayasan saat ini juga telah mendirikan perusahaan untuk “professional traning”, kalau saat ini dilakukan dibawah kelola INSTIPER dan AKPY. Pada saat nya akan dikelola secara khusus melalui PT Stiper Eco Agro Industri (SEAI). Seperti disampaikan untuk kebutuhan transformasi perusahaan membutuhkan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM-nya, dan PT SEAI siap untuk membantu menyiapkannya melalui training-training yang bersifat regular maupun kebutuhan khusus masing-masing perusahaan.

SI: Sudah beberapa tahun BPDP telah mendukung pemenuhan kebutuhan SDM kelapa sawit, apakah sudah mencukupi program yang telah dijalankannya?

P: Tentu saja masih jauh untuk memenuhi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan SDM “pertani entrepreneur” dan SDM yang dibutuhkan untuk mengelola kelembagaan petani “manajer kelembagaan petani”. Kita harus bersungguh-sungguh untuk membangun kelembagaan petani, karena tanpa kelembagaan petani, intervensi untuk peningkatan kapasitas petani tidak akan bisa berjalan. Oleh karena itu, kelembagaan petani harus dibangun melalui penyiapan perangkat Sistem Informasi Manajemen dan SDM yang mengelolanya. Dukungan BPDP harus fokus untuk ini, karena bagi perusahaan SDM tentu sudah bisa dicukupi sesuai kebutuhan komptensi dan karakter bisnis masing-masing. Selanjutnya seleksi lembaga pendidikan juga harus komprehensif, utamanya “rekam jejak” proses pendidikan dan keterimaan lulusan di dunia kerja. Apalagi untuk kebutuhan pengembangan kompetensi baru “planter plus” perlu betul-betul cermat untuk memilih Lembaga Pendidikan yang siap. Ingat produk SDM yang dalam 1-4 tahun dididik akan mengelola teknologi yang sudah dan akan berkembang di dua hingga lima tahun mendatang dan bahkan 10-15 tahun mendatang karena SDM yang akan dididik ini akan berkarya hingga 30-40 tahun ke depan.

Artikel Terkait